Cari Blog Ini

Senin, 04 Juni 2012

PENGERTIAN, HAKIKAT, DAN CIRI SASTRA ANAK

A. Hakikat Sastra Anak Sastra mengandung eksplorasi mengenai kebenaran kemanusiaan. Sastra juga menawarkan berbagai bentuk kisah yang merangsang pembaca untuk berbuat sesuatu. Apalagi pembacanya adalah anak-anak yang fantasinya baru berkembang dan menerima segala macam cerita terlepas dari cerita itu masuk akal atau tidak. Sebagai karya sastra tentulah berusaha menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan, mempertahankan, serta menyebarluaskannya termasuk kepada anak-anak. Sesuai dengan sasaran pembacanya, sastra anak dituntut untuk dikemas dalam bentuk yang berbeda dari sastra orang dewasa hingga dapat diterima anak dan dipahami mereka dengan baik. Sastra anak merupakan pembayangan atau pelukisan kehidupan anak yang imajinatif ke dalam bentuk struktur bahasa anak. Sastra anak merupakan sastra yang ditujukan untuk anak, bukan sastra tentang anak. Sastra tentang anak bisa saja isinya tidak sesuai untuk anak-anak, tetapi sastra untuk anak sudah tentu sengaja dan disesuaikan untuk anak-anak selaku pembacanya. (Puryanto, 2008: 2) Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia antara 6-13 tahun. Seperti pada jenis karya sastra umumnya, sastra anak juga berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak. Fungsi hiburan dalam sastra anak dapat membuat anak merasa bahagia atau senang membaca, senang dan gembira mendengarkan cerita ketika dibacakan atau dideklamasikan, dan mendapatkan kenikmatan atau kepuasan batin sehingga menuntun kecerdasan emosinya. (Wahidin, 2009) Menurut Hunt (dalam Witakania, 2008: 8) mendefinisikan sastra anak sebagai buku bacaan yang dibaca oleh, yang secara khusus cocok untuk, dan yang secara khusus pula memuaskan sekelompok anggota yang kini disebut anak. Jadi sastra anak adalah buku bacaan yang sengaja ditulis untuk dibaca anak-anak. Isi buku tersebut harus sesuai dengan minat dan dunia anak-anak, sesuai dengan tingkat perkembangan emosional dan intelektual anak, sehingga dapat memuaskan mereka. Tarigan (1995: 5) mengakatakan bahwa buku anak-anak adalah buku yang menempatkan mata anak-anak sebagai pengamat utama, mata anak-anak sebagai fokusnya. Sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak masa kini, yang dapat dilihat dan dipahami melalui mata anak-anak. Sifat sastra anak adalah imajinasi semata, bukan berdasarkan pada fakta. Unsur imajinasi ini sangat menonjol dalam sastra anak. Hakikat sastra anak harus sesuai dengan dunia dan alam kehidupan anak-anak yang khas milik mereka dan bukan milik orang dewasa. Sastra anak bertumpu dan bermula pada penyajian nilai dan imbauan tertentu yang dianggap sebagai pedoman tingkah laku dalam kehidupan. (Wahidin, 2009) Perkembangan anak akan berjalan wajar dan sesuai dengan periodenya bila disugui bahan bacaan yang sesuai pula. Sastra yang akan dikonsumsikan bagi anak harus mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada di sekitar mereka atau ada di dunia mereka, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasanya mudah dipahami tapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut pandang orang yang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak. (Puryanto, 2008: 2) Sarumpaet (dalam Puryanto, 2008: 3) mengatakan persoalan-persoalan yang menyangkut masalah seks, cinta yang erotis, kebencian, kekerasan dan prasangka, serta masalah hidup mati tidak didapati sebagai tema dalam bacaan anak. Begitu pula pembicaraan mengenai perceraian, penggunaan obat terlarang, ataupun perkosaan merupakan hal yang dihindari dalam bacaan anak. Artinya, tema-tema yang disebut tidaklah perlu dikonsumsi oleh anak. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, tema-tema bacaan anak pun berkembang dan semakin bervariasi. Jenis-jenis bacaan anak misalnya, pada sepuluh tahun yang lalu sangat sedikit atau bahkan tidak ada, sangat mungkin telah hadir sebagai bacaan yang populer tahun-tahun belakangan ini. Jenis sastra anak meliputi prosa, puisi, dan drama. Jenis prosa dan puisi dalam sastra anak sangat menonjol. Berdasarkan kehadiran tokoh utamanya, sastra anak dapat dibedakan atas tiga hal, yaitu: (1) sastra anak yang mengetengahkan tokoh utama benda mati, (2) sastra anak yang mengetengahkan tokoh utamanya makhluk hidup selain manusia, dan (3) sastra anak yang menghadirkan tokoh utama yang berasal dari manusia itu sendiri. (Wahidin, 2008) Ditinjau dari sasaran pembacanya, sastra anak dapat dibedakan antara sastra anak untuk sasaran pembaca kelas awal, menengah, dan kelas akhir atau kelas tinggi. Sastra anak secara umum meliputi (1) buku bergambar, (2) cerita rakyat, baik berupa cerita binatang, dongeng, legenda, maupun mite, (3) fiksi sejarah, (4) fiksi realistik, (5) fiksi ilmiah, (6) cerita fantasi, dan (7) biografi. Selain berupa cerita, sastra anak juga berupa puisi yang lebih banyak menggambarkan keindahan paduan bunyi kebahasaan, pilihan kata dan ungkapan, sementara isinya berupa ungkapan perasaan, gagasan, penggambaran obyek ataupun peristiwa yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. (Saryono dalam Puryanto, 2008: 3) B. Ciri Sastra Anak Menurut Puryanto (2008: 7) secara garis besar, ciri dan syarat sastra anak adalah: 1. Cerita anak mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada di sekitar atau ada di dunia anak, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasanya mudah dipahami tapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut pandang orang yang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak. 2. Puisi anak mengandung tema yang menyentuh, ritme yang meriangkan anak, tidak terlalu panjang, ada rima dan bunyi yang serasi dan indah, serta isinya bisa menambah wawasan pikiran anak. Buku anak-anak biasanya mencerminkan masalah-masalah masa kini. Hal-hal yang dibaca oleh anak-anak dalam koran, yang ditontonnya dilayar televisi dan di bioskop, cenderung pada masalah-masalah masa kini. Bahkan yang dialaminya di rumah pun adalah situasi masa kini. (Tarigan, 1995: 5)

Minggu, 03 Juni 2012

PEYUNTINGAN

Materi Penyuntingan Kata penyuntingan berarti proses, cara, perbuatan menyunting atau sunting-menyunting (sunting-menyunting berarti perbuatan atau pekerjaan menyunting). Penyuntingan merupakan proses membaca, mencermati, memperbaiki naskah yang telah dikirim seorang penulis naskah sehingga naskah tersebut siap untuk dimuat atau diterbitkan oleh sebuah penerbitan. Pada media noncetak, penyuntingan merupakan proses membaca, mencermati, memperbaiki naskah yang telah dikirim seorang penulis naskah sehingga naskah tersebut siap untuk disiarkan dan ditayangkan oleh media audio dan visual. Tujuan penyuntingan, baik untuk media cetak maupun noncetak, adalah: (1) membuat naskah bersih dari kesalahan kebahasaan dan isi materi dengan persetujuan penulis naskah, (2) membuat naskah yang akan dimuat, diterbitkan atau disiarkan dan ditayangkan lebih mudah dan enak dicerna, (3) menjadi jembatan yang dapat menghubungkan ide dan gagasan penulis dengan pembaca, pendengar, dan penonton, (4) mengolah naskah hingga layak terbit (siar untuk media noncetak) sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan dan dipersyaratkan oleh penerbit atau penyelenggara program siaran. Manfaat penyuntingan dapat dirasakan oleh 3 pihak yang terkait langsung, yakni penerbit (penyelenggara program siaran), penulis, dan pembaca (pendengar dan penonton). Ada banyak tahap penyuntingan sebelum naskah redaksi sampai ke tangan pembaca. Tujuannya adalah berita yang dimuat di surat kabar atau majalah menarik, enak dibaca, akurat; tidak ada kesalahan penggunaan ejaan, tanda baca, tata bahasa, pemilihan dan penggunaan kata. Lalu, apa yang dimaksud dengan editing? Apakah kegiatan para redaktur merencanakan isi surat kabar teramsuk bagian dari kerja editing? Bagaimana dengan aktivitas editing di penerbit buku? 1. Editing, Editor, Redaktur Kata editing berasal dari bahasa Inggris yang artinya: - pertama, menyiapkan naskah tulisan untuk diterbitkan atau dipresentasikan, dengan mengoreksi, merevisi, atau mengadaptasi. - Kedua, menyiapkan sebuah edisi untuk diterbitkan, misalnya kumpulan cerita pendek atau kumpulan artikel. - Ketiga, mengarahkan penerbitan (surat kabar atau majalah). - Keempat, menggabungkan unsur-unsur (film atau musik) dengan cara memotong- motong dan memasang kembali. - Kelima, mengurangi; menghapus bagian tertentu dari skenario film. Editing, dalam bahasa Indonesia, dipadankan dengan kata-bentukan penyuntingan; berasal dari kata-dasar sunting. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata kerja menyunting memiliki tiga arti. • Pertama, menyiapkan naskah siap cetak atau siap untuk diterbitkan dengan memperhatikan segi sistematika penyajian, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur kalimat). • Kedua, merencanakan dan mengarahkan penerbitan (surat kabar, majalah). • Dan ketiga, menyusun atau merakit (film, pita rekaman) dengan cara memotong-motong dan memasang kembali. Adapun kata penyuntingan, menurut KBBI, memiliki arti: proses, cara, perbuatan sunting-menyunting; segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan menyunting; pengeditan. Orang yang melakukan editing disebut editor. Samakah editor dan redaktur? Sama. Istilah editor diserap dari bahasa Inggris, sementara redaktur merupakan serapan dari bahasa Belanda, redacteur. Berdasarkan definisi tersebut, dapat kita katakan bahwa editing memiliki ruang lingkup yang luas. Rapat para redaktur merencanakan pemberitaan sebuah koran merupakan bagian dari kerja editing. Mereka melakukan pekerjaan awal dalam rangka mendapatkan naskah. Adapun para redaktur membaca naskah berita, memperbaiki kalimat demi kalimat, memperlancar transisi antarparagraf, memeriksa kembali fakta berita, mengecek akurasi data, menghapus pernyataan narasumber yang dianggap tidak perlu, merupakan pekerjaan editing. Begitu pula dengan yang dilakukan redaktur bahasa: membenarkan ejaan dan tanda baca yang salah, memperbaiki kesalahan tata bahasa, membenarkan penggunaan kata yang tidak tepat, merupakan pekerjaan editing. Korektor yang memeriksa kembali tulisan yang sudah di-layout pun termasuk pekerjaan editing. 2. Editor di Penerbit Buku Bagaimana dengan aktivitas penyuntingan di penerbit buku? Dibandingkan dengan editing di media cetak; ruang lingkup editing di penerbit buku jauh lebih luas. Mungkin Anda pernah mendengar sejumlah istilah berkaitan dengan editing di penerbitan buku—yang biasa dipakai di luar negeri. Ada istilah acquisitions editing, copyediting, permissions editing, proofreading, dan fact checking. Seorang editor di penerbit buku, misalnya, sedang mempelajari data pemasaran buku, tren perbukuan, dan buku-buku dari penerbit lain. Selain itu, ia juga mengamati peristiwa-peristiwa besar yang terjadi saat itu. Siapa tahu, peristiwa tersebut bisa ditulis menjadi buku. Selanjutnya, ia mencari penulis untuk menyusun sebuah buku yang bakal laris manis. Aktivitas editor tersebut termasuk pekerjaan editing—yang dinamakan acquisitions editing. Untuk pekerjaan yang satu ini, jangan heran jika editor lebih banyak berada di luar kantor. Suatu ketika, ia berada di tengah-tengah peserta seminar perbukuan. Pada saat yang lain, ia mengikuti acara bedah buku yang diselenggarakan di sebuah kafe. Ketika berada di kantor, ia tampak sibuk menelepon ke beberapa penulis buku. Kalau ada pameran buku, jangan tanya, ia selalu menyempatkan hadir. Acara peluncuran buku merupakan kesempatan untuk lobi-lobi—tak sekadar menjadi peserta pasif. Biasanya, acara seperti itu dihadiri para penulis buku, editor, pemerhati masalah perbukuan, pecinta buku, distributor buku, dan lain-lain. Pendek kata, editor buku selalu menyempatkan hadir pada kegiatan yang berkaitan dengan perbukuan. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk memperoleh informasi seputar tren perbukuan, menjalin lobi dengan para penulis, mengetahui minat pembaca terhadap jenis buku. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan naskah buku. Setelah memperoleh naskah, editor menyerahkannya kepada rekannya yang memang spesialis menyunting naskah. Editor yang satu ini biasa disebut penyunting naskah atau kopieditor (copyeditor). Ia lebih banyak berada di kantor, di depan komputer menyunting naskah. Secara umum, penyuntingan naskah (copyediting) meliputi pemeriksaan kesalahan ejaan, tata bahasa, tanda baca, konsistensi gaya bahasa, dan mengevaluasi teknik penulisan yang membingungkan, memberikan kritik singkat atas naskah untuk panduan penulis dalam melakukan editing sendiri (self-editing) di masa-masa mendatang. Selain itu, penyuntingan naskah juga meliputi menanyakan kepada penulis tentang pernyataan yang membingungkan, meminta usulan kepada penulis ketika si editor menemukan makna yang kurang jelas. Selain itu, seorang editor boleh juga menyertakan jawaban penulis ke dalam naskah yang sedang diedit—pekerjaan ini dikenal sebagai cleanup editing. Penyuntingan naskah memiliki tiga level yaitu ringan, menengah, dan berat. Penjenjangan ini biasa dilakukan penerbit atau agen penyedia layanan penyuntingan di luar negeri. Di Indonesia pada umumnya tidak dikenal pelevelan tersebut. Dunia penerbitan buku di Indonesia hanya mengenal penyuntingan naskah tanpa memperhatikan level ringan, menengah, dan berat. Seorang editor naskah menguasai ketiga level tersebut. Baiklah, berikut ini uraian ketiga level penyuntingan naskah. Level yang ringan dalam bahasa Inggris dinamakan light copyediting atau baseline editing. Editor naskah pada level ini bertugas, pertama, memperbaiki kesalahan ejaan, tata bahasa, dan tanda baca. Kedua, memeriksa referensi yang dipergunakan penulis. Ketiga, meyakinkan konsistensi penggunaan ejaan. Keempat, memeriksa peruntunan seperti urutan alfabetis di dalam daftar. Kelima, memeriksa bagian-bagian naskah yang mungkin hilang dan memeriksa salah ketik. Pada level ini, editor tidak melakukan campur tangan seperti memperhalus transisi antarkalimat atau mengubah judul atau teks tertentu untuk menyesuaikan struktur. Berikutnya penyuntingan naskah level menengah (medium copyediting), selain melakukan tugas pada level ringan, juga, pertama, mengubah teks dan judul untuk mendapatkan struktur yang sesuai. Kedua, membetulkan kata kiasan yang tidak sesuai. Ketiga, memastikan bahwa istilah kunci sudah tertangani secara konsisten. Keempat, memastikan bahwa kata pengantar dan ringkasan sudah mencerminkan isi. Kelima, melacak kesinambungan alur cerita, latar, watak tokoh cerita, dan pertentangan yang meragukan, di dalam naskah fiksi. Keenam, membuat gaya dan nada yang ajek pada naskah yang ditulis oleh beberapa penulis. Ketujuh, jika diperlukan mengubah kata kerja intransitif menjadi kata kerja transitif. Kedelapan, membetulkan penyataan yang rancu atau tidak tepat. Yang terakhir, level berat, yang dalam bahasa Inggris disebut heavy copyediting atau substantive editing, berhubungan dengan penulisan ulang dan mengorganisasi kembali sebuah naskah, termasuk membuat isi akurat dan logis, memeriksa pemborosan, pengulangan frasa, konsistensi, organisasi tulisan, alur, dan kejelasan. Bila diperinci lagi, tugas penyuntingan level berat ini meliputi, pertama, melakukan seluruh pekerjaan untuk medium copyediting. Kedua, mengurangi atau menghapus sebagian kata atau kalimat yang tidak perlu, menghilangkan jargon-jargon yang sudah basi atau tidak tepat. Ketiga, memperlancar transisi antarkalimat agar lebih mudah dibaca. Keempat, memperbaiki struktur kalimat yang tidak logis. Kelima, memberikan saran kepada penulis untuk menambahkan atau mengurangi kalimat dan paragraf. Ada kalanya naskah yang sedang disunting memuat atau mengutip sebagian atau seluruh teks dari karya yang terbit sebelumnya. Dalam sebuah penerbit buku, kadang ada editor yang pekerjaannya meminta izin mengutip sebagian atau suluruh teks dari karya yang terbit sebelumnya. Ini biasa disebut permissions editing. Pada tahap berikutnya, ketika sudah selesai disunting oleh kopieditor, naskah tersebut di-setting atau di-layout oleh bagian desain. Apakah naskah yang sudah di-layout atau di-setting sudah siap cetak? Belum. Ada lagi pekerjaan yang disebut proofreading. Orang yang melakukan pekerjaan ini disebut proofreader atau korektor. Tugasnya adalah memeriksa naskah yang sudah diedit oleh penyunting naskah untuk memperbaiki kesalahan dan ketidakajelasan yang masih tersisa. Korektor menandai susunan huruf demi huruf pada naskah, mengidentifikasi penyimpangan atau kesalahan untuk diperbaiki dan kesalahan penyuntingan yang lain. Korektor juga memeriksa naskah untuk disesuaikan dengan spesifikasi gaya bahasa dan memastikan tipografi dengan mengecek sisi kanan dan kiri, spasi antarkata, pengulangan pemenggalan kata, dan lain-lain. Dalam kasus tertentu, misalnya proses produksi yang terlambat, seorang korektor bisa juga mengerjakan tugas penyunting naskah, yaitu memperbaiki kesalahan ejaan, kesalahan angka, ketidakcocokan subyek-kata kerja, kesalahan penggunaan kata, dan mengidentifikasi rujukan yang salah. Kelayakan terbit suatu buku, majalah, dan sebagainya di penerbitan didasarkan kondisi bahwa buku atau tulisan tersebut tidak mengganggu ketertiban umum. Hal yang mengganggu ketenteraman umum itu adalah 1. Bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 2. Mengandung dan menyebarkan ajaran/paham Marxisme/Leninisme/ Komu¬nisme yang dilarang dengan TAP MPR Nomor XXV/MPR/1966, 3. Merusak kesatuan dan persatuan masyarakat, bangsa, dan negara kesatuan Republik Indonesia, 4. Merusak kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan nasional, 5. Tulisan dan gambar yang merusak akhlak dan memajukan percabulan atau Porno, 6. Memberi kesan anti-Tuhan, antiagama, dan penghinaan terhadap salah satu agama yang diakui di Indonesia sehingga merupakan penodaan serta merusak kerukunan hidup beragama, 7. Merugikan dan merusak pelaksanaan pembangunan, 8. Menimbulkan pertentangan SARA, 9. Bertentangan dengan undang-undang yang berlaku. Dari uraian di atas jelaslah bahwa naskah atau tulisan yang layak terbit adalah naskah atau tulisan yang bebas dari sembilan butir persoalan di atas

WACANA

Kursi mewah yang banyak dipaki di hotel, vila, dan rumah-rumah mewah di luar negeri itu ternyata berasal dari Cirebon. Barang itu merupakan hasil karya tangan dan jiwa seni anak-anak desa di daerah Cirebon. Dengan alat sederhana, para perajin memotong-motong rotan. Kemudian menciptakan berbagai bentuk kerangka kursi dan meja. Setelah kerangka itu diampelas, lalu dipasang anyaman yang terbuat dari kertas semen. Dengan demikian, terbentuklah anyaman tali kertas seperti lembaran kertas yang disebut loom. Bahan baku berupa lembaran anyaman kertas ini masih didatangkan dari Eropa. 1. Jenis wacana diatas adalah wacana Deskriptif Alasanya mengapa wacana diatas termaksud wacana Deskriptif karena wacana tersebut berupa rangkaian tuturan yang memaparkan sesuatu atau melukiskan sesuatu, baik berdasarkan pengalaman , maupun pengetahuan penuturnya. 2. Analisis Konteks wacana diatas yakni, menurut Halliday (1994 : 16-17) ada tiga konsep untuk menafsirkan konteks situasi dalam wacana: a. Medan wacana diatas adalah hasil karya tangan b. Pelibat wacana diatas adalah kursi mewah dan hasil karya tangan. Kursi mewah sebagai hasil produk dan hasil karya tangan yang membuat produk. Hubungan mereka adalah hubungan antara pembuat kerajinan tangan dan hasil dari kerajinan tangan. c. Sarana wacananya adalah bersifat tulisan, karena wacana di atas hanya menceritakan kedudukan yang di milikinya dan fungsinya dalam teks. 3. a. Topik dari wacana diatas adalah. Hasil karya tangan b. Tema wacana diatas adalah pembuatan kerajinan tangan. c. Judulnya adalah hasil kerajinan tangan daerah Cirebon. 4. Analisis koherensinya, pada wacana dibawah ini ! Kursi mewah yang banyak dipaki di hotel, vila, dan rumah-rumah mewah di luar negeri itu ternyata berasal dari Cirebon. Barang itu merupakan hasil karya tangan dan jiwa seni anak-anak desa di daerah Cirebon. Dengan alat sederhana, para perajin memotong-motong rotan. Kemudian menciptakan berbagai bentuk kerangka kursi dan meja. Setelah kerangka itu diampelas, lalu dipasang anyaman yang terbuat dari kertas semen. Kertas semen itu dipilih-pilih menjadi seutas tali, lalu dianyam. Tali itu dianyam dengan mesin pada kawat yang telah di bungkus kertas semen. Dengan demikian, terbentuklah anyaman tali kertas seperti lembaran kertas yang disebut loom. Bahan baku berupa lembaran anyaman kertas ini masih didatangkan dari Eropa. hhh Hubungan makna Instrumen k Hubungan makna tempo Hubungan makna Tempo Keterangan : 1. Kalimat 1 dan 2 tidak koheren, namun memiliki keterkaitan makna. 2. Kalimat 2 dan 3 memiliki hubungan makna yang ditandai dengan kata “dengan” yang termaksud hubungan makna Instrumen. 3. Kalimat 3 dan 4 ada hubungan makna tempo yang ditandai dengan kata “kemudian”. 4. Kalimat 4 dan 5 memiliki hubungan makna Tempo yang ditandai dengan kata “setelah”. 5. Kalimat 5 dan 6 tidak memiliki koheren, tetapi masih memiliki hubungan makna yaitu, apabila dihubungkan maka kata yang cocok yakni kata “kemudian” yang termaksud makna Tempo. 6. Kalimat 6 dan 7 tidak koheren, namun masih memiliki hubungan makna. Maka makna yang dihubungkan adalah kata “kemudian” yang termaksud hubungan makna Tempo. 7. Kalimat 7 dan 8 tidak koheren tetapi masih memiliki keterkaitan makna. 8. Kalimat 8 dan 9 tidak koheren, tetapi ada makna yang dapat dihubungankan yaitu kata “padahal” yang termaksud makna kontras.

CERPEN

KU GORESKAN LUKA DI BINAR MATANYA Oleh: Chikita Nawaristika Cinta.. Dalam hidup ini kita pasti punya cinta. Tentunya cinta yang mengajarkan kita banyak hal menuju kebaikan, bukan cinta yang membawa kita terjerumus pada kesesatan. Cinta adalah bagaimana kita menghargai orang lain, menghargai perasaannya dan juga menghargai hatinya. Menghargai disini bukan berarti kita harus berbohong, tapi menghargai disini maksudnya adalah menghargai apa yang telah dia lakukan untuk kita. Jika kita tak mampu membalas kebaikannya, setidaknya jangan pernah menyakiti hatinya. Cinta itu ibarat bunga yang tertanam dari perkenalan, tumbuh karena pertemuan, berkelopak melalui kerinduan, berdaun karena pengorbanan, bertangkai lewat pengertian, bersemi karena kesetiaan, berputik melalui ketulusan, dan hingga akhirnya berbunga karena kepercayaan. Tapi, cinta itu akan layu karena kepalsuan, mati melalui perselingkuhan, dan pergi hanya karena ke-egoisan. Saat ini dalam sepi ku hanya terdiam, terpaku dan membisu. Hanya rangkaian butiran bening inilah yang selalu setia menemaniku di kala aku mengingatnya, mengingat segala kenangan indah dan pedih yang telah ku lalui bersamanya. Aku tau semua emang udah terjadi, tapi penyesalan dan rasa bersalah ini tak akan pernah hilang dari benakku. Aku tak akan mampu menghapusnya dari bayangku, aku tak mampu melupakan semua kejadian itu dan aku tak akan pernah mampu membuang semua kenangan itu begitu saja. *** Namaku Rigasta Ferraldy Priandika, teman-teman biasa memanggilku Gasta. Aku seorang remaja muda yang selalu berusaha untuk memperbaiki diri. Karena aku menyadari, hidup itu bukan bicara tentang seberapa besar kesalahan kita di masa lalu, tapi hidup itu bicara tentang bagaimana kita di hari ini, bagaimana cara kita untuk memperbaiki diri dan bagaimana cara kita dalam menjalani hari-hari di masa yang akan datang. Aku memang selalu di liputi oleh rasa bersalah jika mengingat semua hal yang udah terjadi di masa laluku. Masa lalu yang mampu membuatku menjadi sosok seperti ini, sosok yang penyabar dan tak mudah marah, sosok yang tak pernah membiarkan ke-egoisan merajai diriku dan sosok yang selalu berusaha untuk berpikir positif. *** 3 tahun yang lalu, aku bertemu dengan sesosok permaisuri impianku. Sosok yang mampu memberi warna hidupku, sosok yang mampu membuatku seperti orang yang paling istimewa di dunia ini. Namanya Neyra Putri Aridya, kami bertemu di salah satu toko sepatu di Kota Malang. Hari itu aku ingin membeli sebuah sepatu untuk ku pakai sendiri. Dan tanpa ku duga, aku melihat Neyra tak sengaja menjatuhkan tumpukan sepatu yang di pajang di toko tersebut. Karena aku merasa tak tega membiarkannya membereskan sepatu-sepatu yang bergeletakan itu, aku pun membantunya. Sambil colongan ngeliyatin dia tentunya. Alangkah indah binar yang terlukis di matanya sehingga tak mampu membuatku memalingkan wajah. Jujur se-umur-umur aku gak pernah merasakan hal ini, jantungku gak pernah berdetak sebegitu kencangnya. Rasanya jantung ini seperti loncat-loncat, salto, jungkir balik, manjat-manjat, gelantungan, dan semacamnya. Entahlah, aku sendiri tak bisa mendeskripsikan sebagaimana gugupnya aku saat memandangnya, memandang binar indah dalam bola matanya. Dengan iseng aku meminta nomor hape dia. Dan kalian tau apa yang terjadi selanjutnya?? Tanpa aku duga sebelumnya. Aku berhasil mendapatkan nomor hape dia, dia memberikannya dengan seulas senyum penuh makna untukku. Dan saat itu juga jiwaku terasa melayang, aku begitu bahagia, bahagia sekali. Mungkin kedengarannya sedikit lebay, tapi itulah yang benar-benar ku rasakan. Sepertinya aku menyukainya, tapi apakah dia juga merasakan hal ini? Debaran si jantung yang tiada hentinya. *** Sejak pertemuan itu, hari-hariku selalu di penuhi oleh sms-sms dari dia. Kita jadi deket, makin deket dan tambah deket. Dia begitu ramah kepadaku, dia begitu baik kepadaku, dan dia begitu perhatian. Apa dia juga menyukaiku? Entahlah, aku tak mau berharap banyak soal hal ini, tapi klo beneran terjadi, aku pasti akan sangat sangat bahagia dan aku akan selalu menjaganya dengan sepenuh hatiku. From : Neyra Gas, kamu mau gak jalan-jalan sama aku? To : Neyra Kemana, ra? From : Neyra Ke alun-alun kota aja gimana? Deket toko yang waktu itu? To : Neyra Iyadeh, ra.. tapi aku mandi dulu ya.. From : Neyra Oke, Gasta.. aku tunggu disana yaa.. Ya Tuhan, dia ngajak aku jalan? Tanpa berpikir panjang, aku mengiyakan ajakannya itu, meskipun aku sama sekali tak menduga hal ini. Aku segera mandi dan aku bergegas ke tempat yang di-inginkan oleh Neyra. Sebenernya aku udah lama menantikan saat-saat ini. Saat dimana dia mengajakku keluar, saat dimana kita bisa pergi berdua-an. Karena aku ingin mengungkapkan isi hatiku kepadanya, isi hati yang begitu menginginkan dirinya menjadi pelukis di hari-hariku, pelukis keindahan dalam hidupku. Sesampainya disana kami pun berjalan ke arah air mancur di jantung alun-alun itu. “Tumben nih, Ra tiba-tiba ngajak aku jalan? Kamu gak malu tah jalan sama aku?” tanyaku yang masih saja dipenuhi rasa terheran-heran. “Aku pengen ngomong berdua sama kamu, Gas. Malu? Kenapa musti malu? Aku gak akan malu lagi klo jalan sama kamu, malah aku seneng, soalnya klo sama kamu, aku bisa jadi diriku sendiri.” Neyra menjawab pertanyaanku dan begitu membesarkan hatiku. Tanpa dia sadari, jawaban yang keluar dari bibir indahnya atas pertanyaanku itu telah berhasil membuat jantungku kembali berdetak begitu kencang. Rasanya seperti ada energi tambahan, energi yang semakin meyakinkanku untuk bisa mengungkapkan rasa yang telah tertanam dalam hati ini untuknya. Tapi tanpa ku duga, tangan Neyra tiba-tiba menggapai tanganku, dia menggenggam tangan ini dan dia bilang.. “Gas, seumpama kamu jadi pacar aku, kamu mau apa nggak?” oh my god, apa dia nembak aku duluan? Kenapa bisa jadi gini? Harusnya kan aku yang nembak dia hari ini. “Klo seumpama ya gak mau, Ra. Tapi klo beneran ya mau akunya, hehehe..” jawabku dengan nada yang enteng dan terkesan bercanda, padahal aslinya nih jantung udah dag dig dug bangetttt. “Aku serius Gas, kamu mau apa nggak jadi pacar aku?” Neyra mengulangi perkataannya dengan nada yang begitu serius. Tanpa pikir panjang, aku pun segera mengiyakan pertanyaan itu. “Mau banget dong, Ra. Siapa coba yang gak mau punya pacar yang cantik banget kayak kamu.” Iya, aku menerimanya, aku menerima dia menjadi pacarku, kekasihku, unyu-unyuku, hahahaha. *** Hubungan kami pun berjalan dengan apa adanya, tak pernah ada pertengkaran di antara kami. Karena kami membuat janji ‘gak boleh ada air mata dalam hubungan ini’ soalnya si Neyra kan sekolah, dia gak mau aja klo masalah hubungannya denganku mengganggu sekolahnya. Aku pun selalu berusaha jadi kekasih yang terbaik buat Neyra, aku gak mau membuatnya kecewa, karena aku tulus menyayangi dia. Tak terasa hubungan kami pun terus berlanjut sampai satu tahun sejak tanggal 15 Maret 2009. Hari itu 15 Maret 2010, aku mengajak Neyra ke Gunung Bromo untuk merayakan hari jadian kita. Kalian mau tau kenapa aku memilih tempat itu? Jawabnya karena Neyra belom pernah kesana. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengenalkan kepadanya tempat itu, yang mewujudkan keinginannya untuk bisa menginjakkan kaki di tempat yang penuh keindahan tersebut. Hari itu rasanya aku menjadi orang yang paling spesial buat dia. Kita berdiri di penanjakan dan ini seperti sebuah mimpi yang menjadi nyata. Aku beneran memilikinya, aku beneran bersama dia, dan dia bener-bener menyayangiku. “Seumpama aku di suruh milih suami, aku akan milih suami yang kayak kamu sayang, soalnya kamu itu bukan sekedar pacarku aja, tapi kamu juga bisa jadi temen curhat aku, aku bisa terbuka sama kamu.” Ucapnya seraya mencium pipiku. Akunya sih cuma senyum-senyum aja, tak ada keberanian sedikitpun untuk aku menjawab perkataan Neyra, soalnya aku begitu terkejut, aku gak nyangka banget dia bakalan kayak gitu. Rasa malu dia seperti hilang begitu aja hari itu, padahal di penanjakan itu banyak orang, tapi entah kenapa dia seakan tak mempedulikan mereka, dia tetap mencium pipiku dengan lembut dan tentunya dengan penuh kasih sayang. *** Tapi rasa ini menjadi sedikit terusik di saat ulang tahun dia yang ke-18, tepatnya tanggal 25 Juli 2010. Aku merasakan ada hal yang berbeda pada diri dia. Bukannya berpikir negatif, tapi aku memang tak bisa membohongi apa yang telah aku rasakan. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal, sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Sampai akhirnya, seminggu sebelum ulang tahunku, pertengkaran pun terjadi di antara kami, aku mendapati dia sedang berhubungan dengan seorang cowok. Hal ini aku ketahui setelah aku mengambil secara paksa hape dia, karena aku begitu mencurigai semua sikap aneh dia akhir-akhir ini. “Ini siapa??” tanyaku dengan nada yang penuh emosi. “Dia cewek, dia temen satu sekolah aku.” “Tapi kenapa cewek namanya Vian? Kenapa sih kamu gak jujur aja sama aku? Aku kurang perhatian yah sama kamu?” Ucapku dengan nada bicara yang penuh dengan tanda tanya. Sementara Neyra tak sedikitpun menjawab tanyaku, dia hanya terdiam dan menangis. “Udah gini aja, sekarang kamu maunya apa? Klo emang mau putus, ngomong sekarang aja, biar aku gak kepikiran terus.” Lanjutku seraya membentak dia. Mendengar perkataanku itu, Neyra langsung pingsan. Aku panik, aku bingung, dia kenapa? Ada apa dengan dia? Apa aku udah terlalu keras ngomong sama dia barusan? Aku pun langsung mengantarkannya pulang. *** Setelah kejadian hari itu, sama sekali tak ada kabar dari Neyra. Dua minggu pun telah kulalui tanpa dia. Di hari ulang tahunku juga tak ada ucapan dari dia untukku. Hingga hari itu, mama Neyra meneleponku. “Nak, Gasta bisa ke rumah sakit gak sekarang? Tante tunggu yah” ucap beliau di ujung sana dengan nada suara yang sedikit terbata. Rumah sakit? Ya Tuhan, ada apa dengan Neyra? Apa Neyra kenapa-kenapa? Tanpa berfikir panjang, aku pun segera bergegas menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, aku mendapati Mamanya Neyra sedang berdiri di depan Kamar Jenazah. Jantungku seperti tersentak, kenapa beliau berada disitu? Siapa yang meninggal? Beliau menyuruhku untuk memasuki ruangan itu. Kalian tau apa yang aku lihat? Aku melihat sesosok permaisuriku itu telah terbaring tak berdaya dengan wajah yang pucat. Seketika rasanya aku seperti hilang tenaga, aku ingin menangis, menangisi kepergiannya, menangisi kesalahanku yang menggoreskan luka di mata indahnya sebelum hari ini, hari dimana aku telah melihatnya terbujur kaku di Kamar Jenazah. Aku belum sempat mengucapkan kata maaf untuknya, aku belum sempat melihat senyumnya lagi, aku belum sempat melihat binar indah di bola matanya untuk yang terakhir kalinya. Aku gak ikhlas sama semua ini. Dengan masih di penuhi tanda tanya akan penyebab kepergian Neyra, aku turut mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir dia. Disana Mama Neyra menceritakan kepadaku, bahwa sebenernya Neyra mengidap kanker otak. Mengetahui hal itu aku jadi semakin terpukul. Setahuku orang yang menderita kanker otak kan gak boleh kebanyakan mikir, tapi aku malah membentak dia, sampai dia pingsan di hadapanku. Aku tak akan pernah bisa menghilangkan rasa bersalah ini. Aku begitu merasa bersalah, bersalah karena telah menggoreskan luka di binar matanya. Kesalahan yang membuat Neyra pergi untuk selamanya. Pesan terakhir dari Neyra untukku, dia ingin meminta maaf kepadaku karena telah membohongi aku tentang cowok yang biasa sms-an sama dia. Sebenernya dia hanya curhat aja sama cowok itu, dia hanya menceritakan hal yang gak bisa dia ceritakan kepadaku, tentang penyakitnya. Tanpa aku sadari selama 1 tahun lebih aku menjalin hubungan dengannya, dia menyembunyikan hal itu kepadaku, dia sama sekali tak menginginkan aku mengetahui tentang hal itu. Tapi apalah dayaku, semua udah terjadi, kemarahanku yang telah membuatnya koma selama 2 minggu sampai akhirnya dia menghembuskan nafas yang terakhir. *** Sepeninggal Neyra, sempat terlintas di benakku untuk bunuh diri, agar aku bisa menemui Neyra di alam sana, agar aku bisa menyampaikan kata maafku untuknya. Aku udah menyayatkan cutter di tanganku, tapi untung saja tak sampai membuat urat nadiku terputus, karena aku menyadari apa yang akan aku lakukan ini salah. Sampai sekarang, bekas sayatan ini masih membekas di pergelangan tanganku. Semoga ini bisa tetap mengingatkan aku, agar aku tak melakukan kesalahan lagi di hidupku yang selanjutnya. Selamat jalan permaisuriku, semoga kamu tenang di alam sana, semoga kamu memaafkanku. Aku disini akan tetap mengenangmu, mengenangmu sebagai hal terindah yang pernah ada di hidupku, hal terindah yang pernah terlukis dalam perjalananku yang fana ini. Karena aku telah belajar menyayangimu dengan sebuah rasa yang berbeda, bukan hanya dengan sekedar kata-kata. Karena aku telah menyayangimu dengan sebuah ketulusan, bukan dengan sebuah kepalsuan belaka. THE END

JENIS PEMBELAJARAN MENURUT PARA AHLI

Model-Model Pembelajaran Menurut Para Ahli 1. Joyce & Weil (1982) mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. 2. Definisi model pembelajaran dikemukakan oleh Zainsyah, A.E., dkk. (1984) yaitu suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur pengajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pengajaran atau setting lainnya. 3. Aronson, et. al., (1978) Model pembelajaran adalah seperangkat lengkap komponen strategi, yang merupakan metode lengkap dengan semua bagiannya yang dijelaskan secara rinci. 4. Slavin, (1995) model pembelajaran adalah seperangkat lengkap komponen strategi yang dapat memberikan hasil lebih baik di bawah kondisi tertentu. Sumber:http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2103271-beberapa model-pembelajaran-dan-langkah/#ixzz1oKylAvdM Metode pembelajaran menurut para ahli # ROTHWELL & KAZANAS Metode adalah cara, pendekatan, atau proses untuk menyampaikan informasi tentang suatu pembelajaran. # TITUS Metode adalah rangkaian cara dan langkah yang tertib dan terpola untuk menegaskan bidang keilmuan. # MACQUARIE Metode adalah suatu cara melakukan sesuatu, terutama yang berkenaan dengan rencana tertentu. # WIRADI Metode adalah seperangkat langkah (apa yang harus dikerjakan) yang tersusun secara sistematis (urutannya logis) # DRS. AGUS M. HARDJANA Metode adalah cara yang sudah dipikirkan masak-masak dan dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah tertentu guna mencapai tujuan yang hendak dicapai. Macam-Macam Metode Pembelajaran 1. Metode Ceramah Metode pembelajaran ceramah adalah penerangan secara lisan atas bahan pembelajaran kepada sekelompok pendengar untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu dalam jumlah yang relatif besar. 2. Metode Diskusi Metode pembelajaran diskusi adalah proses pelibatan dua orang peserta atau lebih untuk berinteraksi saling bertukar pendapat, dan atau saling mempertahankan pendapat dalam pemecahan masalah sehingga didapatkan kesepakatan diantara merekatif (Gagne & Briggs. 1979: 251). 3. Metode tanya jawab Metode tanya jawab dapat menarik dan memusatkan perhatian siswa. Dengan mengajukan pertanyaan yang terarah, siswa akan tertarik dalam mengembangkan daya pikir. 4. Metode belajar kooperatif Dalam metode ini terjadi interaksi antar anggota kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang. Semua anggota harus turut terlibat karena keberhasilan kelompok ditunjang oleh aktivitas anggotanya, sehingga anggota kelompok saling membantu. 5. Metode demonstrasi Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Metode pembelajaran demontrasi merupakan metode pembelajaran yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimana cara mengaturnya? Bagaimana proses bekerjanya? Bagaimana proses mengerjakannya. 6. Metode ekspositori atau pameran Metode ekspositori adalah suatu penyajian visual dengan menggunakan benda dua dimensi atau tiga dimensi, dengan maksud mengemukakan gagasan atau sebagai alat untuk membantu menyampaikan informasi yang diperlukan. 7. Metode penugasan Metode ini berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. 8. Metode eksperimen Metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran dengan menggunakan percobaan. Teknik Pembelajaran Teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama. Macam-macam tehnik pembelajaran: 1. Teknik Individual 2. Teknik Kelompok http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/comment-page-11/#comment-29517 Macam – Macam Pendekatan Pembelajaran 1. Pendekatan Kontekstual Pendekatan konstekstual berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami. 2. Pendekatan Konstruktivisme Kontruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual. Yaitu bahwa pendekatan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba(Suwarna,2005). 3. Pendekatan Deduktif – Induktif a. Pendekatan Deduktif Pendekatan deduktif ditandai dengan pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui wilayah persoalannya dan konsep dasarnya(Suwarna,2005). b. Pendekatan Induktif Ciri uatama pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperoleh pengertian. Data yang digunakan mungkin merupakan data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi dilingkungan. 4. Pendekatan Konsep dan Proses a. Pendekatan Konsep Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. b. Pendekatan Proses Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan.

Jumat, 01 Juni 2012

PERBEDAAN PENELITIAN KUANTITATIF DAN KUALITATIF

Perbedaan Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif Perbedaan mendasar dari metode penelitian kualitatif dengan metode penelitian kuantitatif yaitu terletak pada strategi dasar penelitiannya. Penelitian kuantitatif dipandang sebagai sesuatu yang bersifat konfirmasi dan deduktif, sedangkan penelitian kualitatif bersifat eksploratoris dan induktif. Bersifat konfirmasi disebabkan karena metode penelitian kuantitatif ini bersifat menguji hipotesis dari suatu teori yang telah ada. Penelitian bersifat mengkonfirmasi antara teori dengan kenyataan yang ada dengan mendasarkan pada data ilmiah baik dalam bentuk angka. Penarikan kesimpulan bersifat deduktif yaitu dari sesuatu yang bersifat umum ke sesuatu yang bersifat khusus. Hal ini berangkat dari teori-teori yang membangunnya. Hamidi menjelaskan setidaknya terdapat 12 perbedaan pendekatan kualitatif dengan kualitatif seperti berikut ini: 1. Dari segi perspektifnya penelitian kuantitatif lebih menggunakan pendekatan etik, dalam arti bahwa peneliti mengumpulkan data dengan menetapkan terlebih dahulu konsep sebagai variabel-variabel yang berhubungan yang berasal dari teori yang sudah ada yang dipilih oleh peneliti. Kemudian variabel tersebut dicari dan ditetapkan indikator-indikatornya. Hanya dari indikator yang telah ditetapkan tersebut dibuat kuesioner, pilihan jawaban dan skor-skornya.\ Sebaliknya penelitian kualitaif lebih menggunakan persepektif emik. Peneliti dalam hal ini mengumpulkan data berupa cerita rinci dari para informan dan diungkapkan apa adanya sesuai dengan bahasa dan pandangan informan. 2. Dari segi konsep atau teori, penelitian kuantitatif bertolak dari konsep (variabel) yang terdapat dalam teori yang dipilih oleh peneliti kemudian dicari datanya, melalui kuesioner untuk pengukuran variabel-variabelnya. Di sisi lain penelitian kualitatif berangkat dari penggalian data berupa pandangan responden dalam bentuk cerita rinci atau asli mereka, kemudian para responden bersama peneliti meberi penafsiran sehingga menciptakan konsep sebagai temuan. Secara sederhana penelitian kuantitatif berangkat dari konsep, teori atau menguji (retest) teori, sedangkan kualitatif mengembangkan ,menciptakan, menemukan konsep atau teori. 3. Dari segi hipotesis, penelitian kuantitatif merumuskan hipotesis sejak awal, yang berasal dari teori relevan yang telah dipilih, sedang penelitian kualitatif bisa menggunakan hipotesis dan bisa tanpa hipotesis. Jika ada maka hipotesis bisa ditemukan di tengah penggalian data, kemudian “dibuktikan” melalui pengumpulan data yang lebih mendalam lagi. 4. Dari segi teknik pengumpulan data, penelitian kuantitatif mengutamakan penggunaan kuisioner, sedang penelitaian kualitatif mengutamakan penggunaan wawancara dan observasi. 5. Dari segi permasalahan atau tujuan penelitian, penelitian kuantitatif menanyakan atau ingin mengetahui tingkat pengaruh, keeretan korelasi atau asosiasi antar variabel, atau kadar satu variabel dengan cara pengukuran, sedangkan penelitian kualitatif menanyakan atau ingin mengetahui tentang makna (berupa konsep) yang ada di balik cerita detail para responden dan latar sosial yang diteliti. 6. Dari segi teknik memperoleh jumlah (size) responden (sample) pendekatan kuantitatif ukuran (besar, jumlah) sampelnya bersifat representatif (perwakilan) dan diperoleh dengan menggunakan rumus, persentase atau tabel-populasi-sampel serta telah ditentukan sebelum pengumpulan data. Penelitian kualitatif jumlah respondennya diketahui ketika pengumpulan data mengalami kejenuhan. Pengumpulan datanya diawali dari mewawancarai informan-awal atau informan-kunci dan berhenti sampai pada responden yang kesekian sebagai sumber yang sudah tidak memberikan informasi baru lagi. Maksudnya berhenti sampai pada informan yang kesekian ketika informasinya sudah “tidak berkualitas lagi” melalui teknik bola salju (snow-ball), sebab informasi yang diberikan sama atau tidak bervariasi lagi dengan para informan sebelumnya. Jadi penelitian kualitatif jumlah responden atau informannya didasarkan pada suatu proses pencapaian kualitas informasi. 7. Dari segi alur pikir penarikan kesimpulan penelitian kuantitatif berproses secara deduktif, yakni dari penetapan variabel (konsep), kemudian pengumpulan data dan menyimpulkan. Di sisi lain, penelitian kualitatif berproses secara induktif, yakni prosesnya diawali dari upaya memperoleh data yang detail (riwayat hidup responden, life story, life sycle, berkenaan dengan topik atau masalah penelitian), tanpa evaluasi dan interpretasi, kemudian dikategori, diabstraksi serta dicari tema, konsep atau teori sebagai temuan. 8. Dari bentuk sajian data, penelitian kuantitatif berupa angka atau tabel, sedang penelitian kualitatif datanya disajikan dalam bentuk cerita detail sesuai bahasa dan pandangan responden. 9. Dari segi definisi operasional, penelitian kuantitatif menggunakannya, sedangkan penelitian kualitatif tidak perlu menggunakan, karena tidak akan mengukur variabel (definisi operasional adalah petunjuk bagaimana sebuah variabel diukur). Jika penelitian kualitatif menggunakan definisi operasional, berarti penelitian telah menggunakan perspektif etik bukan emik lagi. Dengan menetapkan definisi operasional, berarti peneliti telah menetapkan jenis dan jumlah indikator, yang berarti telah membatasi subjek penelitian mengemukakan pendapat, pengalaman atau pandangan mereka. 10. (Dari segi) analisis data penelitian kuantitatif dilakukan di akhir pengumpulan data dengan menggunakan perhitungan statistik, sedang penelitian kualitatif analisis datanya dilakukan sejak awal turun ke lokasi melakukan pengumpulan data, dengan cara “mengangsur atau menabung” informasi, mereduksi, mengelompokkan dan seterusnya sampai terakhir memberi interpretasi. 11. Dari segi instrumen, penelitian kualitatif memiliki instrumen berupa peneliti itu sendiri. Karena peneliti sebagai manusia dapat beradaptasi dengan para responden dan aktivitas mereka. Yang demikian sangat diperlukan agar responden sebagai sumber data menjadi lebih terbuka dalam memberikan informasi. Di sisi lain, pendekatan kuantitatif instrumennya adalah angket atau kuesioner. 12. Dari segi kesimpulan, penelitian kualitatif interpretasi data oleh peneliti melalui pengecekan dan kesepakatan dengan subjek penelitian, sebab merekalah yang yang lebih tepat untuk memberikan penjelasan terhadap data atau informasi yang telah diungkapkan. Peneliti memberikan penjelasan terhadap interpretasi yang dibuat, mengapa konsep tertentu dipilih. Bisa saja konsep tersebut merupakan istilah atau kata yang sering digunakan oleh para responden. Di sisi lain, penelitian kuantitatif “sepenuhnya” dilakukan oleh peneliti, berdasarkan hasil perhitungan atau analisis statistik.

PENGERTIAN MENYIMAK

Pengertian Menyimak Belajar berbahasa dimulai dari menyimak. Sejak manusia bayi, ia belajarbahasa ibunya. Mula-mula ia hanya banyak menyimak bunyi bahasa yangdiucapkan oleh ibunya, lama-kelamaan bunyi bahasa tersebut dikaitkan denganmakna. Setelah banyak menyimak, ia mulai meniru ucapan-ucapan yang pernahdisimaknya dan kemudian mencoba menerapkannya dalam pembicaraan. Dari situdapat terlihat bahwa keterampilan menyimak merupakan keterampilan yangsangat penting yang harus dimiliki seseorang sebelum keterampilan berbicara,membaca, dan menulis. Pada proses pembelajaran pun kegiatan yang pertama kalidilakukan oleh peserta didik dalam menerima materi adalah kegiatan menyimak sebelum melakukan kegiatan yang lain seperti membaca, berbicara, dan menulis.Menurut Anderson dalam Tarigan (1994:28) “menyimak sebagai proses besarmendengarkan, mengenal, serta menginterpretasikan lambang-lambang lisan”.Tarigan (1986:19) menyatakan bahwa menyimak adalah suatu proses kegiatanmendengarkan lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman,apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna yang tidak [sic!] disampaikan oleh si pembicara melalui ujaranatau bahasa lisan.Tarigan (1991:11) “menyimak diartikan sebagai suatu proses yang mencakupkegiatan mendengarkan, mengidentifikasi bunyi bahasa, menginterpretasi, menilaidan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya”.Hal tersebut juga disampaikan oleh Akhadi-at (1992:142) dalam Sutari, dkk (1997:18-19) bahwa menyimak ialah suatu proses yang mencakup kegiatanmendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterpretasikan, dan mereaksiatas makna yang terkandung di dalamnyaBerbeda dengan pendapat-pendapat di atas, Nurhadi (1995:339) membagipengertian menyimak menjadi dua, pertama, menyimak atau mendengarkandalam arti sempit mengacu pada proses mental pendengar yang menerima bunyiyang dirangsangkan oleh pembicara dan kemudian menyusun penafsiran apa yangdisimaknya, kedua, menyimak dalam pengertian luas mengacu pada proses bahwasi penyimak tidak hanya mengerti dan membuat penafsiran tentang apa yangdisimaknya, tetapi lebih dari itu ia berusaha melakukan apa yang diinformasikanoleh materi yang disimaknya.Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa menyimak adalahsuatu proses kegiatan mendengarkan dengan penuh perhatian dan pemahamanuntuk memperoleh suatu informasi dari menangkap isi atau pesan objek tertentuyang disampaikan oleh orang lain melalui bahasa lain Tahapan dalam Proses Menyimak Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan dengan penuhperhatian dan pemahaman untuk memperoleh suatu informasi dan menangkap isiatau pesan dari objek tertentu, maka dapat diambil simpulan bahwa menyimak adalah suatu proses. Menurut Loban dalam Tarigan (1991:15) proses menyimak terbagi atas tiga tahap yaitu pemahaman, penginterpretasian, dan penilaian.Sedangkan menurut Logan dan Greene dalam Tarigan (1991:15) membagi prosesmenyimak atas empat tahap yaitu mendengarkan, memahami, mengevaluasi, danmenanggapi. Dan Walker Morris dalam Tarigan (1991:15) membagi prosesmenyimak itu atas lima tahap yaitu mendengar, perhatian, persepsi, menilai, danmenanggapi.Dari beberapa pendapat ahli yang saling melengkapi di atas, maka prosesmenyimak dapat mencakup enam tahap yaitu: 1.mendengar. Dalam tahap mendengar, penyimak berusaha menangkap pesanpembicara yang sudah diterjemahkan dalam bentuk bahasa. Untuk menangkapbunyi bahasa itu diperlukan telinga yang peka dan perhatian terpusat 2.mengidentifikasi. Bunyi yang sudah ditangkap perlu diidentifikasi, dikenali,dan dikelompokkan menjadi suku kata, kata, kelompok kata, kalimat,paragraf, dan wacana. Pengidentifikasian bunyi bahasa akan semakinsempurna apabila penyimak memiliki kemampuan linguistik 3.menginterpretasi. Bunyi bahasa perlu diinterpretasikan maknanya. Perludiupayakan agar interpretasi makna ini sesuai atau mendekati makna yangdimaksudkan pembicara 4. memahami. Setelah proses penginterpretasian makna selesai, maka penyimak dituntut untuk memahami atau menghayati makna itu 5.menilai. Makna pesan yang sudah dipahami kemudian ditelaah, dikaji,dipertimbangkan, dikaitkan dengan pengalaman dan pengetahuan penyimak.Kualitas hasil penilaian sangat bergantung kepada kualitas pengalaman danpengetahuan penyimak, dan 6.menanggapi. Tanggapan atau reaksi penyimak terhadap pesan yangditerimanya dapat berwujud berbagai bentuk seperti mengangguk-angguk tanda setuju, menggeleng tanda tidak setuju, mencibir atau mengerjakansesuatu.