Cari Blog Ini

Jumat, 15 Juni 2012

PEMBELAJARAN MEMBACA BAIK

    Berdasarkan pengalaman peneliti pembelajaran membaca baik yang dialami sendiri maupun yang diketahui selama ini, model pembelajarannya selalu mengacu pada apa yang ada pada buku paket. Teknik pengajaran membaca yang ada umumnya membaca pemahaman. Banyak teknik pengajaran yang selama ini tidak dipergunakan untuk melatih keterampilan membaca. Teknik-teknik itu antara lain teknik uji rumpang. Kenyataan yang terjadi di samping kemampuan dan keterampilan yang kurang pada siswa, pengajaran membaca selalu mengacu pada teknik yang ada pada buku tersebut. Dengan demikian para siswa beranggapan pengajaran membaca tujuannya semata-mata menjawab pertanyaan, mencari kata istilah yang sulit dan lain-lain. Hal ini dihadapi para siswa dengan proses yang amat lain.
        Perihal lain yang selalu muncul pada pembelajaran membaca yaitu guru Bahasa Indonesia pada umumnya hanya mengutamakan penyelesaian target materi dalam kurikulum yang orientasinya mengacu pada usaha meningkatkan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal, walaupun hal ini tidak selalu benar sebab soal-soal sering  kurang mengacu pada keterampilan berbahasa baik keterampilan menyimak, berbicara,membaca, maupun menulis.
        Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah kurangnya guru Bahasa Indonesia memahami dan menguasai teknik pengajaran membaca. Belum lagi memilih bahan bacaan yang seharusnya dalam pengajaran membaca guru dituntut mampu memilih bahan bacaan yang sesuai dengan tujuan dan tingkat perkembangan siswa, kompetensi siswa, minat dan tingkat kecakapan baca.
        Peneliti berusaha mengungkap kecepatan efektif membaca ( KEM ) siswa, karena penulis sangat prihatin dengan KEM siswa di negara kita. Kalau di negara-negara maju seperti Amerika, seorang setara SMA di negara kita (Senior High School) dalam keadaan normal sudah memiliki kecepatan membaca minimal kurang lebih 250 kata permenit, dengan pemahaman isi bacaan minimal 70 %. Jika dihitung kecepatan efektif membacanya (KEM) = 250 kpm x 70 % = 175 kpm. (Harjasujana,200:88). Kalau di Amerika siswa setingkat SMA memiliki KEM terendah ± 175 kpm, maka di Indonesia masih tidak sedikit siswa SMA KEM tertinggi ± 175 kpm. Dari pengalaman peneliti membelajarkan siswa kelas XI IPA 2 SMAN ....................., ternyata hal tersebut di atas juga terjadi. Dengan KEM ± 175 kpm, lalu bagaimana bisa menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang diharapkan melalui berbagai media cetak dalam waktu yang relatif singkat.
        Berdasarkan uraian singkat di atas, peneliti mengambil tindakan, yaitu “Meningkatkan Kecepatan Efektif  Membaca Dengan Menggunakan Metode Klos Siswa Kelas XI  IPA  2  SMAN .....................”.
Peneliti memilih metode klos untuk meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) karena metode klos dapat dipakai untuk mengukur tingkat keterbacaan sebuah wacana dan untuk melatih keterampilan dan kemampuan membaca

KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA

Kata-kata kunci : Bahasa Indonesia, Kecepatan Efektif Membaca (KEM), dan Metode Klos

        Kecepatan efektif membaca mempunyai peranan yang sangat penting, karena dengan membaca cepat dan kemampuan memahami bacaan yang berkualitas seseorang bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
        Kebiasaan membaca bahasa Indonesia yang kurang baik berdampak negatif pada tingkat keterbacaan seseorang atau seorang siswa. Untuk mengatasi hal tersebut sangat dibutuhkan usaha dan kreatifitas guru. Penerapan metode Klos dalam pembelajaran membaca merupakan salah satu upaya memecahkan masalah tersebut. Tujuan penelitian tindakan kelas ini yaitu untuk meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) dengan menggunakan metode klos siswa kelas XI IPA SMA Negeri ...................
        Penelitian tindakan kelas ini mengambil setting di SMA Negeri ...................... kelas XI IPA 2, dengan jumlah siswa 40 siswa. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan melalui tiga siklus. Sebelum siklus I dilaksanakan perlu adanya pra tindakan yaitu identifikasi tentang metode klos dan Kecepatan Efektif Membaca (KEM), kemudian dilaksanakan siklus I sebagai penerapan metode klos, siklus II sebagai implementasi pelaksanaan metode klos, dan siklus III sebagai tahap pemantapan. Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif yaitu digunakan terhadap data kualitatif yang diperoleh dari hasil pengamatan siswa dan guru selama berlangsungnya pembelajaran di kelas, dan analisis kuantitatif yang digunakan terhadap hasil tes Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa dengan menggunakan metode klos.
        Hasil penelitian pada siklus I tingkat keterbacaannya masih rendah, karena kecepatan efektif membaca rata-rata 87 kpm dengan tingkat Independen 18 %, tingkat Instruktional 38 % dan pada frustasi 44 %.
        Pada siklus II hasil penelitian mengalami perubahan positif yaitu kecepatan efektif membaca rata-rata 150 kpm dengan tingkat Independen 78 %, tingkat Instruksional 18 %, dan tingkat frustasi 4 %.
        Hasil penelitian pada siklus III mengalami pemantapan yaitu rata-rata Kecepatan Efektif Membaca (KEM) 210 kpm dengan tingkat independen 100 %.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa aktivitas pembelajaran membaca cepat dengan menggunakan metode klos dapat meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa.

JENIS-JENIS VERBA TRANSITIF

Verba Transitif
Bila sebuah kata kerja menghendaki, sebuah kata yang berfungsi sebagai obyek , kata kerja tersebut disebut kata kerja transitif atau verba transitif, seperti memukul, mendapat, mengambil dan melempar. Kata kerja transitif dapat berbeda-beda lagi atas beberapa hal berikut ini.
a.    Monotransitif / Ekatransitif
Kata kerja mono transitif/ ekatransitif adalah kata kerja yang menhendaki sebuah obyek, misalnya : membawa, membeli, mengairi dan mendinginkan. Contoh dalam kalimat.
La membeli sebuah buku baru
Ia memburu adiknya ke rumah sakit
Petani mengairi sawahnya
b.    Bitransitif /Dwitransitif
Kata kerja bitransitif atau dwitransitif adalah kata kerja transitif yang menghendaki dua buah obyek kata kerja transitif semacam ini disebut juga kata kerja transitif ganda, misalnya : membelikan, menuliskan, menulis, menganugerahkan, menganugerahi, menghadiahkan, membawakan, mengirimi, menyerahi.
Contohnya dalam kalimat :
Ayah menghadiahkan sebuah buku kepada saya
Ayah menghadiahi saya sebuah buku
Pemerintah menganugerahkan bintang kehormatan ke padaku
Pemerintah menganugerahi saya bintang kehormatan.

Seperti tampak dalam contoh-contoh di atas, kata kerja yang mengandung dua macam obyek, yaitu obyek langsung dan obyek tidak langsung. Kata kerja mengandung me-N-Kan menempatkan barang seperti obyek langsung, sedangkan orang sebagai obyek tak langsung , yaitu sebagai pelengkap benelakut (yang mendapat atau memperoleh barang yang disebut dalam obyek langsung). Sebaliknya, kata kerja dengan me-N-i menempatkan orang sebagai obyek tak langsung. Perbedaan lain adalah kata kerja dengan me-N-Kan menghendaki kata perangkai untuk, bagi, dan kepadanya sebagai penanda yang tak langsung, sedangkan kata kerja dengan me-N-i tidak menghendaki kata perangkai. Teori tersebut di atas (diagram pohon) tidak berbeda dengan teknik analisa data dalam penelitian ini yang menggunakan metode Top Down (menurun) dan botton up (menaik) (Djajasudarma, 1993 :6).
Urutan-urutan penanda verba seperti dinyatakan di atas perlu diperhatikan sebab prefiks atau infiks secara wajib memang diperlukan untuk menurunkan verba.
Setiap verba transitif mengenal sejumlah bentuk yang berbeda-beda makna dan ciri semantisnya. Analisa dengan menggunakan diagram pohon tersebut. Secara rinci dan lebih khusus menguraikan fungsi masing-masing frase dan memberi ciri positif posisi masing-masing.  Verba Turunan dan Proses Penurunanya
Verba turunan adalah verba yang sudah mengalami afikasi, reduplikasi pada kata atau kelompok kata. Dengan demikian, kita peroleh verba seperti (a) mengondi ‘mengunci’ pelaika’ buatlah rumah’lakoako ‘ pergi dengan satu maksud’ (b) meori-orikee’ memanggil berkali-kali’ mosu-susua ‘menyanyi sekedarnya’ metutu-tutura ‘berbicara terus menerus’ (c) mate modandi ‘berjanji sampai mati’ lakonggare’ berjalan kaki’ mate modola ‘melihat sampai mati’
Ada tiga afiks yang dipakai untuk menurunkan verba , yaitu prafiks, infiks dan sufiks. Prefiks adalah afiks yang diletakan di muka dasar, infiks ditempatkan di tengah dasar, dan sufiks ditempatkan di akhir dasar kata.
Ada pula verba turunan yang dibentuk dengan menambahkan afiks apit, yaitu gabunagan prefiks yang mengapit dasar kata, tetapi gabungan itu tidak membentuk satu kesatuan (konfiks). Afiks apit mo- dan ako pada verba turunan , momoneako’ memanjatkan ‘ tidak secara serentak ditempatkan pada verba dasar mone ‘panjat’ tetapi sufiks –ako dahulu kemudian prefiks mo-. Disamping itu, ada pula gabungan infiks dan sufiks yang juga tidak membentuk satu kokesatuan(konfiks). Afiks-in-dan –ako pada verba turunan, misalnya hinunuako’dibakarkan’ dahulu menjadi hinunu ‘ dibakar’ kemudian dengan sufiks-ako (Sailan et al 1995 : 58).

CONTOH INFORMASI YANG BERUPA SARAN

informasi yang berupa saran


                            Kenaikan Haraga BBM dan Kemiskinan
Sebagai peneliti yang melakukan kajian tentang kenaikan harga BBM termasuk kemiskinan, saya sebetulnya merasa sangat gembira melihat begitu banyaknya tanggapan terhadap studi ini tetapi saya ikut sedih melihat kebanyakan tanggapan tidak diikuti dengan analisis yang menggunakan metodologi yang memadai umumnya tanggapan ini lebih disebabkan oleh sangkaan yang tidak mendasar sehingga seolah-olah riset ini dilakukan secara parsial tanpa melkihat kelompok lain yang kurang jelas.
Mari saya sedikit jelaskan bagaimana sejarah penelitian ini. Penelitian ini dimulai sejak tahun 2000 pada saat LPEM diminta baik oleh Kantor Menko Perekonomian (Pak Kwik Kian Gie masih menjadi Menko) dan Departemen ESDM (Pak Presiden SBY waktu itu menjadi menterinya) menyiapkan kajian tentang dampak makro BBM. Kajian dimulai dari sekedar analisis sangat sederhana dengan melihat pwerbedaan harga domestic dan luar negeri dan distribusi penerima subsidi BBM. Kebetulan saya pribasdi sejak tahun 1992 melaqkukan riset individual melihat dampak regresif dari harga BBM. K
Karena harga BBM dinaikkan setiap tahun (2001 dan 2002) maka LPEM diminta melanjutkan proses ini masuk melakukan sosialisasi dibeberapa daerah di Indonesia tenatng dampak BBM. Metode penelitian pun disempurnakan setelah mendapatkan feedback dari pertanyaan daerah saat kami melakukan sosialisasi termasuk dalam melihat dampaknya terhadap rumah tangga khususnya rumah tangga miskin.
                                                      Sumber : Pasific Link, 23 Agustus 2007) 


      

PENGERTIAN VERBA DAN JENIS-JENIS VERBA

Verba
Verba atau kata kerja biasanya dibatasi dengan kata-kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan. Namun batasan ini masih kabur karena tidak mencakup kata-kata seperti tidur dan meninggal yang dikenal sebagai kata kerja tetapi tidak menyatakan perbuatan atau tindakan sehingga verba disempurnakan dengan menambah kata-kata yang menyatakan gerak badan ..., atau terjadinya sesuatu sehingga batasan itu menjadi kata kerja adalah kata-kata yang menyatakan perbuatan, tindakan, proses, gerak, keadaan dan terjadinya sesuatu (Keraf, 1991 :72).
Sedangkan menurut Sudaryanto (1991 : 6) yang dimaksud dengan verba adalah kata yang menyatakan perbuatan, dapat dinyatakan dengan modus perintah, dan bervalensi dengan aspek keberlangsungan yang dinyatakan dengan kata ‘lagi’ (sedang).
Seperti halnya dengan kata benda untuk menentukan apakah sebuah kata adalah kata kerja(verba) atau tidak, kita mengikuti dua prosedur, penetapan dengan kriteria praseologi (Keraf, 1991 : 13).
Sebagai salah satu kelas kata dalam tuturan kebangsaan verba mempunyai frengkuensi yang tinggi pemakaiannya dalam suatu kalimat. Selain itu, verba mempunyai pengaruh yang besar terhadap penyusunan kalimat. Perubahan struktur pada kalimat  sebagian besar ditentukan oleh perubahan bentuk verba.
Pendapat lain, dikemukakan oleh Harimurti Kridalaksana (1993: 226) menyatakan bahwa verba adalah kelas kata yang biasanya berfungsi sebagai predikat dalam beberapa bahasa lain verba mempunyai ciri morfologis seperti kata, aspek, dan pesona atau jumlah. Sebagian verba memiliki unsur semantis perbuatan, keadaan dan proses, kelas kata dalam bahasa Indonesia ditandai dengan kemungkinan untuk diawali dengan kata tidak  dan tidak mungkin diawali dengan kata seperti sangat, lebih, dan sebagainya.
Selanjutnya pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Mess (1992:4) yang berhubungan dengan pengertian verba atau kata kerja. Beliau mengatakan : sesuai dengan namanya, kata kerja pada umumnya menyatakan suatu pekerjaan, perbuatan atau gerak. Ciri-ciri fisik lain yang ditampakan secara tradisional adalah kemungkinan menduduki fungsi predikat oleh sebuah kalimat verba. Ciri-ciri fisik yang paling menonjol adalah kemampuan menduduki posisi memerintah(imperatif) secara langsung.
Untuk memberikan uraian yang lebih jauh tentang  kontruksi verba transitif bahasa Tolaki secara khusus perlu diberikan perhatian terhadap verba transitif ( kata kerja yang memerlukan obyek). Verba adalah salah satu kategori kata yang memegang peranan penting dalam proses (keaktifan) berbahasa. Verba mempunyai frengkuensi yang tinggi dan sangat berpengaruh pada penyusunan kalimat. Perubahan struktur kalimat dalam proses berbahasa sebagian besar ditentukan oleh perubahan bentuk morfologi verbanya.
‘VO” adalah lambang yang mengingatkan pada kata ‘verba’ dan ‘obyek’ lambang dan istilah itu sering digunakan oleh para ahli pengkajian semestaan bahasa dan tipologi bahasa. Bahasa “VO” adalah bahasa yang predikatnya secara tegas terdapat di sebelah depan obyeknya. Hala itu tentu saja dengan ketentuan predikat itu berupa verba transitif yang memang secara universal dimiliki ileh bahasa-bahasa di dunia (Sudayanto, 1990).
Secara umum selalu berkedudukan sebagai predikat dalam pembentukan kalimat. Hal ini tidak terlepas pula pada tipe verba transitif pada khususnya.
2.4 Bentuk Verba
Yang dimaksud dengan verba dalam hubungan ini adalah penampakan atau rupa satuan fungsi atau satuan gramatikal verba. Berangkat dari pengertian bahwa kata merupakan “ hasil akhir dari proses morfemis “ dan merupakan “ satuan-satuan terkecil sesudah sebuah kalimat dibagi atas bagian-bagian, yang mengandung ide “(Keraf, 1970:5), boleh dikatakan bahwa kata dapat membentuk “monomorfemis “dan polimorfemis” (Vehaar) atau “kata tunggal”dan kata kompleks”(Ramlan, dalam Saleh 1988 : 8).
Istilah monomorfemis dan polimorfemis jelas didasarkan pada kriteria jumlah morfem yang mendukung suatu kata. Kata yang terdiri atas satuan morfem disebut monomorfemis atau kata tunggal dan kata yang terdiri atas dua morfem atau lebih disebut polimorfemis atau kata komleks.
Berdasarkan pembentukannya dapat dibedakan atas dua bentuk yaitu verba asal/pangkal/dasar dan turunan. Verbal asal dasar adalah verba dasar yang belum mendapat tambahan afiks, tetapi terdiri dan memiliki makna independen. Sedangkan verba turunan sudah mendapat tambahan afiks.
Dalam pembentukan verba turunan terdapat dua jenis afiks, masing-masing bersifat infleksional dan derivasional distribusi berbeda dengan kata dasarnya.
Contoh :
1.    Golu ‘bola’(nomina) -------megolu’bermain bola’(verba transitif)
Inaku megolu
‘saya bermain bola’
2.    Owose ‘besar’(adj)-------mombokoowose’memperbesar’ (verba transitif)
I ama mombokoowose laika
‘Ayah memperbesar rumah’

2.5    Ciri-Ciri Verba
Pembagian verba dilakukan dengan mengamati (1) bentuk morfologis, (2) perilaku sintaksis dan (3) perilaku semantisnya secara menyeluruh dalam kalimat sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka penelitian ini hanya menguraikan verba berdasarkan bentuk-bentuk verbanya, proses merfofonemis serta pengimbuhan secara umum, peneliti mengacu pada pembagian verba yang dikemukakan oleh Chafe (1970:98), yang mengatakan bahwa : berdasarkan ciri-ciri semantisnya verba terdiri atas (1) verba keadaan, ialah verba yang menyatakan suatu keadaan, dan (2) ciri umum verba bahasa Tolaki adalah berfungsi utama P, dan sebagai P verba cenderung di dampingi ileh fungsi yang ditempatioleh jenis kata lain (biasanya nomina). Jadi dalam kalimat iniro moiso ‘ mereka tidur’ dapat ditentukan iniro’mereka’ bukanlah verba dan bukan pula P, yang verba dan P adalah moiso ‘tidur’. (Sailan et al 1995 : 55). Proses, ialah verba menyatakan proses-proses, dan (30 verba aksi, ialah verba yang menyatakan suatu aksi.
Berdasarkan pengertian verba di atas secara umum verba dapat diidentifikasikan dan dibedakan dari kelas kata yang lain. Hal itu dapat dilihat dari ciri-ciri verba atau tanda-tanda formal yang menyebabkan suatu kata dianggap termaksud dalam kategori verba.
Selaras dengan pengertian di atas, Moeliono et al, (1992 :76) menguraikan ciri-ciri verba sebagai berikut (1) berfungsi utama sebagai predikat atau sebagai ciri predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain, (2) verba mengandung dasar perbuatan (aksi proses atau keadaan yang bukan bersifat kualitas), dan (3) verba khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks-ter, yang berarti paling.
Dilihat dari hubungan verba dan nomina transitif dapat dibagi atas dua, yakni verba aktif dan verba pasif. Verba aktif adalah verba yang subyeknya berperan sebagai pelaku dan penanggap peristiwa, sedangkan verba pasif adalah verba yang subyeknya berperan sebagai penderita, sasaran atau hasil. Hal tersebut dapat dilihat dalam contoh-contoh sebagai berikut :
1.a I Ali Mombowehi I Herlina o bunga
‘ Ali memberi Herlina Bunga
1.b Herlina pinowehi o bunga
‘Herlina diberinya bunga’
Kalimat (1a) adalah verba aktif dan kalimat (1b) adalah verba pasif peristiwa yang diberikan dalam kalimat (1 a ) dan (1 b ) pada dasarnya sama. Hanya sudut pandangnya yang berbeda, yakni pada (1 a ) melihat dari sudut “ pelaku “ peristiwa.sendangkan ( 1b ) dari sudut maujud yang di kenal oleh peristiwa itu. Dalam kedua kalimat tersebut, ‘bunga ‘ menyatakan maujud yang tempatnya dalam konstruksi itu dapat di ubah dan dari segi makna verba harus hadir sehingga disebut  pelengkap atau obyek langsung (Sidu, dkk, 1995: 14).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulakan bahwa dilihat dari hubungan verba dan nomina verba transitif dapat dibagi dua, yakni verba aktif dan verba pasif.

BAHASA TOLAKI DIALEK KONAWE

2.1 Bahasa Tolaki Dialek Konawe
Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh para peneliti dalam bidang bahasa di Sulawesi Tenggara, diantaranya oleh Pattiasina dkk, mengatakan bahwa “ Bahasa Tolaki merupakan bahasa daerah yang paling besar jumlah pendukungnya di sulawesi tenggara dan memegang peranan yang cukup besar dalam berbagai sektor kehidupan, terutama dalam kehidupan kebudayaan.”
Bahasa Tolaki terdiri atas tiga dialek yaitu dialek Konawe dan Wawoni’i di kabupaten Kendari, dan dialek mekongga di Kolaka. Di dalam penelitian ini akan mengkaji bahasa Tolaki dialek Konawe. Bahasa Tolaki merupakan bahasa yang digunakan oleh orang tolaki (bahasa ibu), dalam kehidupan sehari-hari di samping itu, juga berfungsi sebagai alat-alat pendukung utama kebudayaan daerah, seperti tercermin dalam berbagai bentuk kesenian dan adatnya.
2.2 Morfologi
Secara potensial semua kata yang mengandung imbuhan me-, ber-, kan-, dan – i atau penggabungannya dapat dicalonkan sebagai kata kerja. Di samping itu ada sejumlah kata-kata kerja yang tidak mengandung bentuk-bentuk itu tetapi secara tradisional dimaksudkan dalam kelompok kata kerja misalnya; tidur, bagun, datang, lupa dan ikut.
Dalam merealisasi sebuah morfem, bentuk morfem itu dapat berubah karena pengaruh morfem lainnya atau pengaruh fonem yang mengikutinya. Proses perubahan bentuk sebuah morfem karena pengaruh lingkungan ini disebut morfofonemik. Sebaliknya, bentuk morfem yang berubah ini disebut alomorf. Bentuk morfem yang berubah itu dapat berjumlah satu atau lebih, tergantung dari pengaruh lingkungan itu.
Morfem ber- dalam bahasa Indonesia misalnya dalam realisasinya dapat berubah menjadi ber-, be-, bel- dalam lingkungan tertentu. Bentuk ber-, memasuki hampir semua lingkungan, sebaliknya bila memasuki lingkungan kata yang berfonem awal / r / atau suku kata pertamanya mengandung  / er /, ber-, berubah menjadi be-. Dalam satu kasus, ber-, berubah menjadi bel- (Karaf, 1991 :43).

Setiap verba transitif mengenal sejumlah bentuk yang berbeda-beda maknanya dan ciri sintaksisnya. Dari segi maknanya, verba transitif mengungkapkan peristiwa yang melibatkan dua atau tiga maujud yang masing-masing ; sumber (pelaku/pengalan/peneral), maujud secara langsung dikenai oleh peristiwa itu (sasaran/tujuan/penderita) dan untuk verba dwitransitif-maujud yang dialatkan untuk mengadakan peristiwa tersebut (pelengkap). Peristiwa itu dapat diberikan dari dua sudut, yaitu dari sudut sumbernya atau dari sudut sasarannya. Kedua sudut pandang itu memerlukan bentuk verba tersendiri. Masing –masing bentuk aktif dan bentuk pasif.
Disamping bentuk aktif dan pasif itu tersebut bentuk khusus untuk perintah(imperatif). Titik tolak pemerian peristiwa menempati gatra (posisi fungsional) subjek dalam kalimat. Subyek bentuk aktif adalah pelaku/pengalan/peneral, sedangkan subyek bentuk pasif adalah sasaran/tujuan/ penderita yang dalam bentuk aktif menempati gatra obyek. Sasaran peristiwa bentuk aktif dapat membentuk kritika pronomina persona tunggal ( -aku, -ku, -ko, mu, -no, nya) yang berpadu dengan bentuk aktif verba. Begitu pula ‘sumber’ peristiwa dalam bentuk pasif (ku, ku u, kau dan no nya) (Sailan et al, 1994 : 61).

Rabu, 06 Juni 2012

RPP Mengintifikasi Unsur- Unsur Intrinsik dan EkstrinsikSuatu Cerita yang Disampaikan Secara Langsung 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) 

SEKOLAH : SMA Kartika Kendari 
MATA PELAJARAN : Bahasa Indonesia 
KELAS : X 
SEMESTER : 1
 ALOKASI WAKTU : 2 x 45 Menit

A. STANDAR KOMPETENSI
 Mendengarkan: 1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung/tidak langsung.

B. KOMPETENSI DASAR 
Mengidentifikasi unsur sastra (intrinsik dan ekstrinsik) suatu cerita yang disampaikan secara langsung/rekaman. 

C.INDIKATOR 
1. Kognitif 
    a. Proses 
       - Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik yang ada di dalam cerpen
    b. Produk 
      - Menentukan unsur intrinsik yang ada di dalam cerpen 
      - Menjelaskan maksud unsur intrinsik cerpen 
2. Psikomotor 
    -Menyampaikan unsur-unsur intrinsik yang telah ditemukan di dalam cerpen 
    - Menanggapi penjelasan tentang unsur-unsur yang ditemukan oleh teman.
3.  Afektif 
   a. Karakter
      - Kerja sama 
      - Teliti 
      - Tanggap
   b. Keterampilan sosial
      - Menyampaikan hasil diskusi dengan baik dan benar 
      - Membantu teman yang mengalami kesulitan. 
D.TUJUAN PEMBELAJARAN 
1. Kognitif
   a. Proses 
      -Setelah membaca cerpen yang disajikan, siswa diharapkan mampu menemukan unsur-unsur intrinsik yang terdapat di dalam cerpen 
   b. Produk Setelah membaca dan membahas hasil pencapaian tujuan proses di atas, siswa diharapkan mampu menuliskan kembali unsur-unsur intrinsik yang telah ditemukan. 
2. Psikomotor
        Secara berkelompok siswa dapat menyampaikan unsur intrinsik cerpen yang disediakan dalam LKS 1: psikomotor.
3. Afektif 
    a.  Karakter
        -Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperhatikan kemajuan dalam perilaku seperti kerja sama, teliti dan tanggap.
    b. Keterampilan sosial 
       -Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran dengan memperlihatkan kemajuan dalam kerampilan menyampaikan hasil diskusi dengan bahasa yang baik dan benar, bekerja sama dalam kelompoknya, dan membantu teman yang mengalami kesulitan. 

E. MATERI PEMBELAJARAN 
    -Teks cerita pendek 

F. MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN 
    1.Model pembelajaran : pembelajaran langsung (eksplisit) 
    2. Metode pembelajaran Diskusi Unjuk kerja Penugasan 

G. BAHAN
    -Cerita Pendek

H. ALAT
    - Lembar kerja 
    -Spidol

I.  SKENARIO PEMBELAJARAN
NoKegiatan
A1Kegiatan awal (10 menit)
1.  Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam dan menanyakan keadaan siswa yang tidak hadir.
 2. Guru memberi motivasi kepada siswa.
 3.  Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang harus dicapai.
 4. Guru melakukan apersepsi dengan bertanya mengenai pengetahuan siswa tentang unsur intrinsik yang terdapat dalam karya sastra
B1Kegiatan inti (25 menit)
 1. Siswa membentuk kelompok antara 4-5 orang per kelompok.
 2.  Guru memberi penjelasan tentang kinerja yang akan dilakukan siswa pada saat menyimak cerita yang akan disampaikan.
 3. Siswa mendengarkan/menyimak cerita pendek yang sudah disediakan oleh guru, yang akan dibacakan oleh teman secara bergantian.
 4.  Secara berkelompok siswa berdiskusi mengenai unsur intrinsik di dalam cerpen kemudian mengidentifikasi dan menuliskan unsur intrinsik yang terdapat di dalam cerpen.
 5.  Setiap kelompok menunjuk salah satu anggotanya untuk menyampaikan secara lisan hasil diskusi secara runtut dan jelas di depan kelas.
 6. Siswa bertanya jawab/menanggapi informasi yang didengar/disimak dengan bahasa dan alasan yang rasional dan logis. 
C1Kegiatan akhir (10 menit)
 1. Guru dan siswa melakukan refleksi tentang pembelajaran hari ini.
 2. Guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini.
 3. Guru memberi tugas kepada siswa kemudian pembelajaran ditutup dengan salam.

J. SUMBER PEMBELAJARAN
   -Buku: Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA kelas X Materi esensial Bahasa Indonesia Silabus.

K.EVALUASI DAN PENILAIAN
    - Tugas Individu: Menggunakan LKS
    - Jenis Tagihan Penilaian: LKS 1 dan LP 1 
    - Bentuk Instrumen Penilaian: Uraian Bebas Jawaban Singkat  

L.  LEMBAR KERJA SISWA (LKS)
     BAHASA INDONESIA SMA KELAS X SEMESTER 1     
  -Standar Kompetensi Mendengarkan: 1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung/tidak langsung. 
 Oleh: 
      Media Pembelajaran: Cerpen Aku bagaikan manusia yang terhina. Rasanya kehadiranku tak pernah diharapkan siapapun, bahkan oleh kedua orang tuaku. Aku lahir dari sebuah keluarga yang hidupnya sangat memprihatinkan. Teramat sangat, karena kedua orang tuaku hidup dengan tidak layak ditambah lagi dengan pendidikan rendah dan sikap yang kolot. Hidup dengan kekurangan disana-sini menjadikan ibu dan bapak sebagai orang tua yang haus akan materi. Namun parahnya tiada upaya, hanya impian meninggi namun sangat tipis usaha untuk menggapainya. Jangan tanyakan di mana keluarga kami yang lain. Karena keadaannya sama saja. Entah mengapa aku lahir di tengah-tengah kelurga bobrok ini, bahkan aku menyebutnya keluarga terkutuk.
     Pada dasarnya orangtuaku mengharapkan anak mereka yang lahir adalah lelaki, karena mereka berharap kami akan membantu perekonomian keluarga. Namun, anak pertama terlahir sebagai perempuan, berlanjut terus tanpa henti hingga aku terlahir sebagai perempuan di urutan ke delapan. Hah…tidak usah heran, karena mereka pun tak pernah lelah mengharapkan impian bodoh mereka itu. Kedengarannya kasar sekali aku mengecam orang tua dan keluargaku sendiri. Namun, itulah kerasnya kehidupan, kadang kita akan terseret ke dalam arus disekelilingnya. Aku muak!! Aku tak ingin terus-terusan hidup luntang – lantung dalam kehidupan menyebalkan seperti ini. Apalagi setelah kelahiranku beberapa tahu lalu bapak pergi entah ke mana. Ia mungkin tak sanggup lagi memikul tanggung jawab untuk menafkahi sembilan orang perempuan yang hanya menyusahkan kehidupannya. Aku tahu di luar sana ia pasti berteriak lega. Hingga sudah bisa ditebak aku tak pernah tahu bagaimana rupa bapakku itu. 
     Malam ini ku pilih sebagai malam yang tepat untuk mengakhiri bebanku selama ini. Apakah aku akan bunuh diri? Owh, tidak!! Aku tidak sebodoh itu. Aku hanya ingin memulai kehidupan baruku. Yaa, sama seperti bapak yang lari meninggalkan kami. Toh aku juga tidak akan dicari oleh mereka. Malah sangat pasti mereka akan senang, karena tanggungan mereka berkurang satu lagi. Hari-hariku berjalan dan berlanjut apa adanya. Awalnya sulit karena aku harus hidup sendiri tanpa ada yang perduli dengan diriku. Terkadang aku berpikir untuk mencari bapak. Ibu pernah bercerita, bahwa bapak mempunyai tanda yang bisa aku kenali. Yaitu ia mempunya tanda lahir berbentuk bulan sabit berwarna hitam legam di punggung sebelah kanan. 
    Tanda yang langka, sehingga mudah untuk dikenali. Namun, apakah mungkin aku memeriksa punggung setiap laki-laki? Hah, mustahil. Sudahlah aku pun melenyapkan keinginan gila itu. Lagipula jika aku bertemu dengannya, aku mau apa darinya? Aku sudah teramat benci terhadapnya. Lelaki tak bertanggung jawab.!! Mungkin itulah awal dari kebencian ku yang teramat sangat terhadap lelaki. Apalagi aku terbiasa hidup di lingkungan perempuan yang mandiri tanpa lelaki. Ibu pun seolah mengajarkan untuk benci terhadap lelaki. Akhirnya ini juga yang membawaku ke dalam lembah kesalahan. Semua orang tahu bahwa hidup di jalan bukanlah hal mudah. Sangat banyak godaan yang menyesatkan. Dan aku pun tak bisa menghindarinya. Dan yang membuat aku bertahan dengan semua itu karena aku menikmatinya. Aku tak punya keahlian apa-apa. Yakh, terpaksa untuk membiayai hidup aku pun bekerja menjual diri. Mungkin bagi orang, perjalanan ini sudah biasa. Sudah tak sedih lagi. Sudah bassiiii….!!! Tapi itu tanggapan orang yang hanya mendengarnya, tapi bagiku yang merasakannya, ini sangat sakit. Saakiiit…. dan pedih…! Namun hal itu tak membuatku sedikit bersimpati terhadap pria. Jangan pikir aku akan menyerahkan tubuh ini pada pria-pria di luar sana yang nakal. Hah,,,tidak!! Tidak akan pernah.!! Lalu,, pada siapa?? Yakh, tentu saja terhadap sesama jenisku: perempuan. Hufft….aku merapikan pakaianku dan bergegas meninggalkan hotel. Siang itu aku baru saja “melayani” pelanggan setiaku. Pelangganku memang terbilang sedikit, karena memang susah untuk mencari yang seperti kami. Mungkin banyak, tetapi banyak yang tidak mau mengakui bahwa mereka adalah kaum lesbi. Namun, biarlah dengan begitu sainganku tidak terlalu banyak, dan tentu saja bayaranku akan tinggi. Seiring bertambahnya usia, pelangganku semakin berkurang.
    Apalagi usia yang semakin menua membuat parasku tak secantik dulu. Tenagaku pun tak sehebat dulu lagi. Sehingga banyak pelangganku yang kabur. Aku pun mulai berpikir untuk mencoba “menjualnya” kepada lelaki. Aku yakin pelanggan lelaki lebih banyak dan lebih mudah didapat. Lagipula tubuhku pun masih belum terlalu jelek bagi para lelaki. Awalnya aku berat, sangat berat. Aku tak pernah membayangkan akan melakukannya dengan lelaki. Karena terus terang rasa benci yang tertanam sejak kecil, belum bisa aku lenyapkan. Tapi kehidupan yang menuntunku.  Malam ini, aku pun mendapatkan pelanggan pria pertama ku. 
     Aku sama sekali tak merasakan apapun terhadap pria ini. Seorang pria paruh baya, yang dalam pikiranku sungguh tidak tahu diri. Seharusnya ia insaf, karena melihat tampangnya ia tak akan berumur panjang lagi. Tapi,,, sudahlah. Yang terpenting aku mendapatkan uang. Kami pun memulainya. Aku sungguh baru pertama melakukan ini dengan pria, setelah puluhan tahun aku bergelut dalam dunia hitam ini dan melakukannya dengan wanita. Aku merasakan hal aneh. Entah, apa namanya. Aku merasakan kesedihan yang mendalam. Ketika ia mulai menjelajahi tubuhku, hingga melucuti satu-persatu pakaian yang melekat ditubuhku. Namun, ditengah “permainan hot” kami itu, aku tersentak kaget. Aku kemudian segera memakai pakaianku. Aku tak peduli ketika pria itu terus memanggilku. Aku menghempaskan tubuhnya yang masih berusaha untuk memaksa aku kembali melanjutkan hubungan tadi. “ Kita belum selesai nona!! Jadi kamu tidak akan bisa lari dariku”. Huh…aku tidak peduli. Aku menhempaskan tubuhnya. Kutatap lekat-lekat wajahnya. Wajah itu seperti tak asing bagiku. Bahkan aku segera merasakan perasaan benci yang memuncak terhadap semua lelaki. Aku berlari terus berlari. Tiba-tiba saja rasa penasaran tentang sosok selama ini yang aku cari-cari hilang sudah. Karena baru saja aku melihat sebuah tanda bulan sabit berwarna hitam legam di punggung sebelah kanan. SELESAI 
LKS 1: LEMBAR KERJA SISWA 
Bahasa Indonesia
 Nama……………………. Kelompok……………… Tanggal………………. 
Kegiatan 1 
    Bacalah cerita pendek yang telah disediakan. Setelah membaca, kerjakan langkah-langkah berikut: 
 Tentukanlah unsur-unsur intrinsik yang terdapat di dalam cerpen tersebut! ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. 
 LKS 2: LEMBAR KERJA SISWA Bahasa Indonesia 
Nama……………………. Kelompok……………… Tanggal………………. 
Kegiatan 2 
    Carilah sebuah Cerpen. Lalu bacalah. Setelah membaca, kerjakan langkah-langkah berikut: 
Tentukanlah unsur-unsur intrinsik yang terdapat di dalam cerpen tersebut! ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ……………………………………………………………………………… ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. ………………………………………………………………………………. 
LEMBAR PEGANGAN GURU (LPG)
 BAHASA INDONESIA
 SMA KELAS X 
SEMESTER 1 
 Standar Kompetensi Mendengarkan: 1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung/tidak langsung. Oleh:   Unsur Intrinsik Karya Sastra adalah unsur-unsur yang secara organik membangun sebuah karya sastra dari dalam
 Contoh
 unsur intrinsik
 (1) tokoh 
(2) alur
 (3) latar,
 (4) judul 
(5) sudut pandang
 (6) gaya dan nada 

 Secara umum unsur-unsur intrinsik karya sastra prosa adalah: 
1. Tokoh /karakter
 2. Alur / plot
 3. latar/ setting
 4. sudut pandang (point of view)
 5. tema
 6. amanat 

     Karakter adalah orang yang mengambil bagian dan mengalami peristiwa-peristiwa atau sebagian peristiwa-peristiwa yang digambarkan di dalam plot. 
      Plot adalah rangkaian peristiwa yang satu sama lain dihubungan dengan hukum sebab-akibat.  Latar adalah latar peristiwa yang menyangkut tempat, ruang, dan waktu. 
    Tema adalah gagasan pokok yang terkandung dalam drama yang  berhubungan dengan arti (mearning atau dulce) drama itu; bersifat lugas, objektif, dan khusus. 
    Amanat adalah pesan yang hendak disampaikan oleh pengarang kepada pembaca yang berhubungan dengan makna (significance atau utile) drama itu; bersifat kias, subjektif, dan umum. 

PEMBEDAAN TOKOH
 A. Dilihat dari segi peranan/ tingkat pentingnya/ keterlibatan dalam cerita 
1. tokoh utama (main/ central character) yaitu tokoh yang diutamakan penceritaannya 
2. tokoh tambahan (peripheral character) yaitu penceritaan relatif pendek (tidak mendominasi) 
 B. Dilihat dari fungsi penampilan tokoh
 1. Protagonis memberikan simpati, empati, melibatkan diri secara emosional terhadap tokoh tersebut. Tokoh yang disikapi demikian disebut tokoh protagonis.
 2. Antagonis - tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik - beroposisi dengan tokoh protagonis - Peran antagonis dibedakan menjadi dua, yaitu: 
1. tokoh antagonis 
2. kekuatan antagonis (tak disebabkan oleh seorang tokoh) 
 Contoh:
 bencana alam, kecelakaan, nilai-nilai sosial, lingkungan alam, nilai moral, kekuasaan dan 
kekuatan yang lebih tinggi, dan sebagainya. 
 C. Berdasarkan Perwatakannya 
1. Tokoh Sederhana/ Simple/ Flat Tokoh yang hanya mempunyai satu kualitas pribadi (datar, monoton, hanya mencerminkan satu watak tertentu). Biasanya dapat dirumuskan dengan satu kalimat 
2. Tokoh Bulat/ Complex/ Round Diungkap berbagai kemungkinan sisi kehidupan, kepribadian, dan jati dirinya. Bertentangan, sulit diduga, dan mempunyai unsur surprise. Keduanya tidak bersifat bertentangan, hanya merupakan gradasi saja. 
 D. Berdasarkan berkembang atau tidaknya perwatakan tokoh 
• Tokoh Statis adalah tokoh tak berkembang yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat peristiwa-peristiwa yang terjadi. 
• Tokoh Berkembang 
• mengalami perkembangan perwatakan dalam penokohan yang bersifat statis biasanya dikenal tokoh hitam dan tokoh putih 
 E. Berdasarkan Kemungkinan Pencerminan Tokoh terhadap Manusia dari Kehidupan Nyata
 • Tokoh Tipikal pada hakekatnya dipandang sebagai reaksi, tanggapan, penerimaan, tafsiran pengarang terhadap tokoh manusia di dunia nyata. 
Contoh
 guru, pejuang, dan lain-lain.
 • Tokoh Netral tokoh cerita yang bereksistensi demi cerita itu sendiri. Ia benar-benar merupakan tokoh imajiner 

 LEMBAR PENILAIAN (LP) BAHASA INDONESIA
 SMA KELAS X 
SEMESTER 1
 Standar Kompetensi Mendengarkan: 1. Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung/tidak langsung. 

 LP 1 : KOGNITIF PROSES
 Pedoman Penskoran LKS 1 No Komponen Deskriptor Skor 1 2 3 1 Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik yang ada di dalam cerpen Siswa mampu Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik yang ada di dalam cerpen
 Keterangan: 
 (1) sangat tepat 
 (2) tepat 
 (3) tidak tepat 
     
          Cara Pemberian Nilai Rumus: Nilai=(Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun) x 100  


 LP 2 : KOGNITIF PRODUK
No
Komponen

Deskriptor
skor
1
Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik yang ada di dalam cerpen

Siswa mampu Mengidentifikasi unsur-unsur intrinsik yang ada di dalam cerpen
 1
2
3

Keterangan:
 (1) sangat tepat 
 (2) tepat 
 (3) tidak tepat
        Cara Pemberian Nilai Rumus: (Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun) x 100  

 LP 3 : PSIKOMOTOR
    Pedoman Penskoran LKS 2 No Komponen Deskriptor Skor Catatan 1 Mampu membacakan hasil identifikasi unsur intrinsik yang terdapat di dalam cerpen, dengan kriteria: Suara Lafal Intonasi Sangat jelas Kurang jelas Tidak jelas Sangat jelas Kurang jelas Tidak jelas Sangat jelas Kurang jelas Tidak jelas 3 2 1 3 2 1 3 2 1 2 Menanggapi hasil identifikasi yang disampaikan teman Siswa mampu menanggapi hasil identifikasi unsur intrinsic cerpen yang disampaikan teman 1 2 3

 Keterangan:
 (1) sangat tepat
 (2) tepat
 (3) tidak tepat 
  
 Cara Pemberian Nilai Rumus: (Skor Perolehan Siswa)/(Skor Maksimun) x 100


NoTanggung JawabDisiplinKetekunanKreatifKritis
1
1 2 3 4
1 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
21 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
31 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
51 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
61 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
71 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
81 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
91 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
101 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
111 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
121 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
131 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
141 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
151 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
161 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
171 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
181 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
191 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
201 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
211 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
221 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
231 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
241 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
251 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
261 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
271 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
281 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
291 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
301 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
311 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
321 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
331 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
341 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
351 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
361 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
371 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
381 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
391 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4
401 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 41 2 3 4

Keterangan
 4 = sangat baik
 2 = kurang baik 
 3 = baik 
 1 = tidak baik


NoInisiatifBerbahasa Santun dan KomunikatifPartisipasi
1
1 2 3 4
1 2 3 4 1 2 3 4
21 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
31 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
41 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
51 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
61 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
71 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
81 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
91 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
101 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
111 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
121 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
131 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
141 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
151 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
161 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
171 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
181 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
191 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
201 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
211 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
221 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
231 2 3 4
1 2 3 4
1 2 3 4
241 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
251 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Keterangan 
 4 = sangat baik 
 2 = kurang baik 
 3 = baik 
 1 = tidak baik