Cari Blog Ini
Selasa, 05 Juni 2012
KATEGORI MORFOLOGI KELAS KATA DALAM BAHASA INDONESIA
Bahasa Indonesia mengenal pengelompokan kosa dalam bentuk kelas kata. Tata bahasa Indonesia banyak pendapat para mengenai jumlah dan jenis kelas kata. Kelas kata terdiri dari seperangkat kategori morfologis yang tersusun dalam kerangka sistem tertentu yang berbeda dan sistem kategori morfologis kelas kata lain. Kategori morfologis adalah sederetan kata yang memiliki bentuk gramatikal dan makna gramatikal yang sama. Setiap kategori morfologis itu terbentuk oleh prosede morfologis tertentu. Prosede morfologis adalah pembentukan kata secara sinkronis. Prosede morfologis itu ada dua macam yaitu derivasi dan intleksi. Derivasi adalah prosede morfologis yang menghasilkan kata-kata yang makna leksikalnya berbeda dari kata pangkal pembentuknya. Sebaliknya, infleksi menghasilkan kata-kata yang bentuk gramatikalnya berbeda-beda, tetapi leksemnya tetap seperti pada kata pangkalnya.
Kategori Morfologi Kelas Kata Bahasa Indonesia dapat dibedakan atas:
1. Kelas Nomina
Untuk menentukan suatu kata termasuk nomina, digunakan penanda valensi sintaktis karena perangkat kategori morfologis pembangun kerangka sistem morfologi nomina itu ditandai oleh valensi sintaktis yang sama, yaitu (1) mempunyai potensi berkombinasi dengan kata bukan, (2) mempunyai potensi didahului oleh kata di, ke, dari, pada.
Kelas nomina yang ditemukan dan data terdiri dan: (1) nomina murni, yakni nomina yang tidak berasal dari kelas kata lain, (2) nomina deverbal, yakni nomina yang terbentuk dari verba.
a. Nomina Murni
Nomina murni terdiri dari nomina dasar (monomorfemis) dan nomina turunan (polimorfemis). Nomina turunan yang terbentuk dari kata-kata nomina disebut nomina denominal.
Ø Nomina Dasar
Nomina murni berbentuk dasar yang ditemukan pada data ada lima macam yaitu:
Contoh: anak,baju, kepala, orang, nasi rumah, pakaian, pasar, perut, piring, plastik, rejeki, salak, logam lengan, lantai, lekaki, kursi, kota, panggung, kilometer, kelas, kaos, jalan, huja, gerimis, gelas, gambar, buah, ujung, uang, tempat, televisi,teh, tangan, tamu, tali, sisi, sepatu, wong, bulan, mata,
Ø Nomina Denominal
Nominal denominal yang d.temukan pada data, terdin dari beberapa kategori morfologis. Semuanya terbentuk dengan denvasi, berpangkal pada nomina dasar, yakni:
Ø Kategori D-an.’
Kategori ini menyatakan makna ‘daerah/wilayah/komplek/kurnpulan sesuatu yang tersebut pada pangkal pembentukan’. Contoh: pakaian,
Ø Kategori D-an”
Kategori ini menyatakan makna ‘hasil’. Contoh: ikatan, sebutan
Ø Kategori se-D
Kategori ini menyatakan makna ‘satu”. Contoh: sebatangkara
Ø Kategori D-D1-an
Kategori ini menyatakan makna ‘seperti’. Contoh: orang-orangan
Ø Kategori per-D-an’
Kategori ini menyatakan makna “hal’ . Contoh: perhatian
Ø Kategori ke-D-an’
Kategori ini menyatakan makna “hal’ . Contoh:kesempatan
Ø Kategori pcng-D-an
Kategori ini menyatakan makna ‘proses’. Contoh: pengalaman
b. Nomina Transposisi
Dari data nomina transposisi tidak ditemukan dalam kartu kata
2. Kelas Verba
Untuk menentukan suatu kata termasuk verba, digunakan valensi sintaktis karena perangkat kategori pembangun kerangka sisteni morfologi verba itu ditandai oleh valensi sintaktis yang sama, yaitu mempunya; potensi berkomhinasi dengan kata: tidak, sudah, sedang, akan, baru, telah, belum, mau, hendak,
Kelas verba yang ditemukan pada data terdiri dari (1) verba murni, yakni verba yang tidak berasal dari kelas kata lain, (2) verba denominal, yakni verba yang terbentuk dari nomina, (3) verba deadjektival, yakni verba yang terbentuk dan adjektiva, (4) verba denuineral, yakni verba yang terbentuk dari numeralia, dan (5) verba depronominal, yakni verba yang terbentuk dari pronomina.
a. Verba Murni
Verba murni terdiri dari verba dasar (monomorfemis) dan verba tur. (polimorfemis). Verba turunan yang terbentuk dan kata-kata verba disebut verba diverbal.
Ø Verba Dasar
Verba murni, berbentuk dasar yang ditemukan pada data ada yaitu: ada, bangkit, pergi, puasa, pulang, balik, makan, mampir, datang, ucap, ubah, turun, tinggal, terima, singgah ,aman ,
Ø Verba Deverbal
Verba deverbal yang ditemukan pada data, terdiri dari beberapa kategori morfologis, yaitu:
1) Kategori di-D
Kategori ini menyatakan makna ‘tindakan disengaja berfokus sasaran”. Contoh: diangkat, à verba 1
2) Kategori ter-D”
Kategori ini menyatakan makna “dapat di’.
Contoh: tersenyum à verb 1
3) Kategori meng-D
Kategori ini menyatakan makna ‘tindakan yang disengaja berfokus pelaku’.
Contoh: menyeret, menempel, menukar, mengangguk,memakai, menuju, meniru, mengangkat, memakai à verba 1
4) Kategori meng-(D-i)
Kategori ini menyatakan makna ‘lokatif.
Contoh: menyikapi, mempunyai à verba 2
5) Kategori meng-(D-kan)
Kategori ini menyatakan makna ‘benefaktif/direktif
Contoh: meneruskan, menyilakan, menyebabkan à verba 1
6) Kategori ber-D-an
Kategori ini menyatakan makna ‘malakukan perbuatan berlangsung lama, bisa sendiri atau dengan orang lain’.
Contoh: berpandangan à verba 2
7) Kategori ber-D
Kategoii ini menyatakan makna ‘tindakan bcrlangsung lama’.
Contoh: berakhir, berada, berteduh à verba 2,
8) Kategori meng-D
Kategori ini menyatakan makna ‘proses/keadaan’.
Contoh: melompatà verba 2
b. Verba Transposisi
Verba Denominal
Verba denominal yang ditemukan pada data meliputi enam kategori morfologis, yaitu.
1) Kategori meng-D
Kategori ini diderivasikan dari nomina kategori D melalui derivasi zero sehingga terbentuk verba kategori D yang menyatakan makna ‘tindakan yang disengaja berfokus pelaku’.
Contoh: menutup, meningkat à verba I
2) Kategori meng-(D-i)
Kategori ini berasal dari nomina kategon D kemudian dMenvasikan verba kategori D-i yang maknanya ‘lokatif. Contoh. menangani à verba 2
3) Kategori di-(D-i)
Kategori ini berasal dari nomina kategori D kemudiun diderivasikan menjadi verba kategori D-i yang mempunyai makna ‘kausatif.
Contoh: ditandatangani à verba 2
4) Kategori meng-(D-kan)
Kategori ini berasal dari nomina kategori D kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-kan yang menyatakan makna ‘kausatif.
Contoh: rnerupakan à verba 2
5). Kategori di-(D-kan)
Kategori berasal dari nomina kategori D kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-kan yang menyatakan makna ‘kausatif.
Contoh: disebutkan, dimanfaatkan, disimpulkan, dilaksanakan, dilakukan à verba 2
6) Kategori ber-D
Kategori ini diderivasikan dari nomina kategori D dan menyatakan makna ‘tindakan berlangsung lama’.
Contoh: bertekad àverba 2
Ø Verba Deadjektival
Verba deadjektival yang ditemukan pada data, meliputi dim macam kategori morfologis, yaitu:
1) Kategori meng-(D-i)
Kategori ini berasal dari adjektiva kategori D kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-i yang menyatakan makna ‘kausatif.
Contoh: menjiwai, menghargai, menanggapi à verba 2
2) Kategori meng-(D-kan)
Kategori ini berasal dari adjektiva kategori D kemuadian diderivasikan menjadi verba kategori D-kan, yang menyatakan makna ‘kausatif.
Contoh: melaksanakan menyenangkan, melanjutkan à verba 2
Ø Verba Demimeral
Dari data hanya ditemukan salu kalegori morfologis verba denumeral, yaitu kategori meng-D, yang diderivasikan dari numeralia bentuk dasar yang menyatakan makna ‘proses/keadaan’.
Contoh: menyeluruh -» verba 2
Ø Verba Depronominal
Dari data hanya ditemukan satu kategori morfologis verba depronominal, yaitu kategori meng-(D-i), yang berasal dari pronomina bentuk dasar kemudian diderivasikan menjadi verba kategori D-i yang menyatakan makna ‘repetitif. Contoh: mengakui —>• verba 1
3. Kelas Adjektiva
Untuk menentukan suatu kata termasuk adjektiva, digunakan valensi sintaktis karena perangkat kategori morfologis pembangun kerangka sistem morfologi adjektiva itu ditandai oleh valensi sintaktis yang sama yaitu mempunyai potensi berkombinasi dengan kata: sangat, agak, paling, amat, sekali,
Kelas adjektiva yang ditemukan pada data hanya satu kategori morfologis, yaitu berupa adjektiva bentuk dasar yang terdiri dari:
Contoh: apes, aman, akrab, takut, basah, banyak, baik, bodoh, cukup, kerdil, salam, suka, sudah, tersinggung, berwibawa, terlalu, spona, serius, sering, cantik, tenang,
4. Kelas Numeralia
Untuk menentukan suatu kata lermasuk numeralia, digunakan valensi sintaktis karena perangkat kategori morfologis pembangun kerangka sistem morfologis numeralia itu ditandai oleh valensi: sintaktis yang sama yaitu dapat bergabung dengan nomina.
Kelas numeralia yang ditemukan pada data hanya ada satu macam yaitu nrmeralia murni. Adapun yang dimaksud numeralia murni adalah numeralia yang tidak berasal dari kelas kata lain. Numeralia murni ini terdiri dari numeralia dasar
monomorfemis) dan numeralia tunman (polimortemis). Numeralia turunan yang terbentuk dari kata-kata numeralia disebut niimeralia denumeral.
a. Numeralia Dasar
Numeralia murni berbentuk dasar yang ditemukan pada data ada dua macam, yaitu:
Contoh: sebuah, sederet, dua, tujuh, sembilan, setiap, seorang,
b. Numeralia Denumeral
Numeralia denumeral tidak ditemuka pada data kartu kata,
5. Kelas Adverbia
Untuk menentukan suatu kata termasuk adverbia, digunakan valensi sintaktis karena perangkat kategori morfologis pembangun kerangka sistem morfologi adverbia itu ditandai oleh valensi sintaktis yang sama yaitu dapat bergabung dengan verba.
Kelas adverbia yang ditemukan pada data hanya ada satu kategori morfologis, yaitu berupa adverbia bentuk dasar yang terdiri dari:
Contoh: tak, telah, akan, baru, sudah, sedang, saja, juga,
6. Kelas Pronomina
Pronomina yang ditemukan pada data meliputi tiga macam, yaitu:
a. Pronomina persona:
Contoh aku, suya,, anda, mereka.
b. Pronomina penunjuk:
Contoh: itu, adalah
c. Pronomina penanya:
Contoh: bila, kapan.
7. KataTugas
Dari data yang ada ditemukan kata tugas yang meliputi:
1. Preposisi:
Contoh: pada, kepada, di, terhadap, olch karena.
Konjungsi:
Contoh: lalu, serta, yang, bahkan, sebelum, kulau, karena, tetapi, muku, ketika. kemudian, scakan-akan.
PEMBAGIAN KELAS KATA DALAM BAHASA INDONESIA
1. VERBA
Secara sintaksis sebuah satuan gramatikal dapat diketahui berategoi verba dari perilakunya dari satuan yang lebih besar; jadi sebuah kata dapat dikatakan berkaegori verba hanya dari peri lakunya dalam frase, yakni dalam hal kemunginannya satuan itu didampingi partikel tidak dalam konstruksi dan dalam hal tidak dapat didampinginya satuan itu dangan partikel di, ke, dari, atau dengan partikel seperti sangat, lebih, atau agak. Secara umum verba dapat diidentifikasikan dan dibedakan dari kelas kata yang lain, terutama dari adjektiva, karena ciri-ciri berikut.
a. Verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain.
Contoh:
1. Pencuri itu lari.
2. Mereka sedang belajar di kamar.
3. Bom itu seharusnya tidak meledak.
4. Orang asing itu tidak akan suka masakan Indonesia.
Bagian yang dicetak miring dalam kalimat di atas adalah predikat, yaitu bagian yang menjadi pengikat bagian lain dalam kalimat itu.
b. Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
c. Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti “paling”. Verba seperti mati atau suka, misalnya, tidak dapat diubah menjadi termati atau tersuka.
d. Pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan. Tidak ada bentuk seperti agak belajar, sangat pergi, dan bekerja sekali
VERBA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA
Tiap verba memiliki makna inheren yang terkandung di dalamnya
mengandung makna inheren perbuatan. Contoh: lari, belajar, mendekat, mencuri, memberhentikan, menakut-nakuti, naik haji.
Verba seperti itu biasanya dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan Apa yang dilakukan oleh subyek?
Semua verba perbuatan dapat dipakai dalam kalimat perintah.
Mengandung makna inheren proses. Contoh: meledak, mati, jatuh, mongering, mengecil, kebanjiran, terdampar.
Verba yang mengandung makna itu biasanya dapat menjawab pertanyaan Apa yang terjadi pada subyek?
Verba proses juga menyatakan adanya perubahan dari suatu keadaan ke keadaan lain.
Mengandung makna inheren keadaan. Contoh: suka, mati, berguna.
Verba keadaan menyatakan bahwa acuan verba berada dalam situasi tertentu. Verba keadaan sering sulit dibedakan dari adjektiva karena kedua jenis kata itu mempunyai banyak persamaan. Bahkan dapat dikatakan bahwa verba keadaan yang tidak tumpang-tindih dengan adjektiva jumlahnya sedikit. Satu ciri yang dapat membedakan keduanya ialah bahwa perfiks adjektiva ter- yang berarti “paling” dapat ditambahkan pada adjektiva , tetapi tidak pada adjektiva keadaan.
Makna inheren suatu verba tidak terikat dengan wujud verba tersebut. Apakah suatu verba disebut kata dasar, kata yang tanpa afiks, atau dengan afiks, hal itu tidak mempengaruhi makna. Makna inheren juga tidak selalu berkaitan dengan status ketransitifan suatu verba.
- Verba pengalaman. Contoh: mendengar, melihat, tahu, lupa, ingat, menyadari.
- Makna verba yang muncul karena adanya afiksasi. Contoh: membelikan, memukuli, terbawa.
VERBA DARI SEGI PERILAKU SINTAKSISNYA
Verba merupakan unsur yang sangat penting dalam kalimat karena dalam kebanyakan hal verba berpengaruh besar terhadap unsur-unsur lain yang harus atau boleh ada dalam kalimat tersebut.
1. Verba Transitif
Verba transitif yaitu verba yang memerlukan nomina sbagai objek dalam kalimat aktif, dan objek itu dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif. Contoh:
1. a. Ibu sedang membersihkan kamar.
b. Kamar itu sedang dibersihkan oleh ibu.
2. a. Rakyat pasti mencintai pemimpin yang jujur.
b. Pemimpin yang jujur pasti dicintai oleh rakyat.
3. a. Polisi harus memperlancar arus lalu lintas.
b. Arus lalu lintas harus diperlancar oleh polisi.
4. a. Pemerintah akan memberlakukan peraturan itu segera.
b. Peraturan itu segera akan diberlakukan oleh pemerintah.
5. a. Sekarang orang sukar mencari pekerjaan.
b. Sekarang pekerjaan sukar dicari orang.
Verba transitif dapat dibedakan menjadi.
▪ Verba ekstransitif adalah verba transitif yang diikuti oleh satu objek.
Contoh: saya sedang mencari pekerjaan.
subyek obyek
Objek dalam kalimat yang mengandung verba ekatransitif dapat diubah fungsinya sebagai subyek dalam kalimat pasif.
▪ Verba dwitransitif adalah verba yang dalam kalimat aktif dapat diikuti oleh dua nomina, satu sebagai objek dan satunya lagi sebagai pelengkap.
Contoh: saya sedang mencarikan adik saya pekerjaan, ibu akan membelikan kakak baju baru. Sejumlah verba dwitransitif memiliki ciri semantis yang “membedakan fungsi objek dari pelengkap yang berupa nama, julukan, gelar, atau kedudukan. Contoh: mereka menamai bayi itu Sarah, masyarakat menuduh dia pencuri, dia memanggil saudaranya Alan. Bila kalimat ini dijadikan kalimat pasif, maka pelengkapnya bisa berada di belakang verba, di muka verba, kata tugas oleh umumnya tidak dipakai, kecuali bila ditempatkan di muka.
Ada pula verba yang dapat bersifat dwitransitif dan ekatransitif . Contoh: mereka memanggil kamu si Botak dan mereka memanggil kamu.
▪ Verba semi transitif ialah verba yang objeknya boleh ada dan boleh tidak. Contoh: ayah sedang membaca koran, ayah sedang membaca.
2. Verba Taktransitif
Verba taktransitif adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai subyek dalam kalimat pasif. Contoh:
1. Maaf, Pak, Ayah sedang mandi.
2. Kami harus bekerja keras untuk membangun negara.
3. Petani di pegunungan bertanam jagung.
Verba taktransitif dibagi menjadi
▪ Verba berpelengkap. Jika pelengkap itu tidak hadir maka kalimat tidak sempurna dan tidak berterima. Contoh: Rumah orang kaya itu berjumlah lima puluh buah, yang dikemukakan adalah suatu dugaan, dia sudah mulai bekerja, nasi telah menjadi bubur,
▪ Verba taktransitif berpelengkap manasuka. Pelengkap tidak selalu hadir. Di antara verba seperti itu ada yang diikuti oleh kata atau frasa tertentu yang kelihatannya seperti pelengkap, tetapi sebenarnya adalah keterangan. Contoh: makin tua makin menjadi, pikiran yang dikemukakannya bernilai, film itu berwarna, bibit kelapa itu tumbuh subur
3. Verba Berpreposisi
Verba berpreposisi ialah verba taktransitif yang selalu diikuti oleh preposisi tertentu. Contoh:
1. Kami belum tahu akan/tentang hal itu.
2. Saya sering berbicara tentang hal ini.
3. Sofyan berminat pada musik.
4. Keberhasilan pembangunan banyak bergantung pada mentalitas para pelaksananya..
Di antara verba berpreposisi, ada yang sama artinya dengan verba ransitif. Contoh: berbicara tentang = membicarakan, cinta pada/akan = mencintai, suka akan = menyukai, tahu akan/tentang = mengetahui, bertemu dengan = menemui.
VERBA DARI SEGI BENTUKNYA
1. Verba Asal
Verba asal ialah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks. Contoh: ada, bangun, cinta, gugur, hancur, hidup, dating, paham, pecah.
2. Verba Turunan
Verba turunan adalah verba yang dibentuk melalui trasposisi, pengafiksan, reduplikasi (pengulangan), atau pemajemukan (pemaduan).
▪ Transposisi adalah suatu proses penurunan kata yang memperlihatkan peralihan suatu kata dari kategori sintaksis yang satu ke kategori sintaksis yang lain tanpa mengubah bentuknya. Contoh: telepon, cangkul, gunting, sikat.
▪ Pengafiksan adalah penambahan afiks pada dasar. Contoh: membeli, mendarat, beremu, bersepeda.
▪ Reduplikasi adalah pengulangan suatu dasar. Contoh: lari-lari, makan-makan, tembak-menembak, mereka-reka.
▪ Pemajemukan adalah penggabungan atau pemaduan dua dasar atau lebih sehingga menjadi satu satuan makna. Contoh: jual beli, jatuh bangun, salah sangka, salah hitung, hancur lebur.
DILIHAT DARI HUBUNGAN VERBA DENGAN NOMINA
1. Verba Aktif,
yaitu verba yang subyeknya berperan sebagai pelaku.
Contoh: ia mengapur dinding; saya makan nasi;
2. Verba pasif,
yaitu verba yang subyeknya berperan sebagai penderita, sasaran, atau hasil.
Contoh: Adik dipukul ayah; buku itu terinjak olehku.
3. Verba anti – aktif (ergatif),
yaitu verba pasif yang tidak dapat diubah menjdi verba aktif, dan subyeknya merupakan penanggap ( yang merasakan, menderita, mengalami).
Contoh: Ibu kecopetan di bis. ( yang tidak berasal dari ’X mencopet ibu)
4. Verba anti – pasif,
yaitu verba aktif yang tidak dapat diubah menjadi verba pasif.
Contoh: Ia haus akan kasih sayang; pemuda ini benci terhadap perempuan.
DILIHAT DARI INTERAKSI ANTARA NOMINA PENDAMPINGNYA
1. Verba Respirokal,
yaitu verba yang menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh dua pihak, dan perbuatan tersebut dilakukan dengan saling berbalasan. Kedua belah pihak terlibat perbuatan.
Contoh: berkelahi, berpegangan, tolong – menolong.
2. Verba non-respirokal,
yaitu verba yang tidak menyatakan perbuatan yang dilakukan oleh dua pihak dan tidak saling berbalasan.
2. NOMINA
Nomina sering juga disebut kata benda. Dari segi sintaksisnya, nomina mempunyai ciri-ciri tertentu.
a. Dalam kalimat yang predikatnya verba, nomina cenderung menduduki fungsi subyek, objek, atau pelengkap.
b. Nomina tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak. Kata pengingkarnya ialah bukan.
c. Nomina umumnya dapat diikuti oleh adjektiva, baik secara langsung maupun dengan diantarai oleh kata yang.
d. Mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari.
NOMINA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA
Tiap kata dalam bahasa mana pun mengandung fitur-fitur semantic yang secara universal melekat pada kata tersebut. Pemakaian preposisi di, di dalam, dan di atas dipengaruhi oleh fitur semantic yang ada pada nomina porosnya. Kata-kata dalam bahasa sering pula dipengaruhi oleh budaya masyarakat yang bersangkutan. Contoh: gadis itu akan kawin dengan Agus minggu depan, Agus akan mengawini gadis itu minggu depan, di dalam laci, di meja.
NOMINA DARI SEGI PERILAKU SINTAKSISNYA
Pada frasa nominal, nimina befungsi sebagai ini atau poros frasa. Sebagai inti frasa, nomina menduduki bagian utama, sedangkan pewatasnya berada di muka atau di belakangnya. Bila pewatas frasa nominal itu berada di muka, pewatas ini umumnya berupa numeralia atau kata tugas. Contoh: lima lembar, seorang guru, beberapa sopir, bukan jawaban, banyak masalah.
Kalau pewatas berada di belakang nomina, nomina yang merupakan inti frasa itu diikuti oleh pewatas yang berupa nomina, ajektiva, verba, atau kelas kata yang lain. Contoh: masalah penduduk, kelas ringan, pola berpikir, rumah kita, tabungan berjangka.
Nomina juga digunakan dalam frasa preposisional. Nomina bertindak sebagai poros yang didahului oleh preposisi tertentu. Contoh: di kantor, ke desa, dari markas, untuk adekmu, pada masa itu.
NOMINA DARI SEGI BENTUKNYA
1. Nomina Dasar
Nomina dasar adalah nomina yang hanya terdiri atas satu morfem.
a. Nomina dasar umum
Contoh: gambar, meja, rumah, malam, minggu.
b. Nomina dasar khusus
Contoh: adik, atas batang, bawah, dalam.
Dalam kelompok nomina dasar khusus kita temukan bermacam-macam subkategori kata dengan beberapa fitur semantiknya.
1. Nomina yang mengacu pada tempat seperti di atas, di bawah, di dalam.
2. Nomina yang mengacu pada nama geografis.
3. Nomina yang menyatakan penggolongan kata berdasarkan bentuk rupa acuannya secara idiomatis.
4. Nomina yang mengacu pada nama diri orang.
5. Nomina yang mengacu pada orang yang masih mempunyai hubungan kekerabatan.
6. Nomina yang mengacu pada nama hari.
2. Nomina Turunan
Nomina dapat diturunkan melalui afiksasi, perulangan, atau pemajemukan.
▪ Afiksasi nomina adalah suatu proses pembentukan nomina dengan menambahkan afiks tertentu pada kata dasar. Ada tujuh macam afiksasi dalam penurunan nomina:
1. ke-
contoh: ketua, kehendak, kekasih dan kerangka.
2. pel-, per-, dan pe-
contoh: pelajar, pertapa, persegi, petani, perdagangan.
3. peng-
a. orang atau hal yang melakukan perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: pembeli, pendobrag, pengawas, pemilih, pengirim, pengetes.
b. orang yang pekerjaannya melakukan kegiatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: penyanyi, pelaut, pemulung, pengemis, penyiar.
c. orang yang memiliki sifat yang dinyatakan oleh adjektiva dasarnya. Contoh: pemarah, penakut, pelupa, pemalas, periang.
d. alat untuk melakukan kegiatan yang dilakukan oleh verba. Contoh: penggali, penghapus, pembersih, pendorong, penopang.
3. –an
a. hasil tindakan atau sesuatu yang dinyatakan oleh verba. Contoh: anjuran, kiriman, asinan, kiloan.
b. Makna lokasi. Contoh: tepian, belokan, awalan, akhiran.
c. Waktu yang berkala. Contoh: harian, mingguan, bulanan, tahunan.
d. Buah-buahan. Contoh: durian, rambutan.
e. Kumpulan dari nomina. Contoh: sayuran, lautan.
4. peng-an
a. perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: pemberontakan, pendaftaran, pengunduran, penyajian, pelampiasan.
b. hasil perbuatan; hal yang dinyatakan verba. Contoh: pengakuan, penghargaan, penyelesaian, pengumuman, pemberitaan.
c. maknanya unik sehingga harus ditentukan sendiri-sendiri. Contoh: pendirian, pendapatan, pemandangan, pendengaran.
5. per-an
a. diturunkan dari verba taktransitif dan berawalan ber-. Contoh: perjanjian, pergerakan, perjalanan, pertemuan, perpindahan.
b. Berkaitan dengan verba meng- atau memper- yang berstatus transitif. Contoh: perlawanan, permintaan, percobaan, pergelaran, perjuangan.
c. Hal, keadaan, atau hasil yang dinyatakan oleh verba. Contoh: pergerakan, perdagangan, pertanian, perjuangan.
d. Perbuatan yang dinyatakan oleh verba. Contoh: perkelahian, perzinaan, percakapan,ercobaan, perlawanan.
e. Hal yang berkaitan dengan kata dasar. Contoh: perikanan, perkapalan, perbukuan, perburuhan, persuratkabaran.
f. Tempat yang dirujuk oleh verba atau kata dasar. Contoh: perapian, perkotaan, perkampungan, perkemahan, perguruan.
6. ke-an
a. hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan verba. Contoh: kepergian, kedatangan, kehadiran, keberangkatan, keputusan, ketetapan.
b. Hal atau keadaan yang berhubungan dengan yang dinyatakan adjektiva. Contoh: kekosongan, keberanian, kebimbangan, kemalasan, kekecewaan.
c. Keabstrakan. Contoh: kebangsaan, kemanusiaan, kerakyatan, kekeluargaan.
d. Kantor atau wilayah kekuasaan. Contoh: kedutaan, kelurahan, kecamatan.
e. Kumpulan dari kata dasar. Contoh: kepulauan.
▪ Perulangan atau reduplikasi adalah proses penurunan kata dengan perulangan, baik secara utuh maupun secara sebagian.
1. Ketaktunggalan
Makna Keanekaan. Contoh: bangun-bangunan, coret-coret, desas-desus, warna-warni, teka-teki.
Makna Kekolektifan. Contoh: dedaunan, pepohonan, biji-bijian, daun-daunan, rumput-rumputan.
2. Kemiripan
Makna Kemiripan Rupa. Contoh: bapak-bapak, kakek-kakek, mata-mata, kuda-kuda, jari-jari.
Makna Kemiripan Cara. Contoh: kucing-kucingan, angina-anginan, kebelanda-belandaan, kekanak-kanakan, kegila-gilaan.
SUBKATEGORISASI TERHADAP NOMINA DILAKUKAN DENGAN MEMBEDAKAN:
1. Nomina bernyawa dan tak bernyawa
Nomina bernyawa dapat disubtitusikan dengan ia atau mereka, sedangkan yang tak bernyawa tidak dapat.
Contoh nomina bernyawa: nenek, nona, tuan.
Contoh nomina tak bernyawa: Jawa, sekarang, karung.
2. Nomina terbilang dan tak terbilang
Nomina terbilang adalah nomina yang dapat dihitung (dan dapat didampingi oleh numeralia) seperti kantor, kampung, buku.
Nomina tak terbilang ialah nomina yang tak dapat didampingi oleh numeralia seperti udara, kebersihan; termasuk pula nama diri dan nama geografis.
3. Nomina kolektif dan bukan kolektif
Nomina kolektif mempunyai ciri dapat disubtitusikan dengan mereka atau dapat diperinci atas anggota atau atas bagian – bagian. Nomina kolektif terdiri atas nomina dasar seperti: tentara, puak, keluarga, dan nomina turunan seperti: wangi – wangian, tepung – tepungan.
3. NUMERALIA
Numeralia adalah kata yang dipakai untuk menghitung banyaknya maujud (orang, binatang, atau brang) dan konsep. Numeralia adalah kategori yang dapat (1) mendampingi nomina dalam konstruksi sintaksis, (2) mempunyai potensi untuk mendamping numeralia lain, dan (3) tidak dapat bergabung dengan tidak atau dengan sangat. Numeralia mewakili bilangan yang terdapat dalam alam diluar bahasa.
NUMERALIA POKOK
1. Numeralia pokok tentu,
mengacu pada bilangan pokok, yakni 0(nol), 1(satu), 2(dua), sampai 9(Sembilan).Ada pula numeralia yang merupakan gugus yaitu diantara sepuluh dan dua puluh dipakai gugus yang berkomponen belas. Bilangan di atas bilangan sembilan belas dinyatakan dengan menganggap seolah olah bilangan itu terdiri atas beberapa gugus dan bilangan. Contoh : 7.859 =Tujuh ribu delapan ratus lima puluh Sembilan. Dalam bahasa Indonesia baku, numeralia pokok ditempatkan di muka nomina dan dapat diselingi oleh kata penggolong seperti orang, ekor, dan buah. Contoh: majalah kami memerlukan tiga orang penyunting, pak hasan mempunyai dua ekor burung merak.
2. Numeralia pokok kolektif,
dibentuk dengan prefiks ke- yang ditempatkan dimuka nomina yang diperankan. Contoh: ketiga pemain, kedua gedung, kesepuluh anggota. Jika tidak diikuti oleh nomina, biasanya bentuk itu diulang dan dilengkapi dengan -nya. Contoh: kedua-duanya, ketiga-tiganya.
Numeralia kolektif dibentuk dengan cara
1. Penambahan prefiks ber- atau se- pada nomina tertentu setelah numeralia. Contoh: tiga bersaudara, empat beranak, tiga sekawan, tiga serangkai, dua sejoli.
2. Penambahan prefiks ber- pada numeralia pokok dan hasilnya diletakkan sesudah pronominal persona. Contoh: (kamu) berlima, (kami) berenam.
3 Pemakain numeralia yang berprefiks ber- dan yang diulang. Contoh: beribu- ribu, berjuta-juta.
4. Pemakaian gugus numeralia yang bersufiks –an. Contoh: puluhan, ratusan.
3. Numeralia pokok distributif,
dapat dibentuk dengan cara mengulang kata bilangan. Artinya ialah ‘demi’ dan ‘masing-masing’. Contoh: satu-satu, dua-dua.
4. Numeralia pokok tak tentu,
mengacu pada jumlah yang tidak pasti dan sebagian besar numeralia ini tidak dapat menjadi jawaban atas peranyaan yang memakai kata tanya berapa, ditempatkan di muka nomina yang diterangkannya. Contoh: banyak orang, berbagai masalah, pelbagai budaya, sedikit air, semua jawaban, seluruh rakyat, segala penjuru, segenap anggota.
5. Numeralia pokok klitika,
yaitu numeralia lain yang dipungut dari bahasa Jawa Kuna, diletakkan di muka nomina yang bersangkutan. Contoh: triwulan, caturwulan, pancasila, saptamarga, dasalomba.
6. Numeralia ukuran.
Contoh: lusin, kodi, meter, liter, atau gram.
NUMERALIA TINGKAT
Numeralia pokok dapat diubah menjadi numeralia tingkat. Cara mengubahnya adalah dengan menambahkan ke- di muka bilangan yang bersangkutan. Contoh: kesatu atau pertama, kesepuluh, pemain ketiga, jawaban kedua itu, suara pertama.
NUMERALIA PECAHAN
Tiap bilangan pokok dapat dipecah menjadi bagian yang lebih kecil yang dinamakan numeralia pecahan. Cara membentuknya dengan memakai kata per- diantara bilangan pembagi dan penyebut. Bilangan pecahan dapat mengikuti bilangan pokok. Bilangan campuran dapat ditulis desimal. Contoh: 1/2 = seperdua, setengah, separuh; 1/10 = sepersepuluh; 3/5 = tiga perlima; 9,75 = sembilan tigaperempat atau sembilan koma tujuh lima.
FRASA NUMERALIA
Umumnya dibentuk dengan menambahkan kata penggolong. Contoh: dua ekor (kerbau), lima orang (penjahat), tiga buah (rumah).
4. ADJEKTIVA
Adjektiva ialah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat.
Adjektiva ditandai oleh kemungkinannya untuk (1) bergabung dengan partikel tidak, (2) mendampingi nomina, atau (3) didampingi partikel seperti lebih, sangat, agak, (4) mempunyai ciri – ciri morfologis, seperti –er- (dalam honorer), -if (dalam sensitif ), -i (dalam alami), atau (5) dibentuk menjadi nomina dengan konfiks ke-an, seperti adil – keadilan, halus – kehalusan, yakin – keyakinan (ciri terakhir ini berlaku bagi sebagian besar adjektiva dasar dan bisa menandai verba intransitif, jadi ada tumpang tindih di antaranya)
Adjektiva yang memberikan keterangan terhadap nomina itu berfungsi atributif.
▪ Keterangan itu dapat mengungkapkan suatu kualitas atau keanggotaan dalam suatu golongan. Contoh: kecil, berat, merah, bundar, gaib, dan ganda.
▪ Berfungsi sebagai predikat dan adverbial kalimat, dapat mengacu ke suatu keadaan. Contoh: mabuk, sakit, basah, baik, dan sadar.
▪ Kemungkinan menyatakan tingkat kualitas dan tingkat bandingan acuan nomina yang diterangkannya. Contoh: sangat, agak, lebih, dan paling.
ADJEKTIVA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA
1. Adjektiva Bertaraf
Adjektiva bertaraf mengungkapkan suatu kualitas.
a. Adjektiva pemeri sifat. Jenis ini dapat memerikan kualias dan intensitas yang bercorak fisik atau mental. Contoh: aman, bersih, cocok, dangkal, indah.
b. Adjektiva ukuran, mengacu ke kualitas yang dapa diukur dengan ukuran yang sifatnya kuantitatif. Contoh: berat, ringan, tinggi, panjang, luas.
c. Adjektiva warna, mengacu ke berbagai warna seperti merah, kuning, hijau, biru, lembayung.
d. Adjektiva waktu mengacu ke makna proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung sebagai pewatas. Contoh: lama, segera, jarang, mendadak, singkat,.
e. Adjektiva jarak mengacu ke ruang antara dua benda, tempat, atau maujud sebagai pewatas nomina. Contoh: jauh, dekat, lebat, suntuk, akrab.
f. Adjektiva sikap batin bertalian dengan pengacuan suasana hati atau perasaan. Contoh: bahagia, bangga, benci, iba, jemu, yakin.
g. Adjektiva cerapan bertalian dengan pancaindera, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman atau penghiduan, perabaan, dan pencitarasaan. Ciri yang menarik pada adjektiva cerapan dalam kalimat ialah sering terjadinya gejala sinestesi. Artinya, ada penggabungan indra yang nertalian dengan nomina dan adjektiva yang mengacu kepada dua macam cerapan yang berbeda. Contoh: gemerlap, bising, anyir, basah, asam.
2. Adjektiva Tak Bertaraf
Adjekiva tak bertaraf menempatkan acuan nomina yang diwatasinya di dalam kelompok atau golongan tertentu. Kehadirannya dalam lingkungan itu tidak dapat bertaraf-taraf. Sesuatu ada di dalamnya atau di luarnya. Contoh: abadi, buntu, bundar, lonjong, tunggal.
ADJEKTIVA DARI SEGI PERILAKU SINTAKSISNYA
1. Fungsi Atributif
Adjektiva yang merupakan pewatas dalam frasa nominal yang nominalnya menjadi subyek, objek, atau pelengkap dikatakan dipakai secara atributif. Tempatnya di sebelah kanan nomina. Jika pewatas nomina lebih dari satu, rangkaian pewatas itu lazimnya dihubungkan oleh kata yang. Contoh: buku merah, harga mahal, baju putih yang panjang, mobil tua yang murah, baju putih yang panjang dan bersih.
2. Fungsi Predikatif
Adjektiva yang menjalankan fungsi predikat atau pelengkap dalam klausa dikatakan dipakai secara predikatif. Jika subjek atau predikat kalimat berupa frasa atau klausa yang panjang disisipkan kata adalah. Adjektiva dapat disebut frasa adjectival atau inti frasa, dapat diwatasi dengan pemarkah aspektualitas dan pemarkah modalitas yang ditempatkan di sebelah kirinya. Adjektiva dalam frasa adjectival dapat juga diikuti pewatas yang berposisi di seelah kanannya. Contoh: gedung yang baru itu sangat megah, kabar itu membuat mereka gembira, yang disarankannya kepadamu itu (adalah) baik, (adalah) wajar bagi seorang istri jadi cemburu, tidak keras kepala, sakit lagi.
3. Fungsi Adverbial atau Keterangan
Adjektiva yang mewatasi verba (atau adjektiva) yang menjadi predikat klausa dikatakan dipakai secara adverbial atau sebagai keterangan. Pola struktur adverbial itu dua macam: (1) … (dengan) + (se-) + adjektiva + (-nya) yang dapat disertai reduplikasi dan (2) perulangan adjektiva. Contoh: (bekerja) dengan baik, (bekerja) baik-baik, (menjawab) dengan sebenarnya, (menjawab) sebenar-benarnya, terbang tinggi-tinggi, Undi bekerja dengan baik sekali.
ADJEKTIVA DARI SEGI BENTUKNYA
1. Adjektiva Dasar (Monomorfemis)
Contoh: besar, merah, bundar, pura-pura, hati-hati.
2. Adjektiva Turunan
a. Hasil pengafiksan tentang tingkat ekuatif dengan prefiks se-, tingkat superlatif dengan prefiks ter-
b. Hasil pengafiksan dengan infiks atau sisipan –em- pada nomina, adjektiva yang jumlahnya sangat terbatas. Contoh: gemetar, gemuruh, gemerlap, temaram, sinambung.
c. Hasil penyerapan adjektiva berafiks dari bahasa lain seperti bahasa Arab, Belanda, dan Inggris. Contoh: alami, alamiah, insani, aktif , agresif.
5. ADVERBIA
Dalam tataran frasa, Adverbia adalah kata yang menjelaskan verba, adjektiva, atau adverbia lain. Adverbia adalah kategori yang dapat mendampingi adjektiva, numeralia, atau proposisi dalam konstruksi sintaksis. Sekalipun banyak adverbial dapat mendampingi verba dalam konstruksi sintaksis, namun adanya verba itu bukan menjadi ciri adverbia.
Adverbia tidak boleh dikacaukan dengan keterangan, karena adverbia merupakan konsep kategori; sedangkan keterangan merupakan konsep fungsi. Adverbia dapat ditemui dalam bentuk dasar dan bentuk turunan. Bentuk turunan itu terwujud melalui afiksasi, reduplikasi, gabungan proses, gabungan morfem.
Dalam tataran klausa, adverbia mewatasi atau menjelaskan fungsi-fungsi sintaksis. Umumnya kata atau bagian kalimat yang dijelaskan adverbia itu berfungsi sebagai predikat. Contoh:
▪ ia sangat mencintai istrinya.
▪ Guru saja tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
▪ Melihat penampilannya, ia pasti seorang guru.
▪ Hanya petani yang menanam jagung.
▪ Tampaknya dia tidak menyetujui usul itu.
ADVERBIA DARI SEGI BENTUKNYA
1. ADVERBIA TUNGGAL
a. Adverbia yang berupa kata dasar, hanya terdiri atas satu kata dasar. Contoh: baru, hanya, lebih, hamper, saja, sangat.
b. Adverbia yang berupa kata berafiks, diperoleh dengan menambahkan gabungan afiks se—nya atau afiks –nya pada kata dasar. Contoh: sebaiknya, sesungguhnya, agaknya, rupanya, rasanya.
c. Adverbial yang berupa kata ulang
▪ Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar. Contoh: diam-diam, lekas-lekas, pela-pelan, tinggi-tinggi, lagi-lagi.
▪ Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahan prefiks se-. Contoh: setinggi-tinggi, sepandai-pandai, sebesar-besar, sesabar-sabar, segalak-galak.
▪ Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahah sufiks –an. Contoh: hais-habisan, mati-matian, kecil-kecilan, gila-gilaan, gelap-gelapan.
▪ Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahan gabungan afiks se—nya. Contoh: setinggi-tingginya, sedalam-dalamnya, seikhlas-ikhlasnya, sekuat-kuatnya, selembut-lembutnya.
2. ADVERBIA GABUNGAN
Adverbia gabungan terdiri atas dua adverbia yang berupa kata dasar.
1. Adverbia yang berdampingan. Contoh: lagi pula, hanya saja, hampir selalu, acapkali.
2. Adverbia yang tidak berdampingan. Contoh: hanya … saja, belum … lagi, hamper … kembali, hanya … kembali, tidak … saja.
ADVERBIA DARI SEGI PERILAKU SINTAKSISNYA
Dapat dilihat berdasarkan posisinya terhadap kata atau bagian kalimat yang dijelaskan oleh adverbial yang bersangkutan.
1. Adverbia yang mendahului kata yang diterangkan:
▪ Ia lebih tinggi dari pada adiknya.
▪ Telaga itu sangat indah.
▪ Pendiriannya terlalu kukuh untuk digoyangkan.
▪ Kami hanya menulis apa yang dikatakannya.
2. Adverbia yang mengikuti kata yang diterangkan:
▪ Tampan nian kekasih barumu.
▪ Kami duduk-duduk saja menunggu pangilan.
▪ Jelek benar kelakuannya.
3. Adverbia yang mendahului atau mengikuti kata yang diterangkan:
▪ Mahal amat harga barang-barang itu.
▪ Paginya ia segera pergi meninggalkan kami.
4. Adverbia yang mendahului dan mengikuti kata yang diterangkan:
▪ Saya yakin bukan dia saja yang pandai.
▪ Bagiku, senyumnya sangat manis sekali.
ADVERBIA DARI SEGI PERILAKU SEMANTISNYA
1. Adverbia Kualitatif
Menggabarkan maknayang berhubungan dengan tingkat, derajat, atau mutu. Contoh: paling, sangat, lebih, dan kurang.
2. Adverbia Kuantitatif
Menggambarka makna yang berhubungan dengan jumlah. Contoh: banyak, sedikit, kira-kira, dan cukup.
3. Adverbia Limitatif
Menggambaran makna yang berhubungan dengan pembatasan. Contoh: hanya, saja, dan sekedar.
4. Adverbia Frekuentatif
Menggambarkan makna yang berhubungan dengan tingkat kekerapan terjadinya sesuatu yang diterangkan adverbial itu. Contoh: selalu, sering, jaang, dan kadang-kadang.
5. Adverbia Kewaktuan
Menggambarkan makna yang berhubungan dengan saat terjadinya peristiwa yang diterangkan oleh adverbial itu. Contoh: baru dan segera.
6. Adverbia Kecaraan
Menggambarkan makna yang berhubungan dengan bagaimaa peristiwa yang dierangkan oleh adverbial itu berlangsubg atau terjadi. Contoh: diam-diam, secepatnya, pelan-pelan..
7. Adverbia Kontrastif
Menggambarkan perentangan dengan makna kata atau hal yang dinyataka sebelumnya. Contoh: bahkan, malahan, dan justru.
8. Adverbia Keniscayaan
Menggambarkan makna yang berhubungan dengan kepastian tentang keberlangsungan aau terjadinya hal atau peristiwa yang dijelaskan adverbial itu. Contoh: niscaya, pasti, dan tentu.
ADVERBIA KONJUNGTIF
Adverbia konjungtif adalah adverbia yang menghubungkan satu klausa atau kalimat dengan klausa atau kalimat yang lain. Contoh: (akan) teapi, bahkan, bahwasanya, dengan demikian, kecuali itu.
ADVERBIA PEMBUKA WACANA
Adverbia pembuka wacana pada umumnya mengawali suatu wacana. Hubunganny pada paragraf sebelumnya didasarkan pada makna yang terkandung pada paragraf sebelumnya itu. Contoh: adapun, akan hal, alkisah, arkian, dalam pada itu.
PROPOSAL TENTANG FONOLOGIS
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang dan Masalah
1.1.1 Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk dilihat dari sejarahnya tidak pernah hidup menyendiri, bersuku atau berbangsa. Mereka saling berhubungan dalam usaha membentuk kesatuan terutama dalam upaya memenuhi kebutuhan dalam berbagai upaya memenuhi kebutuhan dalam berbagai aspek kehidupan.
Hubungan yang dilatarbelakangi oleh adanya kontak sosial antara beberapa masyarakat, langsung maupun tidak langsung membawa akibat terjadinya kontak budaya. Dalam situasi yang demikian akan terjadi prosespengaruh mempengaruhi dan serap-menyerap unsur budaya lain. Semakin rapat lingkungan pergaulan mereka semakin besar pula pengaruh budaya yang masuk di dalamnya.
Pemakaian bahasa sebagai alat komunikasi merupakan tanda kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh manusia. Namun, kemampuan berbahasa harus diusahakan dan harus dipelajari secara formal maupun informal sebelum manusia memiliki kemampuan ini. Bahasa daerah sebagai bagian dari kebudayaan nasional berfungsi antara lain sebagai alat komunikasi antar warga satu suku, meskipun dalam kegiatan komunitas tertulis sebagian besar menggunakan bahasa indonesia. Disamping itu, bahasa daerah juga berfungsi sebagai bahasa pengantar di sekolah terutama di kelas permulaan utamanya dibeberapa daerah perdesaan.
Kita menyadari bahwa bansa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dan lata budaya yang berbeda-beda yang mendiami berbagai daerah terbentang dari ujung utara Sumatera sampai ujung selatan Irian jaya. Berbagai suku bansa ini tercermin pada keanekaragamanbudaya dan kelompok-kelompok suku yang merupakan subbudayanya nasional sesuai dengan motto yang tertulis pada lambang Negara yang berbunyi “Bhineka Tunggal Ika”(berbeda-beda tetap satu juga). Bahasa, baik bahasa Nasional yaitu bahasa Indonesia(BI) maupun bahasa daerah (BD) sebagai dari upaya mendapat tempat tersendiri dalam kebudayaan indonesia yang perlu dilindungi dan di bina. Hal ini selaras dengan bunyi penjelasan bab XV pasal 36 undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945.
Sebagai satu bangsa yang multietnit diasosiasikanbahwa warga Negara Indonesia pada umumnya paling sedikit menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa daerah (bahasa ibu) dan bahasa indonesia dalam interaksi sosial budayanya. Bahasa daerah dipakai untuk keperluan komunikasi antar warga sesuku, meskipun dalam kegiatan komunikasi antar warga sebagai bagian integral kebudayaan, tidak dapat lepas dari masalah diatas (Kontjaraningrat, 1975:6).
Salah satu bahsa daerah Sulawesi Tenggara adalah bahasa Tolaki. Bahasa Tolaki merupakan bahasa daerah yang memiliki fungsi dan kedudukan cukup penting dalam kehidupan masyarakat Tolaki. Bahasa ini berfungsi sebagai bahasa ibu, bahasa pergaulan, bahasa pengantar sekolah dasar, alat komunikasi utama dalam kehidupan sehari-hari serta berfungsi sebagai alat pendukung kebudayaan daerah seperti tercermin dalam berbagai bentuk kesenian dan adat masyarakat Tolaki. Upacara-upacara adat pada umumnya disampaikan dengan bahasa Tolaki.
Dengan demikian, jelas bahwa pemakaian bahasa indonesia oleh masyarakat yang berbagai ragam dalam berkomunikasi itu akan menimbulkan interfensi, termasuk penggunaan bahasa indonesia oleh murid-murid sekolah dasar beralamat di daerah perdesaan jarang menggunakan bahasa Indonesia . bahasa indonesia hanya digunakan di sekolah, sedangkan di rumah atau dilingkungan masyarakat pada umumnya mereka menggunakan bahasa daerah.
Faktor lain yang mempengaruhi interferensi ini adalah adanya kemiripanbeberapa kataterutama bahasa-bahasa yang masih sempurna. Seperti halnya suku-suku bangsa di Indonesia lainnya, sebagian besar masyarakat suku Tolaki disamping menggunakan bahasa daerah sebagai alat komunikasi juga menggunakan bahasa Indonesia. Namun, dalam penggunaan kedua bahasa tersebut ada yang mampu menggunakan sesuai dengan norma-norma masing-masing bahasa tersebut, tetapi adapula yang kurang mampu, terutama murid-murid sekolah dasar yang baru belajar bahasa Indonesiasebagai bahasa kedua. Pemakaian bahasa Indonesia oleh murid-murid tersebut akan dipengaruhi oleh bahasa Tolaki, baik sistemnya maupun dalam bentuk bunyinya.
Istilah interferensi terkandung arti pengaturan kembali pola-pola yang disebabkan oleh masuknya elemen-elemen asing ke dalam bahasa yang berstruktur lebih tinggi, misalnya dalam sistem fonemis, sebagian besar morfologis dan sintaksis, serta beberapa perbendaharaan kata (Rindjin, 1981:22).
Sebagai mana dikemukakan di atas dalam bahasa Indinesia, kata-kata yang dapat dipelajari dalam waktu tertentu, terbatas sekali jumlahnya. Bahasa ibu yang pokok dipelajari oleh anak yang baru pandai berbicara dengan susah payah kata-kata itu merupakan bagian kebudayaan yang ada di lingkungan yang baru dikenalnya. Dia mempelajari pula kata-kata itu untuk memungkinkan membuat kalimat yang diinginkannya. Di sekolah dia belajar menuliskan kata-kata secara tidak terbatas sesuai dengan kurikulum sekolah (Lado, 1964:115).
Sering kita menyaksikan kenyataan sehari-hari banyak kalimat bahasa indonesia yang dituturkan oleh murid-murid tidak lagi memenuhi struktur pola kalimat bahasa Indonesia, sesuai dengan data di lapangan bahwa masyarakat Tawanga adalah masyarakat pada umumnya sebagai penutur bahasa daerah Tolaki dan pengaruh kuat terhadap bahasa Indonesia sehingga sulit untuk mempelajari bahasa indonesia sebagai bahasa kedua. Oleh sebab itu, untuk mengetahui ada tidaknya interferensi tersebut dalam bahasa Tolaki ke dalam bahasa Indonesia, maka penulis tertarik untuk melakukan penenlitian tentang interferensi fonologis bahasaTolaki dalam bahasa Indonesia
1.1.2 Masalah
Dalam penelitian ini diarahkan untuk masalah “bagaimana interferensi Fonologis Bahasa Tolaki dalam Penggunaan Bahasa indonesia”
1.2 Tujuan dan Mamfaat Penelitian
1.2.1 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh seperangkat data serta informasi yang lengkap tentang inferensi fonologis bahasa Tolaki dalam penggunaan bahasa Indonesia.
1.2.2 Mamfaat penelitian
Adapun mamfaat yang diharapkan dapat dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Memberikan informasi faktual tentang kemampuan menggunakan kosakata bahasa Indonesia
2. Sebagai bahan masukan bagi pengambil kebijakan dalam upaya meningkatkan pembelajaran bahasa indonesia.
3. Sebagai bahan informasi bagi peneliti selanjutnya yang sifatnya lebih mendalam dan relevan dengan obyek penelitian ini.
1.3 Ruang Lingkup penelitian
Berdasarkan masalah dan tujuan penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada hal-hal berikut ini:
a. Interferensi bahasa berupa penghilangan fonen
b. Interferensi bahasa berupa penggantian fonen
1.4 Batasan Masalah
Untuk menghindari salah tafsir, perlu pula dijelaskan istilah yang digunakan dalam penelitian ini.
1. Interferensi adalah pengaruh bahasa sebagai akibat kontak bahasa, dalam bentuk yang paling sederhana, terjadi berupa pengambilan satu unsur dari suatu bahasa dan dipergunakan dalam hubungan dengan bahasa lain.
2. Fonologis adalah subdisiplin linguistik yang khusus mempelajari bunyi-bunyi bahasa.
3. Penggunaan bunyi-bunyi yang berbahasa lain dalam dua sistem
4. Bahasa Tolaki adalah bahasa daerah bagi masyarakat suku tolaki yang mendiami wilayah kabupaten Kendari kolaka dan Konawe.
JENIS-JENIS KATA
A. Kata Benda atau Nomina
Kata benda adalah nama dari semua benda dan segala yang dibendakan.
Kata benda menurut wujudnya, dibagi atas :
1. Kata benda konkret
Kata benda konkret adalah nama dari benda-benda yang dapat ditangkap panca indera, dibagi alas:
a. Nama diri
b. Nama zat dan lain sebagainya.
2. Kata benda abstrak
Kata benda abstrak adalah nama-nama benda yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera.
Untuk menentukan apakah suatu kata masuk dalam kategori kata benda atau tidak, kita menggunakan dua prosedur:
1. Melihat dari segi bentuk sebagai prosedur pencalonan
2. Melihat dari segi kelompok kata ( frasa), sebagai prosedur penentuan
a) BENTUK
Segala kata yang mengandung morfem terikat ( imbuhan ) : ke-an, pe-an, ke-, dicalonkan sebagai kata benda.
Contoh: perumahan, kecantikan, pelari, kehendak dan lain-lain.
Tetapi di samping itu ada sejumlah besar kata yang tidak dapat ditentukan masuk kata benda berdasarkan bentuknya, walaupun diketahui bahwa itu adalah kata benda.
Contoh: meja, kursi, pohon, dan lain-lain
b) KELOMPOK KATA
Kedua macam kata benda itu (baik yang berimbuhan maupun yang tidak berimbuhan) dapat mengandung suatu ciri struktural yang sama yaitu dapat diperluas dengan yang + Kata Sifat
Contoh: perumahan yang baru
pelari yang cepat
kehendak yang baik
meja yang bagus
pohon yang tua
c) TRANSPOSISI
Suatu kata yang asalnya dari suatu jenis kata, dapat dipindahkan jenisnya ke jenis lain. Pemindahan itu terjadi karena menambahkan imbuhan atau partikel. Kata ajar, sebenarnya kata kerja, jika ditambahkan afiks pe-, maka dapat ditransposisikan menjadi kata benda: pelajar.
Sebaliknya ada kata benda yang dapat ditransposisikan menjadi kata kerja, misalnya kopi menjadi mengopi.
d) SUB-GOLONGAN KATA BENDA
Karena kata ganti adalah kata yang menduduki tempat kata benda dalam hubungannya atau posisi tertentu, serta strukturnya sama dengan kata benda, maka kata ganti dimasukan dalam jenis kata benda dan diperlakukan sebagai sub-golongan dari kata benda.
Melalui substitusi, kata ganti menduduki segala macam fungsi yang dapat diduduki oleh kata benda.
Contoh: Fitra pergi ke kampus Ia pergi ke kampus
Dosen mengajar Fitra Dosen mengajarnya
B. Kata Kerja atau Verba
Kata kerja adalah semua kata yang menyatakan perbuatan atau perilaku.
Berdasarkan pelengkapnya, kata kerja terbagi atas :
1. Kata kerja transitif: kata kerja yang menghendaki adanya suatu pelengkap.
Contoh: memukul, menangkap, melihat dan sebagainya
2. Kata kerja intransitif: kata kerja yang tidak memerlukan pelengkap.
Contoh: menangis, meninggal, berjalan dan sebagainya
Untuk menentukan apakah suatu kata masuk kata benda atau tidak, dengan cara mengikuti kedua prosedur di atas.
a) BENTUK
Segala kata yang berimbuhan: me-, ber-, -kan, di-, -i dapat dicalonkan menjadi kata kerja.
b) KELOMPOK KATA
Segala macam kata tersebut di atas dalam segi kelompok kata mempunyai kesamaan struktur yaitu dapat diperluas dengan kelompok kata dengan + Kata Sifat.
Contoh:
Ia berbicara dengan keras
Anak itu menari dengan gemulai
c) TRANSPOSISI
Kata kerja dapat dipindah jenisnya ke jenis kata lain dengan pertolongan morfem terikat, misalnya menari menjadi penari, tarian; membaca menjadi pembaca, bacaan, dan lain-lain. Begitu pula sebaliknya, kata benda atau kata sifat dapat ditransposisikan menjadi kata kerja, misalnya pendek menjadi memendekkan, turun menjadi menurunkan dan sebagainya.
C. Kata Sifat atau Adjektifa
Menurut Aristoteles, kata sifat adalah kata yang menyatakan sifat atau hal keadaan sari sesuatu benda, misal tinggi, rendah, lama, baru dan sebagainya.
Untuk menentukan apakah suatu kata masuk kata benda atau tidak, dengan cara mengikuti kedua prosedur di atas.
a) BENTUK
Dari segi bentuk segala kata sifat dalam bahasa Indonesia bisa mengambil bentuk: se + reduplikasi kata dasar + nya
Contoh: se-tinggi-tinggi-nya
se-cepat-cepat-nya
se-baik-baik-nya
b) KELOMPOK KATA
Dari segi kelompok kata, kata-kata sifat dapat diterangkan olek kata-kata: paling, lebih, sekali.
Contoh: paling besar, lebih besar, besar sekali
paling cepat, lebih cepat, cepat sekali
paling baik, lebih baik, baik sekali
c) TRANSPOSISI
Semua kata yang tergolong kata sifat dapat berpindah jenis kata dengan bantuan morfem-morfem terikat: pe-, ke-an, me-, -kan dan sebagainya.
Contoh: pembesar, membesarkan, perbesar, pembesaran, kebesaran dan lain-lain
d) SUB-GOLONGAN
Kata-kata bilangan berdasarkan sifatnya dapat digolongkan dalam kata sifat sebagai sub-golongan karena merupakan kelompok dengan ciri-ciri tersendiri tapi karena secara substitusional dapat menduduki tugas-tugas dari kata sifat.
D. Kata Ganti atau Pronomina
Yang termasuk jenis kata ini adalah segala kata yang dipakai untuk menggantikan kata benda atau yang dibendakan.
Kata ganti menurut sifat dan fungsinya dapat dibedakan atas:
1. Kata Ganti Orang (Pronomina Personalia)
a. Orang I
1) Tunggal : aku
untuk menyatakan kerendahan diri: hamba, sahaya, patik, abdi
untuk mengungkapkan sesuatu suasana yang agung: kami (pluralis majestatis)
2) Jamak : kami, kita
b. Orang II
1) Tunggal : engkau, kamu
paduka, tuan, Yang Mulia, saudara, ibu, bapak dan lain-lain
2) Jamak : kamu
c. Orang III
1) Tunggal : dia, beliau
Untuk orang yang sudah meninggal: mendiang, almarhum atau almarhumah
2) Jamak : mereka
2. Kata Ganti Empunya (Pronomina Possessiva)
Adalah segala kata yang menggantikan kata ganti orang dalam kedudukan sebagai pemilik: -ku, -mu, -nya, kami, kamu, mereka.
Dalam fungsinya sebagai pemilik, kata-kata ini mengambil bentuk ringkas dan dirangkaikan saja di belakang kata yang diterangkan (disebut sebagai bentuk enklitis).
Contoh: pensilku = pensil aku
pensilmu = pensil kamu
apabila bentuk ringkas itu dirangkaikan di depan sebuah kata, disebut proklitis.
Contoh: kupinjam, kaupinjam
3. Kata Ganti Penunjuk (Pronomina Demonstrativa)
Adalah kata yang menunjuk di mana terdapat sesuatu benda. Ada tiga macam kata ganti penunjuk:
a. Menunjuk sesuatu di tempat pembicara : ini
b. Menunjuk sesuatu di tempat lawan bicara : itu
c. Menunjuk sesuatu di tempat orang ketiga : di sana
4. Kata Ganti Penghubung (Pronomina Relativa)
Adalah kata yang menghubungkan anak kalimat dengan suatu kata benda yang terdapat dalam induk kalimat. Jadi fungsi kata penghubung adalah:
a. Menggantikan kata benda yang terdapat dalam induk kalimat
b. Menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat.
5. Kata Ganti Penanya (Pronomina Innterrogativa)
Adalah kata yang menanyakan tentang benda, orang atau suatu keadaan. Kata ganti penanya dalam bahasa Indonesia yaitu:
a. Apa : untuk menanyakan benda
b. Siapa : (si + apa) untuk menanyakan orang
c. Mana : untuk menanyakan pilihan seseorang atau beberapa hal barang.
Kata ganti penanya tersebut dapat dipakai lagi dengan bermacam-macam penggabungan dengan kata depan
Contoh:
dengan apa dengan siapa dari mana
untuk apa untuk siapa ke mana
buat apa kepada siapa dan lain-lain
Selain dari kata-kata itu ada pula kata ganti penanya yang lain yang bukan menanyakan orang atau benda tetapi menanyakan keadaan, perihal dan sebagainya:
mengapa bilamana betapa
berapa kenapa bagaimana
6. Kata Ganti Tak Tentu (Pronomina Indeterminativa)
Adalah kata yang menggantikan atau menunjukkan benda atau orang dalam keadaan yang tidak tentu atau umum.
Contoh:
masing-masing siapa-siapa seseorang
sesuatu barang para
salah (salah satu…)
E. Kata Keterangan atau Adverbia
Kata keterangan oleh tata bahasa tradisional ditempatkan sebagai satu jenis kata.kekurangan atau kelemahan dari dasar-dasar yang digunakan untuk menentukan jenis kata. Kata keterangan tidak lain adalah suatu kata atau kelompok kata yang menduduki suatu fungsi tertentu, yaitu fungsi untuk menerangkan kata kerja, kata sifat, kata keterangan yang masing-masingnya menduduki pula suatu jabatan atau fungsi dalam kalimat.
Tata bahasa tradisional, akan tampak bahwa dalam beberapa hal akan timbul kekacauan atau kekaburan, sebab ada kata yang sudah kita golongkan sebagai kata keterangan nanti akan dimasukkan lagi dalam kata depan, atau bagian dari kata keterangan itu sebenarnya adalah kata sifat dan sebagainya.kata keterangan secara tradisonal dapat dibagi-bagi lagi atas beberapa macam berdasarkan artinya atau lebih baik berdasarkan fungsinya dalam kalimat.
KALIMAT EFEKTIF
BAB I
PENDAHULUAN
Bahasa adalah alat untuk berkomunikasi yang digunakan manusia dengan sesama anggota masyarakat lain pemakai bahasa itu. Bahasa itu berisi pikiran, keinginan, atau perasaan yang ada pada diri si pembicara atau penulis. Bahasa yang digunakan itu hendaklah dapat mendukung maksud secara jelas agar apa yang dipikirkan, diinginkan, atau dirasakan itu dapat diterima oleh pendengar atau pembaca. Kalimat yang dapat mencapai sasarannya secara baik disebut dengan kalimat efektif.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Kalau gagasan yang disampaikan sudah tepat, pendengar/pembaca dapat memahami pikiran tersebut dengan mudah, jelas, dan lengkap seperti apa yang dimaksud oleh penulis atau pembicaranya. Akan tetapi, kadang-kadang harapan itu tidak tercapai. Misalnya, ada sebagian lawan bicara atau pembaca tidak memahami apa maksud yang diucapkan atau yang dituliskan.
Supaya kalimat yang dibuat dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat, unsur kalimat-kalimat yang digunakan harus lengkap dan eksplisit. Artinya, unsur-unsur kalimat seharusnya ada yang tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang seharusnya tidak ada tidak perlu dimunculkan. Kelengkapan dan keeksplisitan semacam itu dapat diukur berdasarkan keperluan komunikasi dan kesesuaiannya dengan kaidah (Mustakim, 1994:86).
Dalam karangan ilmiah sering kita jumpai kalimat-kalimat yang tidak memenuhi syarat sebagai bahasa ilmiah. Hal ini disebabkan oleh, antara lain, mungkin kalimat-kalimat yang dituliskan kabur, kacau, tidak logis, atau bertele-tele. Dengan adanya kenyataan itu, pembaca sukar mengerti maksud kalimat yang kita sampaikan karena kalimat tersebut tidak efektif. Berdasarkan kenyataan inilah penulis tertarik untuk membahas kalimat efektif dengan segala permasalahannya.
BAB II
PEMBAHASAN
Kalimat efektif adalah kalimat yang mengungkapkan pikiran atau gagasan yang disampaikan sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain.
2.1 Kalimat efektif memiliki syarat-syarat sebagai berikut:
1. Secara tepat mewakili pikiran pembicara atau penulisnya.
2. Mengemukakan pemahaman yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca dengan yang dipikirkan pembaca atau penulisnya.
Sebuah kalimat efektif mempunyai ciri-ciri khas, yaitu kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kecermatan penalaran, kepaduan gagasan, dan kelogisan bahasa.
A. Kesepadanan
Yang dimaksud dengan kesepadanan ialah keseimbangan antara pikiran (gagasan) dan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat ini diperlihatkan oleh kesatuan gagasan yang kompak dan kepaduan pikiran yang baik.
Kesepadanan kalimat itu memiliki beberapa ciri, seperti tercantum di bawah ini:
Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas. Ketidakjelasan subjek atau predikat suatu kalimat tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam bagi untuk, pada, sebagai, tentang, mengenai, menurut, dan sebagainya di depan subjek.
Contoh:
a. Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Salah)
b. Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Benar)
Tidak terdapat subjek yang ganda.
Contoh:
a. Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen.
b. Saat itu saya kurang jelas.
Kalimat-kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara berikut :
a. Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen.
b. Saat itu bagi saya kurang jelas.
Kalimat penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal.
Contoh:
a. Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
b. Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, ubahlah kalimat itu menjadi kalimat majemuk dan kedua gantilah ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat, sebagai berikut:
a. Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. Atau
Kami datang terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama.
b. Kakaknya membeli sepeda motor Honda, sedangkan dia membeli sepeda motor Suzuki.
Atau
Kakaknya membeli sepeda motor Honda. Akan tetapi, dia membeli sepeda motor Suzuki.
Predikat kalimat tidak didahului oleh kata yang.
Contoh:
a. Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu.
b. Sekolah kami yang terletak di depan bioskop Gunting.
Perbaikannya adalah sebagai berikut:
a. Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
b. Sekolah kami terletak di depan bioskop Gunting.
B. Keparalelan
Yang dimaksud dengan keparalelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina. Kalau bentuk pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba.
Contoh:
Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes.
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
Kalimat a tidak mempunyai kesejajaran karena dua bentuk kata yang mewakili predikat terdiri dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarkan kedua bentuk itu.
Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara luwes.
Kalimat b tidak memiliki kesejajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang,pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nomial, sebagai berikut.
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruang.
C. Ketegasan
Yang dimaksud dengan ketegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Kalimat itu memberi penekanan atau penegasan pada penonjolan itu. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan dalam kalimat.
Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat).
Contoh:
Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
Penekanannya ialah presiden mengharapkan.
Contoh:
Harapan presiden ialah agar rakyat membangun bangsa dan negaranya.
Penekanannya Harapan presiden.
Jadi, penekanan kalimat dapat dilakukan dengan mengubah posisi kalimat.
Membuat urutan kata yang bertahap
Contoh:
Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Seharusnya:
Bukan seratus, seribu, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah, telah disumbangkan kepada anak-anak terlantar.
Melakukan pengulangan kata (repetisi).
Contoh:
Saya suka kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan.
Contoh:
Anak itu tidak malas dan curang, tetapi rajin dan jujur.
Mempergunakan partikel penekanan (penegasan).
Contoh:
Saudaralah yang bertanggung jawab.
D. Kehematan
Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Peghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan.
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghilangkan pengulangan subjek.
Perhatikan contoh:
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa presiden datang.
Perbaikan kalimat itu adalah sebagai berikut.
Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu.
Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang.
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata.
Perhatikan:
Ia memakai baju warna merah.
Di mana engkau menangkap burung pipit itu?
Kata merah sudah mencakupi kata warna.
Kata pipit sudah mencakupi kata burung.
Kalimat itu dapat diubah menjadi
a. Ia memakai baju merah.
b. Di mana engkau menangkap pipit itu?
Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan kesinoniman dalam satu kalimat.
Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini.
Dia hanya membawa badannya saja.
Sejak dari pagi dia bermenung.
Kata naik bersinonim dengan ke atas.
Kata turun bersinonim dengan ke bawah.
Kalimat ini dapat diperbaiki menjadi
Dia hanya membawa badannya.
Sejak pagi dia bermenung.
Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak.
Misalnya:
Bentuk tidak baku bentuk baku :
Para tamu-tamu para tamu.
Beberapa orang-orang beberapa orang.
E. Kecermatan
Yang dimaksud dengan cermat adalah bahwa kalimat itu tidak menimbulkan tafsiran ganda.
Dan tepat dalam pilihan kata. Perhatikan kalimat berikut.
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.
Dia menerima uang sebanyak dua puluh lima ribuan.
Kalimat 1 memilikimakna ganda, yaitu siapa yang terkenal, mahasiswa atau perguran tinggi.
Kalimat 2 memiliki makna ganda, yaitu berapa jumlah uang, seratus ribu rupiah atau dua puluh lima ribu rupiah.
Perhatikan kalimat berikut.
Yang diceritakan menceritakan tentang putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri.
Kalimat ini salah pilihan katanya karena dua kata yang bertentangan, yaitu diceritakan dan menceritakan. Kalimat itu dapat diubah menjadi
Yang diceritakan ialah putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri.
F. Kepaduan
Yang dimaksud dengan kepaduan ialah kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah.
1. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak simetris.Oleh karena itu, kita hindari kalimat yang panjang dan bertele-tele.
Misalnya:
Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadar bertindak keluar dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab.
Silahkan Anda perbaiki kalimat di atas supaya menjadi kalimat yang padu.
2. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
a. Surat itu saya sudah baca.
b. Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan.
Kalimat di atas tidak menunjukkan kepaduan sebab aspek terletak antara agen dan verbal. Seharusnya kalimat itu berbentuk
a. Surat itu sudah saya baca.
b. Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
3. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Perhatikan kalimat ini :
a. Mereka membicarakan daripada kehendak rakyat.
b. Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumah adat.
Seharusnya:
a. Mereka membicarakan kehendak rakyat.
b. Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah-rumah adat.
G. Kelogisan
Yang dimaksud dengan kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.
2.2 Ketidakefektifan Kalimat
Menurut Nazar (1991, 44:52) ketidakefektifan kalimat dikelompokkan menjadi (1) ketidaklengkapan unsur kalimat, (2) kalimat dipengaruhi bahasa Inggris, (3) kalimat mengandung makna ganda, (4) kalimat bermakna tidak logis, (5) kalimat mengandung gejala pleonasme, dan (6) kalimat dengan struktur rancu.
1. Ketidaklengkapan Unsur Kalimat
Seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya bahwa kalimat efektif harus memiliki unsur-unsur yang lengkap dan eksplisit. Untuk itu, kalimat efektif sekurang-kurangnya harus mengandung unsur subjek dan predikat. Jika salah satu unsur atau kedua unsur itu tidak terdapat dalam kalimat, tentu saja kalimat ini tidak lengkap. Adakalanya suatu kalimat membutuhkan objek dan keterangan, tetapi karena kelalaian penulis, salah satu atau kedua unsur ini terlupakan. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut.
(1) Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif.
(2) Masalah yang dibahas dalam penenelitian ini.
(3) Untuk membuat sebuah penelitian harus menguasai metodologi penelitian.
(4) Bahasa Indonesia yang berasal dari Melayu.
(5) Dalam rapat pengurus kemarin sudah memutuskan.
(6) Sehingga masalah itu dapat diatasi dengan baik.
Kalau kita perhatikan kalimat di atas terlihat bahwa kalimat (1) tidak memiliki subjek karena didahului oleh kata depan dalam; kalimat (2) dan (4) tidak memiliki predikat hanya memiliki subjek saja; kalimat (3) tidak memiliki subjek; kalimat (5) tidak memiliki subjek dan objek; kalimat (6) tidak memiliki subjek dan predikat karena hanya terdiri atas keterangan yang merupakan anak kalimat yang berfungsi sebagai keterangan. Agar kalimat-kalimat di atas menjadi lengkap, kita harus menghilangkan bagian-bagian yang berlebih dan menambah bagian-bagian yang kurang sebagaimana terlihat pada contoh berikut.
(1a) Penelitian ini menggunakan metode deskriptif.
(1b) Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif.
(2a) Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah jenis dan makna konotasi teka-teki dalam bahasa Minangkabau.
(3a) Untuk membuat sebuah penelitian kita harus menguasai metodologi penelitian.
(4a) Bahasa Indonesia berasal dari Melayu.
(5a) Dalam rapat pengurus kemarin kita sudah memutuskan program baru.
(6a) Kita harus berusaha keras sehingga masalah itu dapat diatasi dengan baik.
2. Kalimat Dipengaruhi Bahasa Inggris
Dalam karangan ilmiah sering dijumpai pemakaian bentuk-bentuk di mana, dalam mana, di dalam mana, dari mana, dan yang mana sebagai penghubung. Menurut Ramlan (1994:35-37) penggunaan bentuk-bentuk tersebut kemungkinan besar dipengaruhi oleh bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Bentuk di mana sejajar dengan penggunaan where, dalam mana dan di dalam mana sejajar dengan pemakaian in which, dan yang mana sejajar dengan which. Dikatakan dipengaruhi oleh bahasa Inggris karena dalam bahasa Inggris bentuk-bentuk itu lazim digunakan sebagai penghubung sebagaimana terlihat pada contoh berikut.
(7) The house where he live very large.
(8) Karmila opened the album in which he had kept her new photogragraph.
(9) If I have no class, I stay at the small building from where the sound of gamelan can be heard smoothly
(10) The tourism sector which is the economical back bone of country must always be intensified.
Pemakaian bentuk-bentuk di mana, dalam mana, di dalam mana, dari mana, dan yang mana sering ditemui dalam tulisan seperti yang terlihat pada data berikut.
(11) Kantor di mana dia bekerja tidak jauh dari rumahnya.
(12) Kita akan teringat peristiwa 56 tahun yang lalu di mana waktu itu bangsa Indonesia telah berikrar.
(13) Rumah yang di depan mana terdapat kios kecil kemarin terbakar.
(14) Sektor pariwisata yang mana merupakan tulang punggung perekonomian negara
harus senantiasa ditingkatkan.
(15) Mereka tinggal jauh dari kota dari mana lingkungannya masih asri.
Bentuk-bentuk di mana, di depan mana, dari mana, yang mana, dan dari mana dalam bahasa Indonesia dipakai untuk menandai kalimat tanya. Bentuk di mana dan dari mana dipakai untuk menyatakan ‘tempat’, yaitu ‘tempat berada’ dan ‘tempat asal’, sedangkan yang mana untuk menyatakan pilihan. Jadi, kalimat (11-15) di atas seharusnya diubah menjadi:
(11a) Kantor tempat dia bekerja tidak jauh dari rumahnya.
(12a) Kita akan teringat peristiwa 56 tahun yang lalu yang waktu itu bangsa Indonesia
telah berikrar.
(13a) Rumah yang di depan kios kecil kemarin terbakar.
(14a) Sektor pariwisata yang merupakan tulang punggung perekonomian negara harus
senantiasa ditingkatkan.
(15a) Mereka tinggal jauh dari kota yang lingkungannya masih asri.
3. Kalimat Mengandung Makna Ganda
Agar kalimat tidak menimbulkan tafsir ganda, kalimat itu harus dibuat selengkap mungkin atau memanfaatkan tanda baca tertentu. Untuk lebih jelasnya perhatikan data berikut.
(16) Dari keterangan masyarakat daerah itu belum pernah diteliti.
(17) Lukisan Basuki Abdullah sangat terkenal.
Pada kalimat (16) di atas terdapat dua kemungkinan hal yang belum pernah diteliti yaitu masyarakat di daerah itu atau daerahnya. Agar konsep yang diungkapkan kalimat itu jelas, tanda koma harus digunakan sesuai dengan konsep yang dimaksudkan. Kalimat (16) tersebut dapat ditulis sebagai berikut.
(16a) Dari keterangan (yang diperoleh), masyarakat daerah itu belum pernah diteliti.
(16b) Dari keterangan masyarakat, daerah itu belum pernah diteliti.
Pada kalimat (17) terdapat tiga kemungkinan ide yang dikemukakan, yaitu yang sangat terkenal adalah lukisan karya Basuki Abdullah atau lukisan diri Basuki Abdullah atau lukisan milik Basuki Abdullah seperti yang terlihat data-data (17a), (17b), dan (17c) berikut.
(17a) Lukisan karya Basuki Abdullah sangat terkenal.
(17b) Lukisan diri Basuki Abdullah sangat terkenal.
(17c) Lukisan milik Basuki Abdullah sangat terkenal.
Pemakaian tanda hubung juga dapat digunakan untuk memperjelas ide-ide yang diungkapkan pada frase pemilikan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan berikut.
(18) Ani baru saja membeli buku sejarah baru.
Kalimat (18) di atas mengandung ketaksaan yaitu yang baru itu buku sejarahnyakah atau sejarahnya yang baru. Untuk menghindari ketaksaan makna, digunakan tanda hubung agar konsep yang diungkapkan jelas sesuai dengan yang dimaksudkan. Kalimat (18a) yang baru adalah buku sejarahnya, sedangkan kalimat (18b) yang baru adalah sejarahnya.
(18a) AAni baru saja membeli buku-sejarah baru.
(18b) Ani baru saja membeli buku sejarah-baru.
4. Kalimat Bermakna Tidak Logis
Kalimat efektif harus dapat diterima oleh akal sehat atau bersifat logis. Kalimat
(19) berikut tergolong kalimat yang tidak logis.
(19) Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah selesailah makalah ini.
Kalau kita perhatikan secara sepintas kalimat (19) di atas tampaknya tidak salah. Akan tetapi, apabila diperhatikan lebih seksama ternyata tidak masuk akal. Seseorang untuk menyelesaikan sebuah makalah harus bekerja dulu dan tidak mungkin makalah itu akan dapat selesai hanya dengan membaca alhamdulillah. Jadi, supaya kalimat itu dapat diterima, kalimat itu dapat diubah menjadi:
(20a) Syukur alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah Yang Mahakuasa karena dengan izin-Nya jualah makalah ini dapat diselesaikan.
5. Kalimat Mengandung Pleonasme
Kalimat pleonasme adalah kalimat yang tidak ekonomis atau mubazir karena adaterdapat kata-kata yang sebetulnya tidak perlu digunakan. Menurut Badudu (1983:29) timbulnya gejala pleonasme disebabkan oleh (1) dua kata atau lebih yang sama maknanya dipakai sekaligus dalam suatu ungkapan, (2) dalam suatu ungkapan yang terdiri atas dua patah kata, kata kedua sebenarnya tidak diperlukan lagi sebab maknanya sudah terkandung dalam kata yang pertama, dan (3) bentuk kata yang dipakai mengandung makna yang sama dengan kata kata lain yang dipakai bersama-sama dalam ungkapan itu.
Contoh-contoh pemakaian bentuk mubazir dapat dilihat berikut ini.
(20) Firmarina meneliti tentang teka-teki bahasa Minangkabau.
(21) Banyak pemikiran-pemikiran yang dilontarkan dalam pertemuan tersebut.
(22) Pembangunan daripada waduk itu menjadi sisa-sia pada musim kemarau panjang ini.
(23) Air sumur yang digunakan penduduk tidak sehat untuk digunakan.
(24) Jika dapat ditemukan beberapa data lagi, maka gejala penyimpangan perilaku itu
dapat disimpulkan.
Pada kalimat (20) kata tentang (preposisi lainnya) yang terletak antara predikat dan objek tidak boleh digunakan karena objek harus berada langsung di belakang predikat. Pada kalimat (21) kata pemikiran tidak perlu diulang karena bentuk jamak sudah dinyatakan dengan menggunakan kata banyak. Atau dengan kata lain, kata banyak dapat juga dihilangkan. Pada kalimat (22) kata daripada tidak perlu digunakan karena antara unsur-unsur frase pemilikan tidak diperlukan preposisi. Pada kalimat (23) terdapat pengulangan keterangan ‘yang digunakan’. Pengulangan ini tidak perlu. Pada kalimat (24) terdapat dua buah konjungsi yaitu jika dan maka.Dengan adanya dua konjungsi ini, tidakdiketahui unsur mana sebagai induk kalimat dan unsur mana sebagai anak kalimat.
Dengan demikian kedua unsur itu merupakan anak kalimat. Jadi, kalimat (24) tidak mempunyai induk kalimat. Kalau begitu, satu konjungsi harus dihilangkan supaya satu dari dua unsur itu menjadi induk kalimat. Jadi, kalimat-kalimat (20-24) dapat diubah menjadi kalimat efektif sebagaimana terlihat pada data berikut.
(20a) Firmarina meneliti teka-teki bahasa Minangkabau.
(21a) Banyak pemikiran-pemikiran baru dilontarkan dalam pertemuan tersebut.
(21b) Pemikiran-pemikiran baru dilontarkan dalam pertemuan tersebut.
(22a) Pembangunan waduk itu menjadi sisa-sia pada musim kemarau panjang ini.
(23a) Air sungai yang digunakan penduduk tidak sehat.
(24a) Jika dapat ditemukan beberapa data lagi, gejala penyimpangan perilakuitu dapat disimpulkan.
Berikut ini akan dicontohkan kalimat pleonasme yang terdiri atas dua kata atau lebih yang mempunyai makna yang hampir sama.
(25) Kita harus bekerja keras agar supaya tugas ini dapat berhasil.
Kalimat (25) akan efektif jika diubah menjadi:
(25a) Kita harus bekerja keras supaya tugas ini dapat berhasil.
(25b) Kita harus bekerja keras agar tugas ini dapat berhasil.
6. Kalimat dengan Struktur Rancu
Kalimat rancu adalah kalimat yang kacau susunannya. Menurut Badudu (1983:21) timbulnya kalimat rancu disebabkan oleh (1) pemakai bahasa tidak mengusai benar struktur bahasa Indonesia yang baku, yang baik dan benar, (2) Pemakai bahasa tidak memiliki cita rasa bahasa yang baik sehingga tidak dapat merasakan kesalahan bahasa yang dibuatnya, (3) dapat juga kesalahan itu terjadi tidak dengan sengaja. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut.
(26) Dalam masyarakat Minangkabau mengenal sistem matriakat.
(27) Mahasiswa dilarang tidak boleh memakai sandal kuliah.
(28) Dia selalu mengenyampingkan masalah itu.
Kalimat (26) di atas disebut kalimat rancu karena kalimat tersebut tidak mempunyai subjek. Kalimat (26) tersebut dapat diperbaiki menjadi kalimat aktif (26a) dan kalimat pasif (26b). Sementara itu, kalimat (27) terjadi kerancuan karena pemakaian kata dilarang dan tidak boleh disatukan pemakaiannya. Kedua kata tersebut sama maknanya. Jadi, kalimat (27) dapat diperbaiki menjadi kalimat (27a) dan (27b). Pada kalimat (28) kerancuan terjadi pada pembentukan kata dan kalimat tersebut dapat diperbaiki menjadi kalimat (28a).
(26a) Masyarakat Minangkabau mengenal sistem matriakat.
(26b) Dalam masyarakat Minangkabau dikenal sistem matriakat.
(27a) Mahasiswa dilarang memakai sandal kuliah.
(27b) Mahasiswa tidak boleh memakai sandal kuliah.
(28a) Dia selalu mengesampingkan masalah itu.
Di samping itu, juga terdapat bentukan kalimat yang tidak tersusun secara sejajar. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut.
(29) Program kerja ini sudah lama diusulkan, tetapi pimpinan belum menyetujui.
Ketidaksejajaran bentuk pada kalimat di atas disebabkan oleh penggunaan bentuk kata kerja pasif diusulkan yang dikontraskan dengan bentuk aktif menyetujui. Agar menjadi sejajar, bentuk pertama menggunakan bentuk pasif, hendaknya bagian kedua pun menggunakan bentuk pasif. Sebaliknya, jika yang pertama aktif, bagian kedua pun aktif. Dengan demikian, kalimat tersebut akan memiliki kesejajaran jika bentuk kata kerja diseragamkan menjadi seperti di bawah ini.
(29a)Program kerja ini sudah lama diusulkan, tetapi belum disetujui pimpinan.
(29b)Kami sudah lama mengusulkan program ini, tetapi pimpinan belum menyetujuinya.
Pola Kesalahan
Berikut ini akan disampaikan beberapa pola kesalahan yang umum terjadi dalam penulisan serta perbaikannya agar menjadi kalimat yang efektif.
1. Penggunaan dua kata yang sama artinya dalam sebuah kalimat :
- Sejak dari usia delapan tauh ia telah ditinggalkan ayahnya.
(Sejak usia delapan tahun ia telah ditinggalkan ayahnya.)
- Hal itu disebabkan karena perilakunya sendiri yang kurang menyenangkan.
(Hal itu disebabkan perilakunya sendiri yang kurang menyenangkan.
- Ayahku rajin bekerja agar supaya dapat mencukupi kebutuhan hidup.
(Ayahku rajin bekerja agar dapat memenuhi kebutuhan hidup.)
- Pada era zaman modern ini teknologi berkembang sangat pesat.
(Pada zaman modern ini teknologi berkembang sangat pesat.)
- Berbuat baik kepada orang lain adalah merupakan tindakan terpuji.
(Berbuat baik kepada orang lain merupakan tindakan terpuji.)
2. Penggunaan kata berlebih yang ‘mengganggu’ struktur kalimat :
- Menurut berita yang saya dengar mengabarkan bahwa kurikulum akan segera diubah.
(Berita yang saya dengar mengabarkan bahwa kurikulum akan segera diubah. / Menurut berita yang saya dengar, kurikulum akan segera diubah.
- Kepada yang bersalah harus dijatuhi hukuman setimpal.
(Yang bersalah harus dijatuhi hukuman setimpal.)
3. Penggunaan imbuhan yang kacau :
- Yang meminjam buku di perpustakaan harap dikembalikan.
(Yang meminjam buku di perpustakaan harap mengembalikan. / Buku yang dipinjam dari perpustakaan harap dikembalikan)
- Ia diperingati oleh kepala sekolah agar tidak mengulangi perbuatannya.
(Ia diperingatkan oleh kepala sekolah agar tidak mengulangi perbuatannya.
- Operasi yang dijalankan Reagan memberi dampak buruk.
(Oparasi yang dijalani Reagan berdampak buruk)
- Dalam pelajaran BI mengajarkan juga teori apresiasi puisi.
(Dalam pelajaran BI diajarkan juga teori apresiasi puisi. / Pelajaran BI mengajarkan juga apresiasi puisi.)
4. Kalimat tak selesai :
- Manusia yang secara kodrati merupakan mahluk sosial yang selalu ingin berinteraksi.
(Manusia yang secara kodrati merupakan mahluk sosial, selalu ingin berinteraksi.)
- Rumah yang besar yang terbakar itu.
(Rumah yang besar itu terbakar.)
5. Penggunaan kata dengan struktur dan ejaan yang tidak baku :
- Kita harus bisa merubah kebiasaan yang buruk.
(Kita harus bisa mengubah kebiasaan yang buruk.)
Kata-kata lain yang sejenis dengan itu antara lain menyolok, menyuci, menyontoh, menyiptakan, menyintai, menyambuk, menyaplok, menyekik, menyampakkan, menyampuri, menyelupkan dan lain-lain, padahal seharusnya mencolok, mencuci, mencontoh, menciptakan, mencambuk, mencaplok, mencekik, mencampakkan, mencampuri, mencelupkan.
- Pertemuan itu berhasil menelorkan ide-ide cemerlang.
(Pertemuan itu telah menelurkan ide-ide cemerlang.)
- Gereja itu dilola oleh para rohaniawan secara professional.
(Gereja itu dikelola oleh para rohaniwan secara professional.)
- tau menjadi tahu
- negri menjadi negeri
- kepilih menjadi terpilih
- faham menjadi paham
- ketinggal menjadi tertinggal
- himbau menjadi imbau
- gimana menjadi bagaimana
- silahkan menjadi silakan
- jaman menjadi zaman
- antri menjadi antre
- trampil menjadi terampil
- disyahkan menjadi disahkan
6. Penggunaan tidak tepat kata ‘di mana’ dan ‘yang mana’ :
- Saya menyukainya di mana sifat-sifatnya sangat baik.
(Saya menyukainya karena sifat-sifatnya sangat baik.)
- Rumah sakit di mana orang-orang mencari kesembuhan harus selalu bersih.
(Rumah sakit tempat orang-orang mencari kesembuhan harus selalu bersih.)
- Manusia membutuhkan makanan yang mana makanan itu harus mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh.
(Manusia membutuhkan makanan yang mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh.)
7. Penggunaan kata ‘daripada’ yang tidak tepat :
- Seorang daripada pembatunya pulang ke kampung kemarin.
(Seorang di antara pembantunya pulang ke kampung kemarin.)
- Seorang pun tidak ada yang bisa menghindar daripada pengawasannya.
(Seorang pun tidak ada yang bisa menghindar dari pengawasannya.)
- Tendangan daripada Ricky Jakob berhasil mematahkan perlawanan musuh.
(Tendangan Ricky Jakob berhasil mematahkan perlawanan musuh.)
8. Pilihan kata yang tidak tepat :
- Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan waktu untuk berbincang bincang dengan masyarakat.
(Dalam kunjungan itu Presiden Yudhoyono menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan masyarakat.)
- Bukunya ada di saya.
(Bukunya ada pada saya.)
9. Kalimat ambigu yang dapat menimbulkan salah arti :
- Usul ini merupakan suatu perkembangan yang menggembirakan untuk memulai pembicaraan damai antara komunis dan pemerintah yang gagal.
Kalimat di atas dapat menimbulkan salah pengertian. Siapa/apa yang gagal? Pemerintahkah atau pembicaraan damai yang pernah dilakukan?
(Usul ini merupakan suatu perkembangan yang menggembirakan untuk memulai kembali pembicaraan damai yang gagal antara pihak komunis dan pihak pemerintah.
- Sopir Bus Santosa yang Masuk Jurang Melarikan Diri
Judul berita di atas dapat menimbulkan salah pengertian. Siapa/apa yang dimaksud Santosa? Nama sopir atau nama bus? Yang masuk jurang busnya atau sopirnya?
(Bus Santoso Masuk Jurang, Sopirnya Melarikan Diri)
10. Pengulangan kata yang tidak perlu :
- Dalam setahun ia berhasil menerbitkan 5 judul buku setahun.
(Dalam setahun ia berhasil menerbitkan 5 judul buku.)
- Film ini menceritakan perseteruan antara dua kelompok yang saling menjatuhkan, yaitu perseteruan antara kelompok Tang Peng Liang dan kelompok Khong Guan yang saling menjatuhkan.
(Film ini menceritakan perseteruan antara kelompok Tan Peng Liang dan kelompok Khong Guan yang saling menjatuhkan.)
11. Kata ‘kalau’ yang dipakai secara salah :
- Dokter itu mengatakan kalau penyakit AIDS sangat berbahaya.
(Dokter itu mengatakan bahwa penyakit AIDS sangat berbahaya.)
- Siapa yang dapat memastikan kalau kehidupan anak pasti lebih baik daripada orang tuanya?
(Siapa yang dapat memastikan bahwa kehidupan anak pasti lebih baik daripada orang tuanya?)
CONTOH-CONTOH KALIMAT EFEKTIF DAN TIDAK EFEKTIF
1. Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus mebayar uang kuliah ( tidak efektif )
Seharusnya :Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah.
2. Penyusunan laporan itu saya dibantu oleh para dosen ( tidak efektif )
Seharusnya :Dalam menyusun laporan itu, saya di bantu oleh para dosen.
3. Soal itu saya kurang jelas ( tidak efektif )
Seharusnya :Soal itu bagi saya kurang jelas.
4. Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama ( tidak efektif )
Seharusnya :Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara
pertama.
5. Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu ( tidak efektif )
Seharusnya : Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.
6. Sekolah kami yang terletak di depan bioskop Gunting ( tidak efektif )
Seharusnya : Sekolah kami terletak di depan bioskop Gunting.
7. Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara luwes ( tidak efektif )
Seharusnya : Harga minyak dibekukan atau dinaikan secara luwes.
8. Karena ia tidak diundang , dia tidak datang ke tempat itu ( tidak efektif )
Seharusnya : Karena tidak diundang , dia tidak datang ke tempat itu.
9. Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui bahwa Presiden datang ( tidak efektif )
Seharusnya : hadirin serentak berdiri setelah mengetahui bahwa presiden datang.
10. Dia hanya membawa badannya saja ( tidak efektif )
Seharusnya : Dia hanya membawa badannya.
11. Sejak dari pagi dia bermenung ( tidak efektif )
Seharusnya : Sejak pagi dia bermenung.
12. Surat itu sudah saya baca ( tiak efektif )
Seharusnya : Surat itu sudah saya baca.
13. Saran yang di kemukakannya kami akan pertimbangkan ( tidak efektif )
Seharusnya : Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan.
14. Mereka membicarakan dari pada kehendak rakyat ( tidak efektif )
Seharusnya : Mereka membicarakan kehendak rakyat.
15. Pekerjaan itu dia tidak cocok ( tidak efektif )
Seharusnya : Pekerjaan itu bagi dia tidak cocok.
BAB III
PENUTUP
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara tepat pula. Akan tetapi, membuat kalimat efektif tidaklah gampang karena memerlukan keterampilan tersendiri. Kesalahan yang banyak ditemukan dapat dikelompokkan sebagai berikut, yaitu (1) ketidaklengkapan unsur kalimat, (2) kalimat dipengaruhi bahasa Inggris, (3) kalimat mengandung makna ganda, (4) kalimat bermakna tidak logis, (5) kalimat mengandung gejala pleonasme, dan (6) kalimat dengan struktur rancu.
LANGKAH-LANGKAH MENYUSUN PRR
Langkah-langkah minimal dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dimulai dari mencantumkan Identitas RPP, Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Sumber Belajar, dan Penilaian. Setiap komponen mempunyai arah pengembangan masing-masing, namun semua merupakan suatu kesatuan.
Penjelasan tiap-tiap komponen adalah sebagai berikut:
• Mencantumkan Identitas
Identitas disini terdiri dari: Nama sekolah, Mata Pelajaran, Kelas, Semester, Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan Alokasi Waktu.
Hal yang perlu diperhatikan adalah :
1. RPP boleh disusun untuk satu Kompetensi Dasar.
2. Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator dikutip dari silabus. (Standar kompetensi – Kompetensi Dasar – Indikator adalah suatu alur pikir yang saling terkait tidak dapat dipisahkan)
3. Indikator merupakan => (a) ciri perilaku (bukti terukur) yang dapat memberikan gambaran bahwa peserta didik telah mencapai kompetensi dasar; (b) penanda pencapaian kompetensi dasar yang ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan; (c) dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan potensi daerah; (d) rumusannya menggunakan kerja operasional yang terukur dan/atau dapat diobservasi; (e) digunakan sebagai dasar untuk menyusun alat penilaian.
4. Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar, dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan (contoh: 2 x 35/40/45 menit). Karena itu, waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada kompetensi dasarnya.
• Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Output (hasil langsung) dari satu paket kegiatan pembelajaran. Sebagai contoh :
Kegiatan pembelajaran: ” Menjelaskan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara”. Maka tujuan pembelajaran, boleh salah satu atau keseluruhan tujuan pembelajaran, misalnya peserta didik dapat:
1. Menjelaskan pentingnya ideologi bagi suatu bangsa dan negara
2. Menguraikan proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara
3. Menjelaskan pengertian Pancasila sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh
Bila pembelajaran dilakukan lebih dari 1 (satu) pertemuan, ada baiknya tujuan pembelajaran juga dibedakan menurut waktu pertemuan, sehingga tiap pertemuan dapat memberikan hasil.
• Menentukan Materi Pembelajaran
Untuk memudahkan penetapan materi pembelajaran, dapat diacu dari indikator.
Contoh:
Indikator: Peserta didik dapat menjelaskan pentingnya ideologi bagi suatu bangsa dan negara.
Materi pembelajaran: Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara
• Menentukan Metode Pembelajaran
Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode, tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran, bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih.
Karena itu pada bagian ini cantumkan pendekatan pembelajaran dan metode yang diintegrasikan dalam satu kegiatan pembelajaran peserta didik:
a. Pendekatan pembelajaran yang digunakan, misalnya: pendekatan proses, kontekstual, pembelajaran langsung, pemecahan masalah, dan sebagainya.
b. Metode-metode yang digunakan, misalnya: ceramah, inkuiri, observasi, tanya jawab, kooperativ learning, e-learning dan sebagainya.
• Menetapkan Kegiatan Pembelajaran
Langkah-langkah minimal yang harus dipenuhi pada setiap unsur kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
Kegiatan pendahuluan. (10% dari Total Alokasi Waktu )
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
a. menyiapkan siswa secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;
b. mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan
dipelajari;
c. menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai;
d. menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai dengan silabus.
Kegiatan inti (eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi). (75% dari Total Alokasi Waktu)
EKSPLORASI
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
a. melibatkan siswa mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
b. menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar lain;
c. memfasilitasi terjadinya interaksi antarsiswa serta antara siswa dengan guru, lingkungan dan sumber belajar lainnya;
d. melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
e. memfasilitasi siswa melakukan percobaan di laboratorium, studio atau lapangan.
ELABORASI
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
a. membiasakan siswa membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
b. memfasilitasi siswa melalui pemberian tugas, diskusi dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis;
c. memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut;
d. memfasilitasi siswa dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif;
e. memfasilitasi siswa berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar;
f. memfasilitasi siswa membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis secara individual maupun kelompok;
g. memfasilitasi siswa untuk menyajikan hasil kerja secara individual maupun kelompok.
h. memfasilitasi siswa melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan;
i. memfasilitasi siswa melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri siswa.
KONFIRMASI
Dalam kegiatan konfirmasi, guru:
a. memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan siswa;
b. memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi siswa melalui berbagai sumber;
c. memfasilitasi siswa melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan;
d. memfasilitasi siswa untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
e. berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan siswa yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar;
f. membantu menyelesaikan masalah;
g. memberi acuan agar siswa dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi;
h. memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh; dan
i. memberikan motivasi kepada siswa yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.
Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru:
a. bersama-sama dengan siswa dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran;
b. melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
c. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
d. merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar siswa;
e. menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
f. Jawaban dibuktikan dengan melakukan observasi secara acak, hasil supervisi kepala sekolah/madrasah, dan kesesuaian RPP dengan pelaksanaan proses pembelajaran.
Catatan :
Langkah-langkah pembelajaran dimungkinkan disusun dalam bentuk seluruh rangkaian kegiatan, sesuai dengan karakteristik model pembelajaran yang dipilih, menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Oleh karena itu, kegiatan pendahuluan/pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan.
• Memilih Sumber Belajar
Pemilihan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus yang dikembangkan. Sumber belajar mencakup sumber rujukan, lingkungan, media, narasumber, alat dan bahan. Sumber belajar dituliskan secara lebih operasional, dan bisa langsung dinyatakan bahan ajar apa yang digunakan. Misalnya, sumber belajar dalam silabus dituliskan buku referensi, dalam RPP harus dicantumkan bahan ajar yang sebenarnya.
Jika menggunakan buku, maka harus ditulis judul buku teks tersebut, pengarang, dan halaman yang diacu.
Jika menggunakan bahan ajar berbasis ICT, maka harus ditulis nama file, folder penyimpanan, dan bagian atau link file yang digunakan, atau alamat website yang digunakan sebagai acuan pembelajaran.
• Menentukan Penilaian
Penilaian dijabarkan atas
a. teknik penilaian,
b. bentuk instrumen, dan
c. instrumen yang dipakai yang beris rubrik penilaian
PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN
I. PENGERTIAN MODEL PEMBELAJARAN
Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari pada strategi, metode atau prosedur pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai 4 ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode pembelajaran :
1. Rasional teoritis yang logis yang disusun oleh pendidik.
2. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai
3. Langkah-langkah mengajar yang duperlukan agar model pembelajaran dapat dilaksanakan secara optimal.
4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai.
jika digambarkan dalam diagram venn :
Keterangan :
A : model pembelajaran
B : strategi pembelajaran
C : metode pembelajaran
D : teknik mengajar
II. MACAM-MACAM MODEL PEMBELAJARAN
A. MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG
1. Pengertian Pembelajaran Langsung
Model pembelajaran langsung merupakan model pembelajaran yang lebih berpusat pada guru dan lebih mengutamakan strategi pembelajaran efektif guna memperluas informasi materi ajar.
2. Macam-Macam Pembelajaran Langsung
Adapun macam-macam pembelajaran langsung antara lain :
1 Ceramah, merupakan suatu cara penyampaian informasi dengan lisan dari seorang kepada sejumlah pendengar.
2 Praktek dan latihan, merupakan suatu teknik untuk membantu siswa agar dapat menghitung dengan cepat yaitu dengan banyak latihan dan mengerjakan soal.
3 Ekspositori, merupakan suatu cara penyampaian informasi yang mirip dengan ceramah, hanya saja frekuensi pembicara/guru lebih sedikit.
4 Demonstrasi, merupakan suatu cara penyampaian informasi yang mirip dengan ceramah dan ekspositori, hanya saja frekuensi pembicara/guru lebih sedikit dan siswa lebih banyak dilibatkan.
5 Questioner
6 Mencongak
3. Ciri-Ciri pada Pembelajaran Langsung
Model pembelajaran langsung mempunyai ciri-ciri, antara lain :
1. Proses pembelajaran didominasi oleh keaktifan guru.
2. Suasana kelas ditentukan oleh guru sebagai perancang kondisi.
3. Lebih mengutamakan keluasan materi ajar daripada proses terjadinya pembelajaran.
4. Materi ajar bersumber dari guru.
4. Tujuan Pembelajaran Langsung
Model pembelajaran langsung dikembangkan untuk mengefisienkan materi ajar agar sesuai dengan waktu yang diberikan dalam suatu periode tertentu. Dengan model ini cakupan materi ajar yang disampaikan lebih luas dibandingkan dengan model-model pembelajaran yang lain.
B. MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak¬tidaknya tiga tujuan penting pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Ibrahim, dkk, 2000:7).
Menurut Slavin (1997), pembelajaran kooperatif, merupakan model pembelajaran dengan siswa bekerja dalam kelompok yang memiliki kemampuan heterogen.
Pembelajaran kooperatif atau cooperative learning mengacu pada model pengajaran, siswa bekerja bersama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar (Nur dan Wikandari, 2000:25).
Eggen dan Kauchak (1993: 319) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai sekumpulan strategi mengajar yang digunakan guru agar siswa saling membantu dalam mempelajari sesuatu.
2. Macam-Macam Model Pembelajaran Kooperatif
Ada 4 macam model pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh Arends (2001), yaitu;
1. Student Teams Achievement Division (STAD)
2. Group Investigation
3. Jigsaw
4. Structural Approach
Sedangkan dua pendekatan lain yang dirancang untuk kelas-kelas rendah adalah;
1. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) digunakan pada pembelajaran membaca dan menulis pada tingkatan 2-8 (setingkat TK sampai SD), dan
2. Team Accelerated Instruction (TAI) digunakan pada pembelajaran matematika untuk tingkat 3-6 (setingkat TK).
Model pembelajaran kooperatif ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan (Arends, 1997: 110-111).
a. Struktur tugas mengacu pada cara pengaturan pembelajaran dan jenis kegiatan siswa dalam kelas
b. Struktur tujuan, yaitu sejumlah kebutuhan yang ingin dicapai oleh siswa dan guru pada akhir pembelajaran atau saat siswa menyelesaikan pekerjaannya. Ada tiga macam struktur tujuan, yaitu:
1 Struktur tujuan individualistik
2 Struktur tujuan kompetitif
3 Struktur tujuan kooperatif
c. Struktur penghargaan kooperatif, yaitu penghargaan yang diberikan pada kelompok jika keberhasilan kelompok sebagai akibat keberhasilan bersama anggota kelompok.
3. Ciri-Ciri dan Tahapan pada Model Kooperatif
Menurut Arends (1997: 111), pembelajaran yang menggunakan model kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menyelesaikan materi belajar,
kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah,
jika mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda,
penghargaan lebih berorientasi pada kelompok dari pada individu.
Pembelajaran kooperatif dilaksanakan mengikuti tahapan-tahapan sebagai berikut (Ibrahim, M., dkk., 2000: 10)
1 Menyampaikan tujuan pembelajaran dan perlengkapan pembelajaran.
2 Menyampaikan informasi.
3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
4 Membantu siswa belajar dan bekerja dalam kelompok.
5 Evaluasi atau memberikan umpan balik.
6 Memberikan penghargaan.
4. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak¬tidaknya tiga tujuan pembelajaran yang disarikan dalam Ibrahim, dkk (2000:7-8) sebagai berikut:
1 Meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit.
2 Penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidakmampuan. Mengajarkan untuk saling menghargai satu sama lain.
3 Mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini penting karena banyak anak muda dan orang dewasa masih kurang dalam keterampilan sosial.
5. Ketrampilan Pembelajaran Kooperatif
Melalui model ini diharapkan tidak cuma kemampuan akademik yang dimiliki siswa tetapi juga ketrampilan yang lain. Keterampilan-keterampilan itu menurut Ibrahim, dkk. (2000:47-55), antara lain:
1 Keterampilan-keterampilan Sosial
2 Keterampilan Berbagi
3 Keterampilan Berperan Serta
4 Keterampilan-keterampilan Komunikasi
5 Pembangunan Tim
6 Keterampilan-keterampilan Kelompok
C. MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH
1. Pengertian Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks (Ratumanan, 2002 : 123).
2. Macam-Macam Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Macam-macam pembelajaran berdasarkan masalah Menurut Arends (1997), antara lain :
1 Pembelajaran berdasarkan proyek (project-based instruction), pendekatan pembelajaran yang memperkenankan siswa untuk bekerja mandiri dalam mengkonstruk pembelajarannya.
2 pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience-based instruction), pendekatan pembelajaran yang memperkenankan siswa melakukan percobaan guna mendapatkan kesimpulan yang benar dan nyata.
3 belajar otentik (authentic learning), pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa mengembangkan ketrampilan berpikir dan memecahkan masalah yang penting dalam konsteks kehidupan nyata.
4 Pembelajaran bermakna (anchored instruction), pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan memberi kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
3. Ciri-Ciri dan Tahapan pada Pembelajaran Berdasarkan Masalah
ciri-ciri dari model pembelajaran berdasarkan masalah menurut Arends (2001 : 349), antara lain :
1 Pengajuan pertanyaan atau masalah.
2 Berfokus pada keterkaitan antar disiplin.
3 Penyelidikan autentik. Pembelajaran berdasarkan masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis, dan membuat ramalan, mengumpul dan menganalisa informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan.
4 Menghasilkan produk dan memamerkannya.
5 Kolaborasi. Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan ketrampilan berfikir.
Pengajaran berdasarkan masalah terdiri dari 5 langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Kelima langkah tersebut dijelaskan berdasarkan langkah-langkah berikut.
1 Tahap-1
Orientasi siswa pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan
2 Tahap-2
Mengorganisasi siswa untuk belajar
Guru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
3 Tahap-3
Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok.
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
4 Tahap-4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
5 Tahap-5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. (Sumber: Ibrahim, 2000 : 13).
4. Tujuan Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyak-banyaknya kepada siswa. Pembelajaran berdasarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual; belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi; dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim, 2000 : 7).
Menurut Sudjana manfaat khusus yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode pemecahan masalah. Tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan tugas-tugas, dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. Objek pelajaran tidak dipelajari dari buku, tetapi dari masalah yang ada di sekitarnya.
5. Peran Guru dalam Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Menurut Ibrahim (2003:15), di dalam kelas PBI, peran guru berbeda dengan kelas tradisional. Peran guru di dalam kelas PBI antara lain sebagai berikut:
1 Mengajukan masalah atau mengorientasikan siswa kepada masalah autentik, yaitu masalah kehidupan nyata sehari-hari.
2 Memfasilitasi/membimbing penyelidikan misalnya melakukan pengamatan atau melakukan eksperimen/ percobaan.
3 Memfasilitasi dialog siswa.
4 Mendukung belajar siswa.
Langganan:
Postingan (Atom)