Cari Blog Ini

Jumat, 15 Juni 2012

PENGERTIAN KETERAMPILAN MEMBACA

    Keterampilan membaca sebagai salah satu aspek dari empat aspek keterampilan berbahasa biasanya tanggung jawabnya diserahkan pada guru bahasa Indonesia. Hal itu perlu diluruskan kalau ada anggapan demikian. Setiap guru dalam mata pelajaran apa pun harus turut bertanggung jawab atas kemampuan para siswanya, sebab faktor sangat dominan  untuk menentukan keberhasilan belajar belajar siswa adalah kemauan dan kemampuan membaca yang dimiliki oleh siswa itu sendiri.
        Setiap keterampilan yang dimiliki oleh siswa itu erat sekali hubungannya dengan keterampilan lainnya dengan beraneka ragam. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya melalui suatu hubungan urutan yang teratur, mulai lingkungan keluarga sebelum masuk sekolah anak belajar menyimak dan berbicara, setelah sekolah baru belajar membaca dan menulis.
        Dari jaman ke jaman model membaca selalu dipengaruhi perkembangan peradaban manusia dan ilmu pengetahuan. Pada antara tahun 1950 an dan tahun  1960 an model membaca dipengaruhi definisi dan penjelasan membaca, pada tahun 1970 an timbul model-model dan teori membaca yang bertitik tolak dari pandangan ahli psikologi perkembangan, psikologi kognitif, proses informasi psikolinguistik, sedangan tahun 1980 an proses membaca dipengaruhi psikologi eksperimental.
        Membaca merupakan suatu keterampilan yang pemilikan keterampilannya memerlukan suatu latihan yang intensif, dan berkesinambungan (Akhmad Slamet Harjasujana,1997:103). Aktivitas dan tugas membaca merupakan hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan karena kegiatan ini akan menentukan kualitas dan keberhasilan seorang siswa sebagai peserta didik dalam studinya. Seorang guru di sekolah hendaknya dapat memberi motivasi siswa dalam dua segi, yakni kemampuan membaca. Hal ini seorang guru bahasa Indonesia perlu memilih suatu metode yang tepat untuk mencapai tujuan seperti  yang tercantum dalam  kurikulum SMA.
        Agar dapat tercapai tujuan pembelajaran tersebut guru harus dapat  menentukan metode yang dianggap lebih mudah pelaksanaannya dari metode atau alat lain misalnya dengan menggunakan metode klos.
Menurut Subyakto (1988:148), Membaca dengan cepat cenderung berpikir bahwa hanya seorang pembaca cepatlah seorang pembaca yang efektif dan efisien. Dengan demikian seorang pelajar yang membaca dengan lambat tidak dapat menyelesaikan tugasnya pada waktu yang ditentukan

PENGERTIAN METODE KLOS DALAM MEMBACA

Pengertian Metode Klos
        Klos berasal dari kata “CLOZURE” yaitu suatu istilah dari ilmu jiwa Gestalt. Hal ini seperti yang dikemukakan Wilson Taylor yang dikutip oleh Kamidjan,  bahwa: Konsep teknik klos ini menjelaskan tentang kecenderungan orang untuk menyempurnakan suatu pola yang tidak lengkap menjadi suatu kesatuan yang utuh.        ( Kamidjan, 1996:66 ).
        Berdasarkan pendapat di atas, dalam teknik klos pembaca diminta untuk memahami wacana yang tidak lengkap, karena bagian tertentu telah dihilangkan akan tetapi pemahaman pembaca tetap sempurna.
        Bagian - bagian kata yang dihilangkan itu biasanya disebut kata ke – an. Kata     ke – an itu diganti dengan tanda garis mendatar atau tanda titik-titik, karena kata ke – an bisa berupa kata benda, kata kerja, kata penghubung, dan kata lain yang dianggap penting. Tugas pembaca ialah mengisi bagian-bagian yang kosong itu sama dengan wacana aslinya.

2.2.2    Manfaat Metode Klos
Metode Klos menurut Heilman, Hittleman, dan Bartmuth (dalam Sujana,1987:144) menyatakan bahwa, teknik klos ini bukan sekedar bermanfaat untuk mengukur tingkat keterbacaan wacana, melainkan juga mengukur tingkat keterpahaman pembacanya. Melalui teknik ini kita akan mengetahui perkembangan konsep, pemahaman, pemahaman, dan pengetahuan linguistik siswa. Hal ini sangat berguna untuk menentukan tingkat instruksional yang tepat murid-muridnya.
              Berdasarkan pendapat di atas, penulis dapat menyimpulkan beberapa manfaat dari metode klos ini yaitu dapat  mengetahui  tingkat keterbacaan sebuah wacana, tingkat keterbacaan siswa, dan latar belakang pengalaman yang berupa minat, dan kemampuan bahasa siswa.

2.2.3    Kriteria Pembuatan Klos
Sujana (1997:147) menjelaskan kriteria pembuatan klos seperti dalam tabel berikut :
Tabel 2.1. Kriteria Pembuatan Klos
Karakteristik    Sebagai Alat Ukur    Sebagai Alat Ajar
1.Panjang Wacana



2. Delisi (lesapan)



3. Evaluasi





4. Tindak lanjut    Antara 250-350 perkataan dari wacana terpilih

Setiap kata ke-an hingga berjumlah lebih kurang 50 buah

Jawaban berupa kata, persis sesuai dengan kunci/teks aslinya: metode “exactwords”

    Wacana yang terdiri atas maksimal 150 perkataan


Delisi secara selektif bergantung pada kebutuhan siswa dan pertimbangan guru

Jawaban boleh berupa sinonim atau kata yang secara struktur dan makna dapat menggantikan kedudukan kata yang dihilangkan “contextual method”

Lakukanlah diskusi untuk membahas jawaban-jawaban siswa.
              
Berbagai penelitian telah memperlihatkan bukti bahwa teknik isian rumpang/teknik klos merupakan alat ukur keterbacaan yang mapan. Validitas dan reabilitas sebagai alat ukur bahasa Inggris terbukti cukup baik. Hal senada seperti Bachman (dalam Sujana 1987:148) mengatakan telah membuktikan keterhandalan teknik ini yang diperbandingkan dengan  beberapa skor dari tes baku/standar bahasa Inggris. Bahkan Stump dalam Oller dan Perksm (dalam Sujana 1987:148) lewat penelitiannya membuktikan bahwa tes isian rumpang dan dikte merupakan dua bentuk pengetesan yang mampu memprediksi skor intelegensi dan prestasi belajar. Kedua bentuk pengetesan tersebut (prosedur isian rumpang dan dikte) telah dikorelasikan dengan sebuah tes standar yakni The Large Thorndike Intelligence Test And The Low a Test Of Basic Skill (ITBS).
               Menurut Kamidjan (1996:69) kriteria penilaian tes klos di Indonesia lebih banyak menggunakan PAP (Penilaian Acuan Patokan), oleh karena itu lebih sesuai jika menggunakan kriteria Earl F. Rankin da Yoseph Cullhene sebagai berikut :
Pembaca berada dalam tingkat independen, jika persentase skor tes uji rumpang yang diperolehnya di atas 60 %, pembaca berada dalam tingkat instruksional, jika prosentase skor tes uji rumpang yang diperolehnya berkisar antara 41 % - 60 %, dan pembaca berada dalam tingkat frustasi atau gagal, jika prosentase skor tes uji rumpang yang diperolehnya sama dengan atau kurang dari 40 .

PEMBELAJARAN MEMBACA BAIK

    Berdasarkan pengalaman peneliti pembelajaran membaca baik yang dialami sendiri maupun yang diketahui selama ini, model pembelajarannya selalu mengacu pada apa yang ada pada buku paket. Teknik pengajaran membaca yang ada umumnya membaca pemahaman. Banyak teknik pengajaran yang selama ini tidak dipergunakan untuk melatih keterampilan membaca. Teknik-teknik itu antara lain teknik uji rumpang. Kenyataan yang terjadi di samping kemampuan dan keterampilan yang kurang pada siswa, pengajaran membaca selalu mengacu pada teknik yang ada pada buku tersebut. Dengan demikian para siswa beranggapan pengajaran membaca tujuannya semata-mata menjawab pertanyaan, mencari kata istilah yang sulit dan lain-lain. Hal ini dihadapi para siswa dengan proses yang amat lain.
        Perihal lain yang selalu muncul pada pembelajaran membaca yaitu guru Bahasa Indonesia pada umumnya hanya mengutamakan penyelesaian target materi dalam kurikulum yang orientasinya mengacu pada usaha meningkatkan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal, walaupun hal ini tidak selalu benar sebab soal-soal sering  kurang mengacu pada keterampilan berbahasa baik keterampilan menyimak, berbicara,membaca, maupun menulis.
        Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah kurangnya guru Bahasa Indonesia memahami dan menguasai teknik pengajaran membaca. Belum lagi memilih bahan bacaan yang seharusnya dalam pengajaran membaca guru dituntut mampu memilih bahan bacaan yang sesuai dengan tujuan dan tingkat perkembangan siswa, kompetensi siswa, minat dan tingkat kecakapan baca.
        Peneliti berusaha mengungkap kecepatan efektif membaca ( KEM ) siswa, karena penulis sangat prihatin dengan KEM siswa di negara kita. Kalau di negara-negara maju seperti Amerika, seorang setara SMA di negara kita (Senior High School) dalam keadaan normal sudah memiliki kecepatan membaca minimal kurang lebih 250 kata permenit, dengan pemahaman isi bacaan minimal 70 %. Jika dihitung kecepatan efektif membacanya (KEM) = 250 kpm x 70 % = 175 kpm. (Harjasujana,200:88). Kalau di Amerika siswa setingkat SMA memiliki KEM terendah ± 175 kpm, maka di Indonesia masih tidak sedikit siswa SMA KEM tertinggi ± 175 kpm. Dari pengalaman peneliti membelajarkan siswa kelas XI IPA 2 SMAN ....................., ternyata hal tersebut di atas juga terjadi. Dengan KEM ± 175 kpm, lalu bagaimana bisa menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang diharapkan melalui berbagai media cetak dalam waktu yang relatif singkat.
        Berdasarkan uraian singkat di atas, peneliti mengambil tindakan, yaitu “Meningkatkan Kecepatan Efektif  Membaca Dengan Menggunakan Metode Klos Siswa Kelas XI  IPA  2  SMAN .....................”.
Peneliti memilih metode klos untuk meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) karena metode klos dapat dipakai untuk mengukur tingkat keterbacaan sebuah wacana dan untuk melatih keterampilan dan kemampuan membaca

KECEPATAN EFEKTIF MEMBACA

Kata-kata kunci : Bahasa Indonesia, Kecepatan Efektif Membaca (KEM), dan Metode Klos

        Kecepatan efektif membaca mempunyai peranan yang sangat penting, karena dengan membaca cepat dan kemampuan memahami bacaan yang berkualitas seseorang bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
        Kebiasaan membaca bahasa Indonesia yang kurang baik berdampak negatif pada tingkat keterbacaan seseorang atau seorang siswa. Untuk mengatasi hal tersebut sangat dibutuhkan usaha dan kreatifitas guru. Penerapan metode Klos dalam pembelajaran membaca merupakan salah satu upaya memecahkan masalah tersebut. Tujuan penelitian tindakan kelas ini yaitu untuk meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) dengan menggunakan metode klos siswa kelas XI IPA SMA Negeri ...................
        Penelitian tindakan kelas ini mengambil setting di SMA Negeri ...................... kelas XI IPA 2, dengan jumlah siswa 40 siswa. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan melalui tiga siklus. Sebelum siklus I dilaksanakan perlu adanya pra tindakan yaitu identifikasi tentang metode klos dan Kecepatan Efektif Membaca (KEM), kemudian dilaksanakan siklus I sebagai penerapan metode klos, siklus II sebagai implementasi pelaksanaan metode klos, dan siklus III sebagai tahap pemantapan. Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif yaitu digunakan terhadap data kualitatif yang diperoleh dari hasil pengamatan siswa dan guru selama berlangsungnya pembelajaran di kelas, dan analisis kuantitatif yang digunakan terhadap hasil tes Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa dengan menggunakan metode klos.
        Hasil penelitian pada siklus I tingkat keterbacaannya masih rendah, karena kecepatan efektif membaca rata-rata 87 kpm dengan tingkat Independen 18 %, tingkat Instruktional 38 % dan pada frustasi 44 %.
        Pada siklus II hasil penelitian mengalami perubahan positif yaitu kecepatan efektif membaca rata-rata 150 kpm dengan tingkat Independen 78 %, tingkat Instruksional 18 %, dan tingkat frustasi 4 %.
        Hasil penelitian pada siklus III mengalami pemantapan yaitu rata-rata Kecepatan Efektif Membaca (KEM) 210 kpm dengan tingkat independen 100 %.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa aktivitas pembelajaran membaca cepat dengan menggunakan metode klos dapat meningkatkan Kecepatan Efektif Membaca (KEM) siswa.

JENIS-JENIS VERBA TRANSITIF

Verba Transitif
Bila sebuah kata kerja menghendaki, sebuah kata yang berfungsi sebagai obyek , kata kerja tersebut disebut kata kerja transitif atau verba transitif, seperti memukul, mendapat, mengambil dan melempar. Kata kerja transitif dapat berbeda-beda lagi atas beberapa hal berikut ini.
a.    Monotransitif / Ekatransitif
Kata kerja mono transitif/ ekatransitif adalah kata kerja yang menhendaki sebuah obyek, misalnya : membawa, membeli, mengairi dan mendinginkan. Contoh dalam kalimat.
La membeli sebuah buku baru
Ia memburu adiknya ke rumah sakit
Petani mengairi sawahnya
b.    Bitransitif /Dwitransitif
Kata kerja bitransitif atau dwitransitif adalah kata kerja transitif yang menghendaki dua buah obyek kata kerja transitif semacam ini disebut juga kata kerja transitif ganda, misalnya : membelikan, menuliskan, menulis, menganugerahkan, menganugerahi, menghadiahkan, membawakan, mengirimi, menyerahi.
Contohnya dalam kalimat :
Ayah menghadiahkan sebuah buku kepada saya
Ayah menghadiahi saya sebuah buku
Pemerintah menganugerahkan bintang kehormatan ke padaku
Pemerintah menganugerahi saya bintang kehormatan.

Seperti tampak dalam contoh-contoh di atas, kata kerja yang mengandung dua macam obyek, yaitu obyek langsung dan obyek tidak langsung. Kata kerja mengandung me-N-Kan menempatkan barang seperti obyek langsung, sedangkan orang sebagai obyek tak langsung , yaitu sebagai pelengkap benelakut (yang mendapat atau memperoleh barang yang disebut dalam obyek langsung). Sebaliknya, kata kerja dengan me-N-i menempatkan orang sebagai obyek tak langsung. Perbedaan lain adalah kata kerja dengan me-N-Kan menghendaki kata perangkai untuk, bagi, dan kepadanya sebagai penanda yang tak langsung, sedangkan kata kerja dengan me-N-i tidak menghendaki kata perangkai. Teori tersebut di atas (diagram pohon) tidak berbeda dengan teknik analisa data dalam penelitian ini yang menggunakan metode Top Down (menurun) dan botton up (menaik) (Djajasudarma, 1993 :6).
Urutan-urutan penanda verba seperti dinyatakan di atas perlu diperhatikan sebab prefiks atau infiks secara wajib memang diperlukan untuk menurunkan verba.
Setiap verba transitif mengenal sejumlah bentuk yang berbeda-beda makna dan ciri semantisnya. Analisa dengan menggunakan diagram pohon tersebut. Secara rinci dan lebih khusus menguraikan fungsi masing-masing frase dan memberi ciri positif posisi masing-masing.  Verba Turunan dan Proses Penurunanya
Verba turunan adalah verba yang sudah mengalami afikasi, reduplikasi pada kata atau kelompok kata. Dengan demikian, kita peroleh verba seperti (a) mengondi ‘mengunci’ pelaika’ buatlah rumah’lakoako ‘ pergi dengan satu maksud’ (b) meori-orikee’ memanggil berkali-kali’ mosu-susua ‘menyanyi sekedarnya’ metutu-tutura ‘berbicara terus menerus’ (c) mate modandi ‘berjanji sampai mati’ lakonggare’ berjalan kaki’ mate modola ‘melihat sampai mati’
Ada tiga afiks yang dipakai untuk menurunkan verba , yaitu prafiks, infiks dan sufiks. Prefiks adalah afiks yang diletakan di muka dasar, infiks ditempatkan di tengah dasar, dan sufiks ditempatkan di akhir dasar kata.
Ada pula verba turunan yang dibentuk dengan menambahkan afiks apit, yaitu gabunagan prefiks yang mengapit dasar kata, tetapi gabungan itu tidak membentuk satu kesatuan (konfiks). Afiks apit mo- dan ako pada verba turunan , momoneako’ memanjatkan ‘ tidak secara serentak ditempatkan pada verba dasar mone ‘panjat’ tetapi sufiks –ako dahulu kemudian prefiks mo-. Disamping itu, ada pula gabungan infiks dan sufiks yang juga tidak membentuk satu kokesatuan(konfiks). Afiks-in-dan –ako pada verba turunan, misalnya hinunuako’dibakarkan’ dahulu menjadi hinunu ‘ dibakar’ kemudian dengan sufiks-ako (Sailan et al 1995 : 58).

CONTOH INFORMASI YANG BERUPA SARAN

informasi yang berupa saran


                            Kenaikan Haraga BBM dan Kemiskinan
Sebagai peneliti yang melakukan kajian tentang kenaikan harga BBM termasuk kemiskinan, saya sebetulnya merasa sangat gembira melihat begitu banyaknya tanggapan terhadap studi ini tetapi saya ikut sedih melihat kebanyakan tanggapan tidak diikuti dengan analisis yang menggunakan metodologi yang memadai umumnya tanggapan ini lebih disebabkan oleh sangkaan yang tidak mendasar sehingga seolah-olah riset ini dilakukan secara parsial tanpa melkihat kelompok lain yang kurang jelas.
Mari saya sedikit jelaskan bagaimana sejarah penelitian ini. Penelitian ini dimulai sejak tahun 2000 pada saat LPEM diminta baik oleh Kantor Menko Perekonomian (Pak Kwik Kian Gie masih menjadi Menko) dan Departemen ESDM (Pak Presiden SBY waktu itu menjadi menterinya) menyiapkan kajian tentang dampak makro BBM. Kajian dimulai dari sekedar analisis sangat sederhana dengan melihat pwerbedaan harga domestic dan luar negeri dan distribusi penerima subsidi BBM. Kebetulan saya pribasdi sejak tahun 1992 melaqkukan riset individual melihat dampak regresif dari harga BBM. K
Karena harga BBM dinaikkan setiap tahun (2001 dan 2002) maka LPEM diminta melanjutkan proses ini masuk melakukan sosialisasi dibeberapa daerah di Indonesia tenatng dampak BBM. Metode penelitian pun disempurnakan setelah mendapatkan feedback dari pertanyaan daerah saat kami melakukan sosialisasi termasuk dalam melihat dampaknya terhadap rumah tangga khususnya rumah tangga miskin.
                                                      Sumber : Pasific Link, 23 Agustus 2007) 


      

PENGERTIAN VERBA DAN JENIS-JENIS VERBA

Verba
Verba atau kata kerja biasanya dibatasi dengan kata-kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan. Namun batasan ini masih kabur karena tidak mencakup kata-kata seperti tidur dan meninggal yang dikenal sebagai kata kerja tetapi tidak menyatakan perbuatan atau tindakan sehingga verba disempurnakan dengan menambah kata-kata yang menyatakan gerak badan ..., atau terjadinya sesuatu sehingga batasan itu menjadi kata kerja adalah kata-kata yang menyatakan perbuatan, tindakan, proses, gerak, keadaan dan terjadinya sesuatu (Keraf, 1991 :72).
Sedangkan menurut Sudaryanto (1991 : 6) yang dimaksud dengan verba adalah kata yang menyatakan perbuatan, dapat dinyatakan dengan modus perintah, dan bervalensi dengan aspek keberlangsungan yang dinyatakan dengan kata ‘lagi’ (sedang).
Seperti halnya dengan kata benda untuk menentukan apakah sebuah kata adalah kata kerja(verba) atau tidak, kita mengikuti dua prosedur, penetapan dengan kriteria praseologi (Keraf, 1991 : 13).
Sebagai salah satu kelas kata dalam tuturan kebangsaan verba mempunyai frengkuensi yang tinggi pemakaiannya dalam suatu kalimat. Selain itu, verba mempunyai pengaruh yang besar terhadap penyusunan kalimat. Perubahan struktur pada kalimat  sebagian besar ditentukan oleh perubahan bentuk verba.
Pendapat lain, dikemukakan oleh Harimurti Kridalaksana (1993: 226) menyatakan bahwa verba adalah kelas kata yang biasanya berfungsi sebagai predikat dalam beberapa bahasa lain verba mempunyai ciri morfologis seperti kata, aspek, dan pesona atau jumlah. Sebagian verba memiliki unsur semantis perbuatan, keadaan dan proses, kelas kata dalam bahasa Indonesia ditandai dengan kemungkinan untuk diawali dengan kata tidak  dan tidak mungkin diawali dengan kata seperti sangat, lebih, dan sebagainya.
Selanjutnya pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Mess (1992:4) yang berhubungan dengan pengertian verba atau kata kerja. Beliau mengatakan : sesuai dengan namanya, kata kerja pada umumnya menyatakan suatu pekerjaan, perbuatan atau gerak. Ciri-ciri fisik lain yang ditampakan secara tradisional adalah kemungkinan menduduki fungsi predikat oleh sebuah kalimat verba. Ciri-ciri fisik yang paling menonjol adalah kemampuan menduduki posisi memerintah(imperatif) secara langsung.
Untuk memberikan uraian yang lebih jauh tentang  kontruksi verba transitif bahasa Tolaki secara khusus perlu diberikan perhatian terhadap verba transitif ( kata kerja yang memerlukan obyek). Verba adalah salah satu kategori kata yang memegang peranan penting dalam proses (keaktifan) berbahasa. Verba mempunyai frengkuensi yang tinggi dan sangat berpengaruh pada penyusunan kalimat. Perubahan struktur kalimat dalam proses berbahasa sebagian besar ditentukan oleh perubahan bentuk morfologi verbanya.
‘VO” adalah lambang yang mengingatkan pada kata ‘verba’ dan ‘obyek’ lambang dan istilah itu sering digunakan oleh para ahli pengkajian semestaan bahasa dan tipologi bahasa. Bahasa “VO” adalah bahasa yang predikatnya secara tegas terdapat di sebelah depan obyeknya. Hala itu tentu saja dengan ketentuan predikat itu berupa verba transitif yang memang secara universal dimiliki ileh bahasa-bahasa di dunia (Sudayanto, 1990).
Secara umum selalu berkedudukan sebagai predikat dalam pembentukan kalimat. Hal ini tidak terlepas pula pada tipe verba transitif pada khususnya.
2.4 Bentuk Verba
Yang dimaksud dengan verba dalam hubungan ini adalah penampakan atau rupa satuan fungsi atau satuan gramatikal verba. Berangkat dari pengertian bahwa kata merupakan “ hasil akhir dari proses morfemis “ dan merupakan “ satuan-satuan terkecil sesudah sebuah kalimat dibagi atas bagian-bagian, yang mengandung ide “(Keraf, 1970:5), boleh dikatakan bahwa kata dapat membentuk “monomorfemis “dan polimorfemis” (Vehaar) atau “kata tunggal”dan kata kompleks”(Ramlan, dalam Saleh 1988 : 8).
Istilah monomorfemis dan polimorfemis jelas didasarkan pada kriteria jumlah morfem yang mendukung suatu kata. Kata yang terdiri atas satuan morfem disebut monomorfemis atau kata tunggal dan kata yang terdiri atas dua morfem atau lebih disebut polimorfemis atau kata komleks.
Berdasarkan pembentukannya dapat dibedakan atas dua bentuk yaitu verba asal/pangkal/dasar dan turunan. Verbal asal dasar adalah verba dasar yang belum mendapat tambahan afiks, tetapi terdiri dan memiliki makna independen. Sedangkan verba turunan sudah mendapat tambahan afiks.
Dalam pembentukan verba turunan terdapat dua jenis afiks, masing-masing bersifat infleksional dan derivasional distribusi berbeda dengan kata dasarnya.
Contoh :
1.    Golu ‘bola’(nomina) -------megolu’bermain bola’(verba transitif)
Inaku megolu
‘saya bermain bola’
2.    Owose ‘besar’(adj)-------mombokoowose’memperbesar’ (verba transitif)
I ama mombokoowose laika
‘Ayah memperbesar rumah’

2.5    Ciri-Ciri Verba
Pembagian verba dilakukan dengan mengamati (1) bentuk morfologis, (2) perilaku sintaksis dan (3) perilaku semantisnya secara menyeluruh dalam kalimat sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka penelitian ini hanya menguraikan verba berdasarkan bentuk-bentuk verbanya, proses merfofonemis serta pengimbuhan secara umum, peneliti mengacu pada pembagian verba yang dikemukakan oleh Chafe (1970:98), yang mengatakan bahwa : berdasarkan ciri-ciri semantisnya verba terdiri atas (1) verba keadaan, ialah verba yang menyatakan suatu keadaan, dan (2) ciri umum verba bahasa Tolaki adalah berfungsi utama P, dan sebagai P verba cenderung di dampingi ileh fungsi yang ditempatioleh jenis kata lain (biasanya nomina). Jadi dalam kalimat iniro moiso ‘ mereka tidur’ dapat ditentukan iniro’mereka’ bukanlah verba dan bukan pula P, yang verba dan P adalah moiso ‘tidur’. (Sailan et al 1995 : 55). Proses, ialah verba menyatakan proses-proses, dan (30 verba aksi, ialah verba yang menyatakan suatu aksi.
Berdasarkan pengertian verba di atas secara umum verba dapat diidentifikasikan dan dibedakan dari kelas kata yang lain. Hal itu dapat dilihat dari ciri-ciri verba atau tanda-tanda formal yang menyebabkan suatu kata dianggap termaksud dalam kategori verba.
Selaras dengan pengertian di atas, Moeliono et al, (1992 :76) menguraikan ciri-ciri verba sebagai berikut (1) berfungsi utama sebagai predikat atau sebagai ciri predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain, (2) verba mengandung dasar perbuatan (aksi proses atau keadaan yang bukan bersifat kualitas), dan (3) verba khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks-ter, yang berarti paling.
Dilihat dari hubungan verba dan nomina transitif dapat dibagi atas dua, yakni verba aktif dan verba pasif. Verba aktif adalah verba yang subyeknya berperan sebagai pelaku dan penanggap peristiwa, sedangkan verba pasif adalah verba yang subyeknya berperan sebagai penderita, sasaran atau hasil. Hal tersebut dapat dilihat dalam contoh-contoh sebagai berikut :
1.a I Ali Mombowehi I Herlina o bunga
‘ Ali memberi Herlina Bunga
1.b Herlina pinowehi o bunga
‘Herlina diberinya bunga’
Kalimat (1a) adalah verba aktif dan kalimat (1b) adalah verba pasif peristiwa yang diberikan dalam kalimat (1 a ) dan (1 b ) pada dasarnya sama. Hanya sudut pandangnya yang berbeda, yakni pada (1 a ) melihat dari sudut “ pelaku “ peristiwa.sendangkan ( 1b ) dari sudut maujud yang di kenal oleh peristiwa itu. Dalam kedua kalimat tersebut, ‘bunga ‘ menyatakan maujud yang tempatnya dalam konstruksi itu dapat di ubah dan dari segi makna verba harus hadir sehingga disebut  pelengkap atau obyek langsung (Sidu, dkk, 1995: 14).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulakan bahwa dilihat dari hubungan verba dan nomina verba transitif dapat dibagi dua, yakni verba aktif dan verba pasif.