Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 15 Juni 2012

JENIS-JENIS VERBA TRANSITIF

Verba Transitif
Bila sebuah kata kerja menghendaki, sebuah kata yang berfungsi sebagai obyek , kata kerja tersebut disebut kata kerja transitif atau verba transitif, seperti memukul, mendapat, mengambil dan melempar. Kata kerja transitif dapat berbeda-beda lagi atas beberapa hal berikut ini.
a.    Monotransitif / Ekatransitif
Kata kerja mono transitif/ ekatransitif adalah kata kerja yang menhendaki sebuah obyek, misalnya : membawa, membeli, mengairi dan mendinginkan. Contoh dalam kalimat.
La membeli sebuah buku baru
Ia memburu adiknya ke rumah sakit
Petani mengairi sawahnya
b.    Bitransitif /Dwitransitif
Kata kerja bitransitif atau dwitransitif adalah kata kerja transitif yang menghendaki dua buah obyek kata kerja transitif semacam ini disebut juga kata kerja transitif ganda, misalnya : membelikan, menuliskan, menulis, menganugerahkan, menganugerahi, menghadiahkan, membawakan, mengirimi, menyerahi.
Contohnya dalam kalimat :
Ayah menghadiahkan sebuah buku kepada saya
Ayah menghadiahi saya sebuah buku
Pemerintah menganugerahkan bintang kehormatan ke padaku
Pemerintah menganugerahi saya bintang kehormatan.

Seperti tampak dalam contoh-contoh di atas, kata kerja yang mengandung dua macam obyek, yaitu obyek langsung dan obyek tidak langsung. Kata kerja mengandung me-N-Kan menempatkan barang seperti obyek langsung, sedangkan orang sebagai obyek tak langsung , yaitu sebagai pelengkap benelakut (yang mendapat atau memperoleh barang yang disebut dalam obyek langsung). Sebaliknya, kata kerja dengan me-N-i menempatkan orang sebagai obyek tak langsung. Perbedaan lain adalah kata kerja dengan me-N-Kan menghendaki kata perangkai untuk, bagi, dan kepadanya sebagai penanda yang tak langsung, sedangkan kata kerja dengan me-N-i tidak menghendaki kata perangkai. Teori tersebut di atas (diagram pohon) tidak berbeda dengan teknik analisa data dalam penelitian ini yang menggunakan metode Top Down (menurun) dan botton up (menaik) (Djajasudarma, 1993 :6).
Urutan-urutan penanda verba seperti dinyatakan di atas perlu diperhatikan sebab prefiks atau infiks secara wajib memang diperlukan untuk menurunkan verba.
Setiap verba transitif mengenal sejumlah bentuk yang berbeda-beda makna dan ciri semantisnya. Analisa dengan menggunakan diagram pohon tersebut. Secara rinci dan lebih khusus menguraikan fungsi masing-masing frase dan memberi ciri positif posisi masing-masing.  Verba Turunan dan Proses Penurunanya
Verba turunan adalah verba yang sudah mengalami afikasi, reduplikasi pada kata atau kelompok kata. Dengan demikian, kita peroleh verba seperti (a) mengondi ‘mengunci’ pelaika’ buatlah rumah’lakoako ‘ pergi dengan satu maksud’ (b) meori-orikee’ memanggil berkali-kali’ mosu-susua ‘menyanyi sekedarnya’ metutu-tutura ‘berbicara terus menerus’ (c) mate modandi ‘berjanji sampai mati’ lakonggare’ berjalan kaki’ mate modola ‘melihat sampai mati’
Ada tiga afiks yang dipakai untuk menurunkan verba , yaitu prafiks, infiks dan sufiks. Prefiks adalah afiks yang diletakan di muka dasar, infiks ditempatkan di tengah dasar, dan sufiks ditempatkan di akhir dasar kata.
Ada pula verba turunan yang dibentuk dengan menambahkan afiks apit, yaitu gabunagan prefiks yang mengapit dasar kata, tetapi gabungan itu tidak membentuk satu kesatuan (konfiks). Afiks apit mo- dan ako pada verba turunan , momoneako’ memanjatkan ‘ tidak secara serentak ditempatkan pada verba dasar mone ‘panjat’ tetapi sufiks –ako dahulu kemudian prefiks mo-. Disamping itu, ada pula gabungan infiks dan sufiks yang juga tidak membentuk satu kokesatuan(konfiks). Afiks-in-dan –ako pada verba turunan, misalnya hinunuako’dibakarkan’ dahulu menjadi hinunu ‘ dibakar’ kemudian dengan sufiks-ako (Sailan et al 1995 : 58).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar