Cari Blog Ini

Memuat...

Jumat, 15 Juni 2012

PENGERTIAN VERBA DAN JENIS-JENIS VERBA

Verba
Verba atau kata kerja biasanya dibatasi dengan kata-kata yang menyatakan perbuatan atau tindakan. Namun batasan ini masih kabur karena tidak mencakup kata-kata seperti tidur dan meninggal yang dikenal sebagai kata kerja tetapi tidak menyatakan perbuatan atau tindakan sehingga verba disempurnakan dengan menambah kata-kata yang menyatakan gerak badan ..., atau terjadinya sesuatu sehingga batasan itu menjadi kata kerja adalah kata-kata yang menyatakan perbuatan, tindakan, proses, gerak, keadaan dan terjadinya sesuatu (Keraf, 1991 :72).
Sedangkan menurut Sudaryanto (1991 : 6) yang dimaksud dengan verba adalah kata yang menyatakan perbuatan, dapat dinyatakan dengan modus perintah, dan bervalensi dengan aspek keberlangsungan yang dinyatakan dengan kata ‘lagi’ (sedang).
Seperti halnya dengan kata benda untuk menentukan apakah sebuah kata adalah kata kerja(verba) atau tidak, kita mengikuti dua prosedur, penetapan dengan kriteria praseologi (Keraf, 1991 : 13).
Sebagai salah satu kelas kata dalam tuturan kebangsaan verba mempunyai frengkuensi yang tinggi pemakaiannya dalam suatu kalimat. Selain itu, verba mempunyai pengaruh yang besar terhadap penyusunan kalimat. Perubahan struktur pada kalimat  sebagian besar ditentukan oleh perubahan bentuk verba.
Pendapat lain, dikemukakan oleh Harimurti Kridalaksana (1993: 226) menyatakan bahwa verba adalah kelas kata yang biasanya berfungsi sebagai predikat dalam beberapa bahasa lain verba mempunyai ciri morfologis seperti kata, aspek, dan pesona atau jumlah. Sebagian verba memiliki unsur semantis perbuatan, keadaan dan proses, kelas kata dalam bahasa Indonesia ditandai dengan kemungkinan untuk diawali dengan kata tidak  dan tidak mungkin diawali dengan kata seperti sangat, lebih, dan sebagainya.
Selanjutnya pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Mess (1992:4) yang berhubungan dengan pengertian verba atau kata kerja. Beliau mengatakan : sesuai dengan namanya, kata kerja pada umumnya menyatakan suatu pekerjaan, perbuatan atau gerak. Ciri-ciri fisik lain yang ditampakan secara tradisional adalah kemungkinan menduduki fungsi predikat oleh sebuah kalimat verba. Ciri-ciri fisik yang paling menonjol adalah kemampuan menduduki posisi memerintah(imperatif) secara langsung.
Untuk memberikan uraian yang lebih jauh tentang  kontruksi verba transitif bahasa Tolaki secara khusus perlu diberikan perhatian terhadap verba transitif ( kata kerja yang memerlukan obyek). Verba adalah salah satu kategori kata yang memegang peranan penting dalam proses (keaktifan) berbahasa. Verba mempunyai frengkuensi yang tinggi dan sangat berpengaruh pada penyusunan kalimat. Perubahan struktur kalimat dalam proses berbahasa sebagian besar ditentukan oleh perubahan bentuk morfologi verbanya.
‘VO” adalah lambang yang mengingatkan pada kata ‘verba’ dan ‘obyek’ lambang dan istilah itu sering digunakan oleh para ahli pengkajian semestaan bahasa dan tipologi bahasa. Bahasa “VO” adalah bahasa yang predikatnya secara tegas terdapat di sebelah depan obyeknya. Hala itu tentu saja dengan ketentuan predikat itu berupa verba transitif yang memang secara universal dimiliki ileh bahasa-bahasa di dunia (Sudayanto, 1990).
Secara umum selalu berkedudukan sebagai predikat dalam pembentukan kalimat. Hal ini tidak terlepas pula pada tipe verba transitif pada khususnya.
2.4 Bentuk Verba
Yang dimaksud dengan verba dalam hubungan ini adalah penampakan atau rupa satuan fungsi atau satuan gramatikal verba. Berangkat dari pengertian bahwa kata merupakan “ hasil akhir dari proses morfemis “ dan merupakan “ satuan-satuan terkecil sesudah sebuah kalimat dibagi atas bagian-bagian, yang mengandung ide “(Keraf, 1970:5), boleh dikatakan bahwa kata dapat membentuk “monomorfemis “dan polimorfemis” (Vehaar) atau “kata tunggal”dan kata kompleks”(Ramlan, dalam Saleh 1988 : 8).
Istilah monomorfemis dan polimorfemis jelas didasarkan pada kriteria jumlah morfem yang mendukung suatu kata. Kata yang terdiri atas satuan morfem disebut monomorfemis atau kata tunggal dan kata yang terdiri atas dua morfem atau lebih disebut polimorfemis atau kata komleks.
Berdasarkan pembentukannya dapat dibedakan atas dua bentuk yaitu verba asal/pangkal/dasar dan turunan. Verbal asal dasar adalah verba dasar yang belum mendapat tambahan afiks, tetapi terdiri dan memiliki makna independen. Sedangkan verba turunan sudah mendapat tambahan afiks.
Dalam pembentukan verba turunan terdapat dua jenis afiks, masing-masing bersifat infleksional dan derivasional distribusi berbeda dengan kata dasarnya.
Contoh :
1.    Golu ‘bola’(nomina) -------megolu’bermain bola’(verba transitif)
Inaku megolu
‘saya bermain bola’
2.    Owose ‘besar’(adj)-------mombokoowose’memperbesar’ (verba transitif)
I ama mombokoowose laika
‘Ayah memperbesar rumah’

2.5    Ciri-Ciri Verba
Pembagian verba dilakukan dengan mengamati (1) bentuk morfologis, (2) perilaku sintaksis dan (3) perilaku semantisnya secara menyeluruh dalam kalimat sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka penelitian ini hanya menguraikan verba berdasarkan bentuk-bentuk verbanya, proses merfofonemis serta pengimbuhan secara umum, peneliti mengacu pada pembagian verba yang dikemukakan oleh Chafe (1970:98), yang mengatakan bahwa : berdasarkan ciri-ciri semantisnya verba terdiri atas (1) verba keadaan, ialah verba yang menyatakan suatu keadaan, dan (2) ciri umum verba bahasa Tolaki adalah berfungsi utama P, dan sebagai P verba cenderung di dampingi ileh fungsi yang ditempatioleh jenis kata lain (biasanya nomina). Jadi dalam kalimat iniro moiso ‘ mereka tidur’ dapat ditentukan iniro’mereka’ bukanlah verba dan bukan pula P, yang verba dan P adalah moiso ‘tidur’. (Sailan et al 1995 : 55). Proses, ialah verba menyatakan proses-proses, dan (30 verba aksi, ialah verba yang menyatakan suatu aksi.
Berdasarkan pengertian verba di atas secara umum verba dapat diidentifikasikan dan dibedakan dari kelas kata yang lain. Hal itu dapat dilihat dari ciri-ciri verba atau tanda-tanda formal yang menyebabkan suatu kata dianggap termaksud dalam kategori verba.
Selaras dengan pengertian di atas, Moeliono et al, (1992 :76) menguraikan ciri-ciri verba sebagai berikut (1) berfungsi utama sebagai predikat atau sebagai ciri predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain, (2) verba mengandung dasar perbuatan (aksi proses atau keadaan yang bukan bersifat kualitas), dan (3) verba khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks-ter, yang berarti paling.
Dilihat dari hubungan verba dan nomina transitif dapat dibagi atas dua, yakni verba aktif dan verba pasif. Verba aktif adalah verba yang subyeknya berperan sebagai pelaku dan penanggap peristiwa, sedangkan verba pasif adalah verba yang subyeknya berperan sebagai penderita, sasaran atau hasil. Hal tersebut dapat dilihat dalam contoh-contoh sebagai berikut :
1.a I Ali Mombowehi I Herlina o bunga
‘ Ali memberi Herlina Bunga
1.b Herlina pinowehi o bunga
‘Herlina diberinya bunga’
Kalimat (1a) adalah verba aktif dan kalimat (1b) adalah verba pasif peristiwa yang diberikan dalam kalimat (1 a ) dan (1 b ) pada dasarnya sama. Hanya sudut pandangnya yang berbeda, yakni pada (1 a ) melihat dari sudut “ pelaku “ peristiwa.sendangkan ( 1b ) dari sudut maujud yang di kenal oleh peristiwa itu. Dalam kedua kalimat tersebut, ‘bunga ‘ menyatakan maujud yang tempatnya dalam konstruksi itu dapat di ubah dan dari segi makna verba harus hadir sehingga disebut  pelengkap atau obyek langsung (Sidu, dkk, 1995: 14).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulakan bahwa dilihat dari hubungan verba dan nomina verba transitif dapat dibagi dua, yakni verba aktif dan verba pasif.

1 komentar: